Tampilkan postingan dengan label Matematika Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Matematika Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Maret 2019

PENERAPAN KALKULUS DIFFEREN : FUNGSI DENGAN VARIABLE BEBAS


Pertemuan 11

BAB XI
PENERAPAN KALKULUS DIFFEREN : FUNGSI DENGAN VARIABLE BEBAS

A. Definisi Elastisitas
                Elastisitas (pemuluran) adalah pengaruh perubahan harga terhadap jumlah barang yang diminta atau yang ditawarkan. Dengan kata lain elastisitas adalah tingkat kepekaan (perubahan) suatu gejala ekonomi terhadap perubahan gejala ekonomi yang lain.Elastisitas terbagi dalam tiga macam, yaitu sebagai berikut.
a. Elastisitas harga (price elasticity) yaitu persentase perubahan jumlah barang yang diminta atau yang ditawarkan, yang disebabkan oleh persentase perubahan harga barang tersebut.
b. Elastisitas silang (cross elasticity) adalah persentase perubahan jumlah barang x yang diminta, yang disebabkan oleh persentase perubahan harga barang lain (y).
c. Elastisitas pendapatan (income elasticity) yaitu persentase perubahan permintaan akan suatu barang yang diakibatkan oleh persentase perubahan pendapatan (income) riil konsumen.
B. Elastisitas Permintaan
                Elastisitas permintaan (elasticity of demand) adalah pengaruh perubahan harga terhadap besar kecilnya jumlah barang yang diminta atau tingkat kepekaan perubahan jumlah barang yang diminta terhadap perubahan harga barang. Sedangkan besar kecilnya perubahan tersebut dinyatakan dalam koefisien elastisitas atau angka elastisitas yang disingkat E, yang dinyatakan dengan rumus berikut ini.
Keterangan:
                                ΔQ : perubahan jumlah permintaan
                                ΔP : perubahan harga barang
                                P : harga mula-mula
                                Q : jumlah permintaan mula-mula
                                Ed : elastisitas permintaa
Contoh:
Pada saat harga Rp400,00 jumlah barang yang diminta 30 unit, kemudian harga turun menjadi Rp360,00 jumlah barang yang diminta 60 unit. Hitunglah besar koefisien elastisitasnya!
Jawab:
a. Macam-Macam Elastisitas Permintaan
Elastisitas permintaan terdiri atas lima macam.
Keterangan:
                % ΔQd = Persentase perubahan jumlah barang yang diminta
                % ΔPd = Persentase perubahan harga barang
b. Kurva Elastisitas Permintaan
Kurva Elastisitas Permintaan
c. Menghitung Elastisitas Permintaan secara Matematis
Dari rumus elastistas:
menunjukkan, bahwa:
adalah turunan pertama dari Q atau Q1.
Contoh 1:
                Fungsi permintaan suatu barang ditunjukkan oleh persamaan Q = 50 – -P. Tentukan besar elastisitas permintaan pada tingkat harga P = 80!
Jawab:
Jika P = 80, maka Q = 50 – 1/2 (80)
Q = 50 – 40
Q = 10
Contoh 2:
                Diketahui fungsi permintaan P = 100 – 2Q. Hitung elastisitas permintaan pada tingkat harga P = 50!
Jawab:
C. Elastisitas Penawaran
       Elastisitas penawaraan (elasticity of supply) adalah pengaruh perubahan harga terhadap besar kecilnya jumlah barang yang ditawarkan atau tingkat kepekaan perubahan jumlah barang yang ditawarkan terhadap perubahan harga barang. Adapun yang dimaksud koefisien elastisitas penawaran adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara perubahan jumlah barang yang ditawarkan dengan perubahan harganya. Besar kecilnya koefisien elastisitas penawaran dapat dihitung dapat dengan rumus sebagai berkut.
                Keterangan:
                                ΔQ : perubahan jumlah penawaran
                                ΔP : perubahan harga barang
                                P : harga barang mula-mula
                                Q : jumlah penawaran mula-mula
                                Es : elastisitas penawaran

Contoh:
                Pada saat harga Rp500,00 jumlah barang yang ditawarkan 40 unit, kemudian harga turun menjadi Rp300,00 jumlah barang yang ditawarkan 32 unit. Hitunglah besarnya koefisien elastisitas penawarannya!
Jawab:
a.       Macam-MacamElastisitasPenawaran
Seperti halnya elastisitas permintaan, elastisitas penawaran juga terdapat lima macam, yaitu:
                Keterangan:
                                % ΔQs : Persentase perubahan jumlah barang yang ditawarkan
                                % ΔPs : Persentase perubahan harga barang
b. Kurva Elastisitas Penawaran
C. Kurva Elastisitas Penawaran
Cara praktis menentukan besarnya elastisitas tanpa mencari turunan Q atau Q1, yaitu:
1) Jika persamaan fungsi menunjukkan P = a – bQ (fungsi permintaan) dan P = a + bQ (fungsi Penawaran), maka rumus elastisitasnya adalah sebagai berikut.
Contoh 1:
Diketahui fungsi permintaan P = 100 – 2Q. Hitung elastisitas permintaan pada tingkat harga P = 50!
Jawab:
Dengan cara biasa Jika P = 50, maka 
50 = 100 – 2Q
2Q = 50
Q = 25
Contoh 2:
Diketahui fungsi penawaran P = 100 + 2Q. Hitunglah elastisitas penawaran pada tingkat harga P = 500!
Jawab:
 Dengan cara biasa Jika P = 500, maka 
500 = 100 + 2Q
-2Q = -400
Q = 200
Contoh 3:
Diketahui Fungsi penawaran P = -100 + 2Q. Hitung elastisitas penawaran pada tingkat harga P = 400!
Jawab:
Dengan cara biasa Jika P = 400, maka 
400 = -100 + 2Q
-2Q = -500
Q = 250
D. FUNGSI BIAYA
Fungsi biaya merupakan hubungan antara biaya dengan jumlah produksi yang dihasilkan, fungsi biaya dapat digambarkan ke dalam kurva dan kurva biaya menggambarkan titik-titik kemungkinan bsarnya biaya di berbagai tingkat produksi. Dalam membicarakan biaya ada beberapa macam biaya, yaitu:
a. Biaya Total ( Total Cost = TC = C)
b. Biaya Variabel (Variable Cost = VC)
c. Biaya Tetap (Fixed Cost = FC)
d. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost = AC)
e. Biaya Variabel Rata Rata ( Average Variable Cost = AVC)
f. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost = AFC)
g. Biaya Marginal

Rumus :
1. C = AC x Q  atau C = FC + VC
2. FC = AFC X Q
3. VC = AVC  X Q
Biaya Total →   C = (Q)
Biaya Marginal : MC ≈ C’ ≈   = f’ (Q)
Biaya total tak lain adalah Integral dari biaya marginal
C = ∫ MC d Q = ∫ f’ (Q) Q
Contoh Soal:
Biaya marjinal suatu perusahaan ditunjukkan oleh MC = 3Q2 – 6Q + 4 . Carilah persamaan biaya total dan biaya rata-ratanya.
Biaya Total :  C =∫ MC d Q
                            = ∫ (3Q2 – 6Q + 4) d Q
                            =  Q3 - 3Q2 + 4Q + k
Biaya rata-rata: AC =   → = Q2 – 3Q + 4 + 
C = Q– 3 Q2 + 4Q + 4
AC = Q2 – 3Q + 4 + 
E.   FUNGSI PENERIMAAN
Penerimaan Total  : R = f (Q)
Penerimaan Marjinal         :  MR = R’ ≈   = f’ (Q)
Penerimaan total tak lain adalah Integral dari penerimaan marjinal
C = ∫ MR d Q = ∫ f’ (Q) Q
Contoh Soal:
Carilah persamaan penrimaan total dari penerimaan rata-rata dari perusahaan  jika penerimaan marjinalnya MR = 16 – 4Q
Penerimaan Total  : R  = ∫ MR d Q
                                                       = ∫ (16 – 4Q) d Q
                                                       = 16 Q – 2 Q2
                Penerimaan rata-rata          : AR =   = 16 - 2Q
Dalam persamaan penerimaan total konstanta k = 0, sebab penerimaan akan ada jika tak ada barang yang dihasilkan atau terjual.
Fungsi Biaya Fungsi adalah suatu persamaan yang mempunyai dua variabel atau lebih di mana variabel yang satu mempunyai hubungan ketergantungan (hubungan fungsional) dengan variabel yang lainnya. Fungsi dibentuk oleh beberapa unsur. Unsur-unsur pembentuk fungsi adalah variabel, koefisien dan konstanta. Variabel dan koefisien akan selalu ada dalam setiap fungsi, tetapi tidak demikian halnya dengan konstanta. Fungsi mungkin juga memiliki konstanta dan mungkin juga tidak. Tetapi walaupun suatu persamaan tersebut tidak memiliki konstanta tidaklah mengurangi artinya sebagai fungsi.11 Biaya dalam ilmu ekonomi adalah nilai dari faktor-faktor produksi yang dipergunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Dalam hal penggunaan faktor-faktor produksi perusahaan memerlukan pengeluaran yang disebut dengan biaya produksi, sebagai pengorbanan untuk mendapatkan output yang diinginkan. Biaya merupakan faktor utama dalam menentukan jumlah barang atau jasa yang akan dijual.
Laba atau keuntungan adalah nilai penerimaan total perusahaan dikurangi biaya total yang dikeluarkan perusahaan. Jika laba dinotasikan , pendapatan total sebagai , dan biaya total adalah maka
Perusahaan dikatakan memperoleh laba kalau nilai positif di mana Laba maksimum (maximum profit) tercapai bila nilai mencapai maksimum. Ada 3 pendekatan penghitungan laba maksimum yaitu sebagai berikut a. Pendekatan totalitas (Totality Approach) Pendekatan totalitas membandingkan pendapatan total dan biaya total . Pendapatan total adalah sama dengan jumlah unit output yang terjual dikalikan harga output per unit. Jika harga jual per unit output adalah , maka . Biaya total adalah sama dengan biaya tetap ditambah biaya variabel ), atau . Dalam pendekatan totalitas, biaya variabel per unit output dianggap konstan, sehingga biaya variabel adalah jumlah unit output diakalikan biaya variabel per unit. Jika biaya variabel per unit adalah maka . Dengan demikian
                F. LABA Maksimum
Tingkat produksi yang memberikan keuntungan maksimum, atau menimbulkan kerugian maksimum, dapat disidik dengan pendekatan diferensial. Karena baik penerimaaan total, maupun biaya total (C) sama-sama merupakan fungsi dari jumlah keluaran yang dihasilkan atau terjual (Q) maka dari sini dapat dibentuk suatu fungsi baru yaitu fungsi keuntungan (π). Nilai ekstrim atau optimum π dapat ditentukan dengan cara menetapkan derivatif pertamanya sama  dengan nol.
R = r (Q)              π = R – C  r (Q) – c (Q) = f (Q)
C = c (Q)             π optimum jika π  f (Q)  d / dQ = 0
Karena π = R- C                                             Berarti pada π optimum :
Karena π = R - C = MR - MC                π = 0  MR – MC = 0  MR = MC

πꞌ = 0 atau MR = MC
πꞌꞌ < 0 atau (MR)ꞌ <
Secara grafik, kesamaan MR = MC atau kedudukan π = 0 ditunjukan perpotongan antara kurva penerimaan marjinal (MR) dan kurva biaya marjinal (MC).  Hal inisekaligus mencerminkan jarak terlebar antara kurva penerimaan total (R) dan kurva biaya total (C) akan tetapi syarat MR = MC atau π = 0 berjumlah cukup untuk mengisyaratkan keuntungan maksimum sebab jarak terlebar yang dicerminkannya mungkin merupakan selisih positif “R – C” (berarti keuntungan) atau merupakan selisih negatif  “ R - C” (berarti kerugian)



Untuk mengetahui apakah π = 0 mencerminkan keuntungan maksimum ataukah justru kerugian maksimum, perlu di uji melalui derivatif kedua dari fungsi π.
Pada gambar dibawah terlihat ada dua keadaan dimana π = 0 (MR + MC), yakni pada tingkat produksi Q1 dan Q3. Pada tingkat produksi Qjarak terlebar antara kurva penerimaan total (R) dan kurva biaya total (C) mencerminkan selisih  negatif terbesar hal ini terjadi kerugian maksimum, sebagaimana tercermin oleh kurva π yang mencapai minimumnya di titik G.
Sedangkan pada tingkat produksi Q3  jarak terlebar antara kurva R dan kurva C mecerminkan selisih positif terbesar. Hal ini berarti keuntungan maksimum, sebagaimana tercermin oleh kurva π yang mencapai maksimumnya dititik h. Dengan demikian syarat agar diperoleh keuntungan maksimum adalah:

πꞌ = 0 atau MR = MC
πꞌꞌ < 0  atau (MR)ꞌ <(MC)
  

                                                               

Syarat pertama disebut syarat yang diperlukan (necessary condition) sedangkan syarat kedua disebut syarat yang mencukupkan (sufficient condition)
Contoh 50:
Andaikan        :           R = r (Q) = -2 Q2 + 1000Q
                                                   C = c (Q) = Q- 59 Q2 + 1315 + 2000
Maka               : π = R - C = - Q + 57 Q2 – 315 Q + 2000
Agar keuntungan maksimum : π = 0
-3 Q2 + 114 Q – 315 = 0
-Q2 + 114 Q – 315 = 0
(Q + 3) (Q – 35) = 0
πꞌꞌ = -6 Q + 114
jika Q = 3, πꞌꞌ = -6 (3) + 114 = 96 > 0
jika Q = 35, πꞌꞌ = -6 (3) + 114 = -96 > 0
karena πꞌꞌ < 0 untuk Q = 35, maka tingkat produksi yang menghasilkan keuntungan maksimum adalah Q = 35 unit. Adapun besarnya keuntungan maksimum yaitu:
               π = - (35)+ 57 (35)2 – 315 (35) – 2000 = 13.925
G.    Penerimaan Pajak maksimum
Dalam saksi titik ekstrim fungsi parabolik kita telah mempelajari bahwa jika penawaran suatu barang ditunjukan oleh persamaan P = a + bQ, dan perintah mengenakan pajak spesifik sebesar t atas setiap unit barang yang dijual maka:
Penawaran sesudah pajak                   : P = a bQ + t
Fungsi pajak perunit                           : t = P – a bQ
Persamaan pajak per unit                    : t = c – dQ – a bQ = (c – a) – (d + b) Q

Total pajak yang diterima pemerintah : T = t (Q) = (c – a) Q – (d +b) Q2
T maksimum jika Tꞌ = 0 yakni pada Q = (c – a)/2(d +b)

sesudah pengenaan pajak                    : T = t.Q = (c – a) Q – (d +b) Q


berdasrkan bentuk persamaan terakhir yang kuadrat parabolik ini, kita dapat menentukan pada tingkat keterjualan berapa unit barang (Q) pemerintah akan memperoleh penerimaan maksimum dari rencana pajak spesipik yang akan dikenakannya. 
G ditnjukan oleh persamaan P = 15 – Q sedangkan penawaran
Contoh: Jika permintaan akan suatu barang ditunjukan oleh persamaan P = 15 – Q, sedangkan penawarannya P = 3 – 0,5 Q. Pemerintahan bermaksud mengenakan pajak spesifik sebesar t atas  setiap unit barang dijual. Jika penerimaan pajak aas barang ini diinginkan maksimum, berapa besarnya pajak per unit yang harus ditetapkan? Berapa besarnya penerimaan pajak maksimum tersebut?
Jawab:  Penawaran sesudah pajak      : P = 3 + 0,5Q + t
                Pajak per unit                       : t = P  - 3 – 0,5
Menurut fungsi permintaan : P = 12 – Q maka t = 12 – 15Q.
              Pajak total                            : T = t. Q = 12Q – 1,5Q2
                                                              T = dT/dQ = 12 – 3Q
                                                              T = 0 → Q = 4
                                                              Q =4 t = 12 – 1,5(4) = 6
                                                              T = t.Q = 6(4) = 24
Persamaan penawaran sesudah pajak  : P = 3 + 0,5Q + 6
                                                                 = 9 + 0,5Q
Harga keseimbangan pasar adalah 11. Jadi T akan maksimum jika t = 6, dengan Tmaks = 24
H. PENGARU PAJAK DALAM PASAR MONOPOLI
Pajak merupakan sumber penting pendapatan negara, dapat ebrfungsi segabai instrumen kendali atas keuntungan “berlebihan” yang dapat dikeduk oleh penunggal (monopolist)
Penerimaan total         : R = r(Q)
                                                Keuntungan : π = R –C
Biaya otal                    : C = c(Q)                              π = r(Q) – c (Q)
Biaya total sedudah pajak       : C = c (Q) + t(Q)
Keuntungan sesudah pengenaan pajak           :  π = r (Q) – c(Q) – t(Q)
Pajak perunit = t
Pajak total       : T = t.Q = f (t, Q) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pengendalian persediaan atau dikenal dengan istilah Economic Order Quantity (jumlah pemesanan ekonomis) dan dapat diterapkan pada sistem produksi di PD Handi Meubel Cirebon. Pengendalian persediaan sangat penting diterapkan oleh suatu perusahaan karena dapat meminimalkan biaya persediaan. PD Handi Meubel telah melakukan perhitungan dengan rumus umum total biaya persediaan. Lebih lanjut, peneliti mencoba memberikan model perhitungan dengan model Economic Order Quantity (EOQ) yang dapat memberikan keputusan tentang jumlah pemesanan. Hasil pengendalian persediaan pada PD Handi Meubel belum ekonomis karena besar biaya pemesanan (annual ordering cost) dan biaya penyimpanan (annual holding cost) tidak relatif sama. Hal ini menyebabkan total persediaan tidak mampu mencapai nilai minimum. Penerapan model EOQ dapat memberikan solusi kepada PD Handi Meubel karena total persediaan dari perusahaan tersebut dapat mencapai nilai minimum. Ketentuan pemesanan diperoleh dari hasil perhitungan menggunakan persamaan model EOQ yang dikenal dengan istilah Wilson Formula. Tujuan jangka panjang dari penelitian ini bagi prodi pendidikan matematika yaitu sebagai desain bahan ajar pada materi atau pokok bahasan yang ada di dalam mata kuliah Kalkulus Diferensial yang berbasis pada model pengembangan bahan ajar tertentu sehingga diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam memahami konsep-konsep esensial yang ada di dalam mata kuliah tersebut, sehingga kebutuhan belajar mahasiswa dapat terpenuhi dengan baik. Target luaran yang diharapkan terlaksana setelah penelitian ini dilakukan yaitu mempublikasikan hasil penelitian ini melalui publikasi ilmiah, prosiding, dan pengayaan bahan ajar. Dengan demikian diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat secara luas bagi perusahaan dan mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi dengan sistem wawancara terhadap kepala produksi di PD Handi Meubel Cirebon.




PENERAPAN BARISAN DAN DERET


Pertemuan 10

BAB X
PENERAPAN BARISAN DAN DERET

A.      BUNGA & POTONGAN SEDERHANA
Bunga pinjaman selama setahun atau kurang, sering dihitung dengan cara yang sederhanaI = P.r.tDimana :P : Besarnya Pokok Pinjamanr : Besarnya prosentase bunga pinjaman setahunt : tahun jangka waktu pinjaman.Berapa jumlah yang harus dikembalikan oleh seseorang yang meminjam uang sebanyak Rp.2.500,- pada tanggal 5 juni 2002 dan dikembalikan pada tanggal 5 Pebruari 2003 dengan bunga sebesar 14 persen ?
10 Jawab :
Mulai tanggal 5 Juni 2002 sampai 5 Pebruari 2003, atau waktu pinjamannya 8/12= 2/3 tahunditanya : berapa jumlahnyang harus dikembalikan ?besarnya bunga pinjaman :Rumus : I = P.r.t= (0,14) (2/3)= 233,33Jadi yang harusdikembalikan adalah pokok pinjaman ditambah dengan bunga, yaitu :Rp.2.500,- + Rp233,33,- = Rp.2.733,33,-  BUNGA MAJEMUKAdalah bunga selain dikenakan pada pokok pinjaman, juga dikenakan pada bunga yang dihasilkan, sebagai pola banjar ukur dan deret ukur.Bunga tahun pertama : P.iBunga dan pokok di akhir tahun : P + P.i = P (1+i)Bunga tahun kedua : P (1+i) . iBunga dan pokok di akhir tahun kedua :P (1+i) + { P (1+i) i } = P + Pi + Pi + Pi2= P + 2Pi + Pi2 = P (1+i)2Dalam periode n tahun menjadi : P (1+i)n = Fn
15 Misalkan pembayaran bunga dilakukan dalam m kali setahun (frekwensi pembayaran) pada tingkat bunga i pertahun. Maka tingkat bunga dalam setiap periode adalah : i/m dan jumlah periode bunga seluruhnya yang dibungakan lagi selama n periode adalah n x m dan rumus untuk menghitung seluruh uangnya :Fn = A = P (1 + i/m )n.mContoh :ada uang sebanyak Rp.1.000,- dibungakan setahun dengan bunga majemuk sebesar 5 persen pertahun dan diambil dalam setahun sekali, maka berapakah jumlah uang tersebut setelah 6 tahun ?
16 Jawab :
Diketahui : P = 1000, i = 5% = 0,05, m=1, n=6Rumus : A = P (1 + i/m )n.mA6 = 1000 ( /1)6x1 = 1000 (1,05)6= 1000 (1,34) = Rp.1.340,-Suatu modal sebesar M dipinjamkan dengan bunga majemuk, suku bunga ditetapkan sebesar 12% pertahun. Jika penggabung-an bunganya dilakukan triwulan. Tentukan selama 5 tahuna. Periode bunga , b. Frekuensi penggabunganc. Besar suku bunga untuk setiap perioded. Banyaknya periode bunga
B.      NILAI SEKARANG (PRESENT VALUE)
Adalah nilai sejumlah uang saat ini dari jumlah yang diperoleh di masa datang, misalkan P adalah nilai sekarang dari uang sebanyak A pada t tahun yang akan datang dan tingkat bunga adalah r maka bunga yang diperoleh dari P rupiah adalah : I = P.r.tdan uang setelah t tahun menjadi :P + P.r.t = P (1+ r.t)Karena A adalah nilai uang sebanyak P pada t tahun mendatang, maka :A = P (1 + r.t) atau P = A(1 + r.t)dikembalikan adalah pokok pinjaman ditambah dengan bunga, yaitu :Rp.2.500,- + Rp233,33,- = Rp.2.733,33,-
C.      Nilai Masa Datang Dari Anuitas
Anuitas adalah serangkaian pembayaran yang dibuat secara periodik dan dalam jumlah uang yang tetap atau sama. Dalam anuitas diasumsikan bahwa semua pembayaran dibuat pada akhir periode dengan bunga majemuk.Ilustrasi: Nina menabung uangnya sebanyak 1 juta setiap permulaan tahun, dimana bunga 12% per tahun secara majemuk. Berapa jumlah tabungan Nina setelah 4 tahun (akhir tahun ke-3 atau awal tahun ke-4) ?
19 Rumus nilai masa datang dari anuitas adalah: Sn = P {(1+ i) n -1 } i Dimana : Sn = nilai di masa datang P = jumlah sekarang i = suku bunga per tahun n = jumlah tahun
D.      Nilai Sekarang Dari Anuitas
Dimana :Sn = nilai di masa datangP = jumlah sekarangi = suku bunga per tahunn = jumlah tahun8. Nilai Sekarang Dari AnuitasNilai sekarang dari anuitas adalah jumlah dari nilai- nilai sekarang dari setiap periode pembayaran atau penerimaan uang tertentu.  Dimana : An = Nilai sekarang dari anuitas P = Jumlah pembayaran per periode i = Tingkat bunga tahunan n = Jumlah periode pembayaran
E.       Tingkat Bunga Efektif adalah:
disebut juga tingkat suku bunga ekuivalen tahunan (equivalent annual rate, EAR).  Tingkat suku bunga ini adalah tingkat suku bunga yang akan menghasilkan nilai akhir (di masa depan) yang sama menurut bunga majemuk tahunan seperti juga pada bunga majemuk yang lebih sering dengan memberikan suatu tingkat suku bunga nominal tertentu.  Semua tingkat suku bunga nominal dapat dikonversi menjadi tingkat suku bunga ekuivalen tahunan, atau EFF%.  Ketika melakukan perbandingan di antara beberapa pinjaman atau investasi yang melakukan pembayaran pada jangka waktu yang berbeda-beda, harus menggunakan EEF%.
1.      tingkat bunga yang sesungguhnya dibebankan dalam setahun; jika suku bunga dibebankan sekali setahun, tingkat bunga nominal sama dengan suku bunga efektif; atau
2.      gambaran mengenai pendapatan/hasil atas nilai suatu instrumen utang yang dimiliki dibandingkan dengan nilai instrumen pada saat harga pembelian (effective rate)
Jika tingkat bunga nominal lebih rendah daripada tingkat bunga efektif, maka akan terjadi diskonto. Sebaliknya, jika tingkat bunga nominal lebih tinggi daripada tingkat bunga efektif, maka akan terjadi premium.
RUMUS BUNGA NOMINAL & EFEKTIF
n Suku bunga nominal :
• r = i x M
n Suku bunga efektif :
• ieff = (1 + i)M -1  atau
• ieff = (1 + r/M)M -1
• dimana : ieff = suku bunga efektif
• r = suku bunga nominal tahunan
• i = suku bunga nominal per periode
• M = jumlah periode majemuk per satu tahun
Tingkat Suku Bunga Nominal dan Tingkat Suku Bunga Efektif.
Untuk membandingkan invenstasi dengan periode bunga majemuk yang berbeda-beda, harus menetapkan suatu dasar yang sama terlebih dahulu, yaitu membedakan tingkat suku bunga nominal dan efektif tahunan.
1. Tingkat suku bunga nominal (nominal rate) disebut juga presentase suku bunga tahunan (annual percentage rate, APR).  Merupakan tingkat suku bunga yang tertera (stated) atau yang tercatat (quoted).  Adalah tingkat suku bunga yang dipakai oleh bank, perusahaan kartu kredit, penyedia kredit pendidikan, dealer mobil, dan lainnya yang akan dikenakan pada pinjaman.  Ini juga merupakan bunga yang dibayarkan bank atas deposito.
Perhatikan bahwa jika ada dua bank menawarkan kredit pinjaman dengan tingkat bunga APR yang sama tetapi pembayarannya harus dilakukan pada periode yang berbeda-beda, maka belum tentu kedua bank tersebut memberikan tingkat suku bunga yang sama.  Artinya salah satu sebenarnya dapat membebankan jauh lebih banyak daripada yang lainnya.  Jadi untuk membandingkannya harus menggunakan tingkat suku bunga efektif.
Tingkat suku bunga efektif (efektif rate) disingkat menjadi EFF%, disebut juga tingkat suku bunga ekuivalen tahunan (equivalent annual rate, EAR).  Tingkat suku bunga ini adalah tingkat suku bunga yang akan menghasilkan nilai akhir (di masa depan) yang sama menurut bunga majemuk tahunan seperti juga pada bunga majemuk yang lebih sering dengan memberikan suatu tingkat suku bunga nominal tertentu.  Semua tingkat suku bunga nominal dapat dikonversi menjadi tingkat suku bunga ekuivalen tahunan, atau EFF%.  Ketika melakukan perbandingan di antara beberapa pinjaman atau investasi yang melakukan pembayaran pada jangka waktu yang berbeda-beda, harus menggunakan EEF%.
F.       ANGKA PENGGANDA
• Angka pengganda ialah suatu bilangan yang menjelaskan tambahan pendapatan nasional sebagai akibat adanya perubahan-perubahan pada variabel-variabel tertentu dalam perekonomianSecara umum, dalam model perekonomian angka pengganda (multiplier) diformulakan 1 1 k = = 1 - c s Dimana : c = MPC s = MPS Contoh soal : Konsumsi masyarakat suatu Negara ditunjukkan oleh persamaan C = 40 + 0,75 Y. Diminta tentukan : a. Berapa fungsi tabungannya? b. Berapa besarnya konsumsi, jika besarnya tabungan 30. c. Berapa multipliernya? Jawab : a. C = 40 + 0,75 Y Y = C + S S = Y – C = Y – (40 + 0,75Y) = Y – 40 – 0,75 Y = - 40 + 0,25 Y Jadi fungsi tabungan (S) = -40 + 0,25 Y b. Jika S = 30, maka C = ? S = -40 + 0,25 Y 30 + 40 = 0,25 Y 70 = 0,25 Y Y = 70/0,25 Y = 280 Karena Y = C + S C = Y - S Maka C = 280 -30 C = 250 c. Multipliernya : C = 40 + 0,75 Y MPS = 1 – MPC = 1- 0,75 = 0,25

BARISAN DAN DERET


Pertemuan 9

BAB IX
BARISAN DAN DERET

A.      BARISAN & DERET ARITMETIKA
Barisan adalah kumpulan objek-obejek yang disusun menurut pola tertentu. Objek pertama dinamakan suku pertama, objek kedua dinamakan suku kedua, objek ketiga dinamakan suku ketiga dan seterusnya sampai objek ke-n dinamakan suku ke-n atau Un. Jika objek-objek tersebut berupa bilangan, maka bentuk penjumlahan dari objek-objek tersebut sampai n suku dinamakan deret.
Barisan aritmatika adalah suatu barisan angka-angka dimana U2 – U1 = U3 – U2 = U4 – U3= … = Un – Un–1 = beda (merupakan angka yang tetap)
Sehingga :
(1) 3, 7, 11, 15, 19, 23, 27, 31, 35 adalah barisan aritmatika dengan beda 4
(2) 63, 58, 53, 48, … , 3 adalah barisan aritmatika dengan beda -5
(3) 5 + 8 + 11 + 14 + 17 + … + 50 adalah deret aritmatika dengan beda 3
(4) 3 + 5 + 7 + 9 + 11 + 13 + … adalah deret aritmatika tak hingga dengan beda 2
Jika suku pertama suatu barisan aritmatika dinamakan a, maka diperoleh:

Jadi suku ke-n barisan aritmatika dirumuskan :
Un = a + (n – 1)b
Sebagai contoh diketahui barisan : 3, 7, 11, 15, 19, 23, …
Maka suku ke-6 dapat ditentukan dengan rumus :
U6 = a + (6 – 1)b = a + (6)b = 3 + (6)4 = 27
Untuk menentukan rumus jumlah sampai suku ke-n, dapat ditentukan dengan cara:
Sn = ½ n (a + Un)
Sn = ½ n [2a+(n+1)b]
Sebagai contoh diketahui barisan : 3, 7, 11, 15, 19, 23, 27, …
Maka suku ke-6 dapat ditentukan dengan rumus :
S6 = ½ 6 (a + U6) = ½ 6 (3 + 27) = 90
Atau S6 = ½ 6 [2a+(6+1)b] = ½ 6 [2 . 3 + (8)4] = 90
Jika suatu barisasn aritmatika diketahui n ganjil, maka suku tengah dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
Ut = ½ (a + Un)
Sebagai contoh diketahui barisan : 3, 7, 11, 15, 19, 23, 27, …
Jika barisan tersebut diteruskan sampai 15 suku, maka suku tengahnya dapat ditentukan dengan rumus
Ut = ½ (a + Un) = ½ [a + U15] = ½ [3 + (3 + (15 – 1)4)] = ½[6 + 56] = 31

Selanjutnya kita juga dapat merumuskan hubungan antara Un dan Sn , yakni :
Un = Sn – Sn–1

Untuk lebih memantapkan pemahaman konsep di atas ikutilah contoh soal berikut ini:

1. Diketahui barisan aritmatika 2, 7, 12, 17, 22, … Tentukanlah suku ke 15
Jawab
 a = 2
 b = 5
 n = 15
maka
U15 = a + (15 – 1)b
U15  = 2 + (14)5
U15  = 2 + 70
U15  = 72

2. Diketahui deret aritmatika 4 + 7 + 10 + 13 + 16 + 19 + … , tentukanlah Jumlah sampai 13 suku pertama
Jawab
Diketahui 4 + 7 + 10 + 13 + 16 + 19 + …
Maka
a = 4
b = 3
n = 13
Sehingga:
S13 = ½ (13) [2a+(6+1)b] = ½ (13) [2 . 4 + (13)3] = ½ (13) [44] = 286
a.       BARISAN & DERET GEOMETRIK
Jika U1 , U2 , U3 , U4 , … , Un adalah suku-suku dari suatu barisan, dimana nilai perbandingan



Sehingga :
(1) 2, 4, 8, 16, 32, 64, … adalah barisan geometri dengan rasio 2
(2) 96, 48, 24, 12, 6, … adalah barisan geometri dengan rasio 1/2
(3) 1 +5 + 25 + 125 + 625 + … adalah deret geometri dengan rasio 5
(4) 1– 3 + 9 – 27 + 81 – 243 + … adalah deret geometri dengan rasio –3

Jika suku pertama suatu barisan geometri dinamakan a, dan rasionya r, maka
suku ke-n barisan aritmatika dirumuskan : Un = arn-1

Jika suatu barisan geometri mempunyai suku pertama a dan ratio r, maka Jumlah sampai n suku pertama (Sn) dapat dirumuskan:

Jika r = 1 maka berlaku :
Sn = a + a + a + a + a + a + a + … + a (a sebanyak n suku)

Sn = an

Jika banyaknya suku-suku pada barisan geometri berjumlah ganjil ( n ganjil), maka suku tengah adalah suku ke n = ½ (n + 1). Sehingga rumus suku tengah dapat ditentukan sebagai berikut


Selanjutnya kita juga dapat merumuskan hubungan antara Un dan Sn , yakni:
Un = Sn – Sn–1
Untuk lebih memantapkan pemahaman konsep di atas ikutilah contoh soal berikut ini:
01. Tentukanlah suku ke 12 dari barisan 32, 16, 8, 4, ….
Jawab


02. Tentukanlah hasil dari 2 + 4 + 8 + … + 128
Jawab





Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Blog Archive

CB Blogger Lab

JASA SEO CB

jam ayam

CONTOH BLOG

JASA SEO CB

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *