Tampilkan postingan dengan label Akuntansi Biaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akuntansi Biaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2019

Variable Costing

akuntansi biaya bab9 POKOK BAHASAN 9: SISTEM HARGA POKOK STANDAR - PENENTUAN STANDAR SUBPOKOK BAHASAN: 1.1. Standar, normal, dan sesungguhnya. 1.2. Penggunaan biaya standar. 1.3. Jenis standar. 1.4. Standar bahan baku. 1.5. Standar tenaga kerja langsung. 1.6. Standar overhead pabrik. MATERI PERKULIAHAN 1.1. Standar, Normal, dan Sesungguhnya Harga pokok produk dapat ditetapkan atas dasar harga pokok sesungguhnya, harga pokok normal, dan harga pokok standar. Penentuan harga pokok produk berdasar biaya sesungguhnya memiliki kelemahan dalam hal pengumpulan biaya overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu, penentuan harga pokok produk berdasar biaya sesungguhnya ini dimodifikasi dengan menetapkan biaya overhead pabrik atas dasar taksiran. Untuk kepentingan pengendalian biaya, harga pokok produk ditetapkan berdasar biaya standar. 1.2. Penggunaan Biaya Standar Biaya standar dapat digunakan untuk (1) pengendalian biaya, (2) penentuan harga pokok persediaan, (3) perencanaan anggaran, (4) penentuan harga jual, dan (5) mengurangi pekerjaan pencatatan (record-keeping). Tujuan pengendalian biaya adalah untuk membantu manajemen agar dapat membuat produk dengan biaya produksi yang serendah mungkin pada standar kualitas yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan adanya standar, manajemen dapat membuat perbandingan antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar sehingga dapat mengukur prestasi dan menghilangkan ketidak-efisienan. Harga pokok persediaan dapat dinilai sebesar biaya standar, sedang selisih dengan biaya sesungguhnya akibat ketidak-efisienan dan kapasitas mengganggur dilaporkan sebagai biaya periode. Untuk keperluan pelaporan kepada pihak eksternal, persediaan harus disesuaikan sehingga disajikan sebesar biaya sesungguhnya. Biaya standar sangat bermanfaat untuk penyusunan anggaran pada periode tertentu. Anggaran adalah biaya standar pada tingkat aktivitas yang diharapkan untuk periode tertentu. Harga jual dan harga pokok mempunyai hubungan yang sangat erat. Jika harga jual diturunkan maka diharapkan kuantitas yang dijual akan meningkat. Jika kuantitas yang dijual bertambah maka harga pokok per unit akan turun karena adanya biaya overhead pabrik tetap. Dengan adanya biaya standar, manajemen dapat membuat kombinasi harga jual dan kuantitas yang dijual pada berbagai tingkat kegiatan sehingga akan dicapai laba yang maksimal. Kegiatan pencatatan akan dapat dikurangi jika digunakan biaya standar karena dengan menggunakan standar pencatatan rinci tidak diperlukan. Jika persediaan dinilai sebesar harga pokok standar maka pencatatan persediaan hanya membutuhkan catatan tentang kuantitas persediaan saja. 1.3. Jenis Standar. Ada tiga jenis standar, yaitu (1) standar tetap (dasar), (3) standar ideal, dan (3) standar yang dapat dicapai. Standar tetap adalah standar yang sekali ditetapkan tidak berubah. Standar ini mungkin ideal pada saat ditetapkan tetapi dengan berjalannya waktu terjadi perubahan yang mendasari disusunnya standar sehingga menyebabkan standar tersebut tidak sesuai lagi. Standar ini jarang digunakan akibat penyusutan manfaatnya. Standar ideal adalah standar yang disusun pada kondisi yang sempurna. Standar ini disusun dengan asumsi bahwa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik dapat diperoleh dengan harga yang termurah (minimum) setiap saat. Dalam penyusunan standar ideal diasumsikan bahwa pemakaian biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik telah optimal pada kapasitas produksi 100%. Dalam kenyataan, standar ini tidak akan dapat ditemui sehingga selisih yang terjadi selalu merupakan selisih yang tidak menguntungkan (unfavorable variances). Standar yang dapat dicapai (attainable standards) adalah standar yang didasarkan pada tingkat efisiensi yang tinggi yang dapat dicapai oleh karyawan. Standar ini disusun dengan asumsi bahwa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik dapat diperoleh dengan harga terbaik (good overall price). Dalam menyusun standar ini dipertimbangkan bahwa tenaga kerja tidak dapat berkerja 100% efisiensi, dimungkinkan adanya produk rusak normal, dan perusahaan tidak mungkin beroperasi pada kapasitas 100%. Standar dapat dibedakan menjadi (1) standar bahan baku, (2) standar tenaga kerja langsung, dan (3) standar overhead pabrik. 1.4. Standar Bahan Baku Standar bahan baku adalah biaya bahan baku yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi satu unit produk. Standar bahan baku dapat dibedakan menjadi standar harga bahan baku dan standar efisiensi (pemakaian) bahan baku. Contoh Dalam tahun 1999, Standard Corporationmerencanakan memproduksi 2.000 unitclown customes (pakaian) dan akan dijual dengan harga Rp100,00 per unit. Berdasarkan penelitian, setiap unit produk jadi (clown customes) membutuhkan bahan baku (kain) 2 yards. Harga bahan baku yang dapat disanggupi oleh pemasok adalah Rp5,00 per yard. Pertanyaan: 1. Tentukan standar harga bahan baku per yard. 5 2. Tentukan standar efisiensi bahan baku per unit produk 2. 3. Tentukan standar biaya bahan baku per unit produk. 5 x 2 = 10 1.5. Standar Tenaga Kerja Langsung Standar tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya dipekerjakan untuk memproduksi satu unit produk. Standar tenaga kerja langsung dapat dibedakan menjadi standar tarip upah langsung dan standar efisiensi tenaga kerja langsung. Contoh Clown customes pada Standard Corporation di atas diproses melalui dua tahap, yaitu cutting (pemotongan) dansewing (penjahitan). Berdasarkan penelitian, waktu yang dibutuhkan untuk memotong setiap unit produk adalah 1 jam, sedang untuk menjahit adalah 2 jam. Perusahaan mempunyai satu mesin potong dan dua mesin jahit yang masing-masing dikerjakan oleh seorang karyawan yang bekerja selama 40 jam seminggu. Dalam satu tahun karyawan bekerja selama 50 minggu. Tarip upah per jam untuk setiap karyawan ditetapkan sebagai berikut. Moe (pemotong) Rp12,00 Larry (penjahit) 7,00 Curly (penjahit) 5,00 Pertanyaan: 1. Tentukan total jam kerja langsung yang diharapkan dalam tahun 1999. 2. Tentukan standar tarip upah langsung per jam kerja langsung. 3. Tentukan standar efisiensi tenaga kerja langsung per unit. 4. Tentukan standar biaya tenaga kerja langsung. 1.6. Standar Overhead Pabrik Standar overhead pabrik adalah biaya overhead pabrik yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi satu unit produk. Standar overhead pabrik dapat dibedakan menjadi standar overhead pabrik tetap dan standar overhead pabrik variabel. Contoh Budget overhead pabrik pada Standard Corporation di atas diproyeksikan pada tingkat kegiatan 6.000 jam kerja langsung. Biaya overhead pabrik variabel: Bahan penolong Rp 600,00 Upah tidak langsung 3.000,00 Pemeliharaan 1.200,00 Bahan bakar 1.800,00 Rp6.600,00 Biaya overhead pabrik tetap: Listrik Rp 3.500,00 Supervisi 25.000,00 Depresiasi 1.500,00 Sewa pabrik 6.000,00 Rp36.000,00 Pertanyaan: 1. Tentukan tarip overhead pabrik variabel. 2. Tentukan tarip overhead pabrik tetap. 3. Tentukan standar biaya overhead pabrik variabel. 4. Tentukan standar biaya overhead pabrik tetap. 5. Tentukan standar untuk Standard Corporation: a. Unit produksi yang diharapkan pada kapasitas normal. b. Jam kerja langsung pada kapasitas normal. c. Harga pokok standar per unit. LATIHAN Berikut ini adalah data yang dikumpulkan dari Bates Corporation. Rencana produksi tahun 1999 30.000 unit Bahan baku yang dibutuhkan untuk setiap unit produk 2 ton Harga bahan baku per ton atas dasar pesanan: 1 – 25.000 ton Rp200,00 per ton 25.0001 – 50.000 ton Rp190,00 per ton 50.0001 – 75.000 ton Rp185,00 per ton Tenaga kerja langsung yang dibutuhkan: Shaping time per ton 3 jam Welding time per unit 10 jam Tarip upah per jam: Shaper Rp11,00 Welder Rp15,00 Budget overhead pabrik atas dasar jam kerja langsung: Budget overhead pabrik tetap Rp 57.600,00 Budget overhead pabrik variabel Rp120.000,00 Pertanyaan: 1. Tentukan standar harga bahan baku per ton. 2. Tentukan standar efisiensi bahan baku per unit. 3. Tentukan standar tarip upah langsung per jam kerja langsung. 4. Tentukan standar efisiensi tenaga kerja langsung per unit. 5. Tentukan tarip overhead pabrik variabel. 6. Tentukan tarip overhead pabrik tetap. 7. Tentukan harga pokok standar.

Sistem Harga Pokok Standar - Penentuan Standar

akuntansi biaya bab9 POKOK BAHASAN 9: SISTEM HARGA POKOK STANDAR - PENENTUAN STANDAR SUBPOKOK BAHASAN: 1.1. Standar, normal, dan sesungguhnya. 1.2. Penggunaan biaya standar. 1.3. Jenis standar. 1.4. Standar bahan baku. 1.5. Standar tenaga kerja langsung. 1.6. Standar overhead pabrik. MATERI PERKULIAHAN 1.1. Standar, Normal, dan Sesungguhnya Harga pokok produk dapat ditetapkan atas dasar harga pokok sesungguhnya, harga pokok normal, dan harga pokok standar. Penentuan harga pokok produk berdasar biaya sesungguhnya memiliki kelemahan dalam hal pengumpulan biaya overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu, penentuan harga pokok produk berdasar biaya sesungguhnya ini dimodifikasi dengan menetapkan biaya overhead pabrik atas dasar taksiran. Untuk kepentingan pengendalian biaya, harga pokok produk ditetapkan berdasar biaya standar. 1.2. Penggunaan Biaya Standar Biaya standar dapat digunakan untuk (1) pengendalian biaya, (2) penentuan harga pokok persediaan, (3) perencanaan anggaran, (4) penentuan harga jual, dan (5) mengurangi pekerjaan pencatatan (record-keeping). Tujuan pengendalian biaya adalah untuk membantu manajemen agar dapat membuat produk dengan biaya produksi yang serendah mungkin pada standar kualitas yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan adanya standar, manajemen dapat membuat perbandingan antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar sehingga dapat mengukur prestasi dan menghilangkan ketidak-efisienan. Harga pokok persediaan dapat dinilai sebesar biaya standar, sedang selisih dengan biaya sesungguhnya akibat ketidak-efisienan dan kapasitas mengganggur dilaporkan sebagai biaya periode. Untuk keperluan pelaporan kepada pihak eksternal, persediaan harus disesuaikan sehingga disajikan sebesar biaya sesungguhnya. Biaya standar sangat bermanfaat untuk penyusunan anggaran pada periode tertentu. Anggaran adalah biaya standar pada tingkat aktivitas yang diharapkan untuk periode tertentu. Harga jual dan harga pokok mempunyai hubungan yang sangat erat. Jika harga jual diturunkan maka diharapkan kuantitas yang dijual akan meningkat. Jika kuantitas yang dijual bertambah maka harga pokok per unit akan turun karena adanya biaya overhead pabrik tetap. Dengan adanya biaya standar, manajemen dapat membuat kombinasi harga jual dan kuantitas yang dijual pada berbagai tingkat kegiatan sehingga akan dicapai laba yang maksimal. Kegiatan pencatatan akan dapat dikurangi jika digunakan biaya standar karena dengan menggunakan standar pencatatan rinci tidak diperlukan. Jika persediaan dinilai sebesar harga pokok standar maka pencatatan persediaan hanya membutuhkan catatan tentang kuantitas persediaan saja. 1.3. Jenis Standar. Ada tiga jenis standar, yaitu (1) standar tetap (dasar), (3) standar ideal, dan (3) standar yang dapat dicapai. Standar tetap adalah standar yang sekali ditetapkan tidak berubah. Standar ini mungkin ideal pada saat ditetapkan tetapi dengan berjalannya waktu terjadi perubahan yang mendasari disusunnya standar sehingga menyebabkan standar tersebut tidak sesuai lagi. Standar ini jarang digunakan akibat penyusutan manfaatnya. Standar ideal adalah standar yang disusun pada kondisi yang sempurna. Standar ini disusun dengan asumsi bahwa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik dapat diperoleh dengan harga yang termurah (minimum) setiap saat. Dalam penyusunan standar ideal diasumsikan bahwa pemakaian biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik telah optimal pada kapasitas produksi 100%. Dalam kenyataan, standar ini tidak akan dapat ditemui sehingga selisih yang terjadi selalu merupakan selisih yang tidak menguntungkan (unfavorable variances). Standar yang dapat dicapai (attainable standards) adalah standar yang didasarkan pada tingkat efisiensi yang tinggi yang dapat dicapai oleh karyawan. Standar ini disusun dengan asumsi bahwa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik dapat diperoleh dengan harga terbaik (good overall price). Dalam menyusun standar ini dipertimbangkan bahwa tenaga kerja tidak dapat berkerja 100% efisiensi, dimungkinkan adanya produk rusak normal, dan perusahaan tidak mungkin beroperasi pada kapasitas 100%. Standar dapat dibedakan menjadi (1) standar bahan baku, (2) standar tenaga kerja langsung, dan (3) standar overhead pabrik. 1.4. Standar Bahan Baku Standar bahan baku adalah biaya bahan baku yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi satu unit produk. Standar bahan baku dapat dibedakan menjadi standar harga bahan baku dan standar efisiensi (pemakaian) bahan baku. Contoh Dalam tahun 1999, Standard Corporationmerencanakan memproduksi 2.000 unitclown customes (pakaian) dan akan dijual dengan harga Rp100,00 per unit. Berdasarkan penelitian, setiap unit produk jadi (clown customes) membutuhkan bahan baku (kain) 2 yards. Harga bahan baku yang dapat disanggupi oleh pemasok adalah Rp5,00 per yard. Pertanyaan: 1. Tentukan standar harga bahan baku per yard. 5 2. Tentukan standar efisiensi bahan baku per unit produk 2. 3. Tentukan standar biaya bahan baku per unit produk. 5 x 2 = 10 1.5. Standar Tenaga Kerja Langsung Standar tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya dipekerjakan untuk memproduksi satu unit produk. Standar tenaga kerja langsung dapat dibedakan menjadi standar tarip upah langsung dan standar efisiensi tenaga kerja langsung. Contoh Clown customes pada Standard Corporation di atas diproses melalui dua tahap, yaitu cutting (pemotongan) dansewing (penjahitan). Berdasarkan penelitian, waktu yang dibutuhkan untuk memotong setiap unit produk adalah 1 jam, sedang untuk menjahit adalah 2 jam. Perusahaan mempunyai satu mesin potong dan dua mesin jahit yang masing-masing dikerjakan oleh seorang karyawan yang bekerja selama 40 jam seminggu. Dalam satu tahun karyawan bekerja selama 50 minggu. Tarip upah per jam untuk setiap karyawan ditetapkan sebagai berikut. Moe (pemotong) Rp12,00 Larry (penjahit) 7,00 Curly (penjahit) 5,00 Pertanyaan: 1. Tentukan total jam kerja langsung yang diharapkan dalam tahun 1999. 2. Tentukan standar tarip upah langsung per jam kerja langsung. 3. Tentukan standar efisiensi tenaga kerja langsung per unit. 4. Tentukan standar biaya tenaga kerja langsung. 1.6. Standar Overhead Pabrik Standar overhead pabrik adalah biaya overhead pabrik yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi satu unit produk. Standar overhead pabrik dapat dibedakan menjadi standar overhead pabrik tetap dan standar overhead pabrik variabel. Contoh Budget overhead pabrik pada Standard Corporation di atas diproyeksikan pada tingkat kegiatan 6.000 jam kerja langsung. Biaya overhead pabrik variabel: Bahan penolong Rp 600,00 Upah tidak langsung 3.000,00 Pemeliharaan 1.200,00 Bahan bakar 1.800,00 Rp6.600,00 Biaya overhead pabrik tetap: Listrik Rp 3.500,00 Supervisi 25.000,00 Depresiasi 1.500,00 Sewa pabrik 6.000,00 Rp36.000,00 Pertanyaan: 1. Tentukan tarip overhead pabrik variabel. 2. Tentukan tarip overhead pabrik tetap. 3. Tentukan standar biaya overhead pabrik variabel. 4. Tentukan standar biaya overhead pabrik tetap. 5. Tentukan standar untuk Standard Corporation: a. Unit produksi yang diharapkan pada kapasitas normal. b. Jam kerja langsung pada kapasitas normal. c. Harga pokok standar per unit. LATIHAN Berikut ini adalah data yang dikumpulkan dari Bates Corporation. Rencana produksi tahun 1999 30.000 unit Bahan baku yang dibutuhkan untuk setiap unit produk 2 ton Harga bahan baku per ton atas dasar pesanan: 1 – 25.000 ton Rp200,00 per ton 25.0001 – 50.000 ton Rp190,00 per ton 50.0001 – 75.000 ton Rp185,00 per ton Tenaga kerja langsung yang dibutuhkan: Shaping time per ton 3 jam Welding time per unit 10 jam Tarip upah per jam: Shaper Rp11,00 Welder Rp15,00 Budget overhead pabrik atas dasar jam kerja langsung: Budget overhead pabrik tetap Rp 57.600,00 Budget overhead pabrik variabel Rp120.000,00 Pertanyaan: 1. Tentukan standar harga bahan baku per ton. 2. Tentukan standar efisiensi bahan baku per unit. 3. Tentukan standar tarip upah langsung per jam kerja langsung. 4. Tentukan standar efisiensi tenaga kerja langsung per unit. 5. Tentukan tarip overhead pabrik variabel. 6. Tentukan tarip overhead pabrik tetap. 7. Tentukan harga pokok standar.

Peranan Akuntansi Biaya

BAB 8 PERANAN AKUNTANSI BIAYA PENGERTIAN AKUNTANSI BIAYA Akuntansi biaya adalah suatu bidang akuntansi yang diperuntukkan bagi proses pelacakan, pencatatan, dan analisa terhadap biaya-biaya yang berhubungan dengan aktivitas suatu organisasi untuk menghasilkan barang atau jasa. Biaya didefinisikan sebagai waktu dan sumber daya yang dibutuhkan dan menurut konvensi diukur dengan satuan mata uang. Penggunaan kata beban adalah pada saat biaya sudah habis terpakai. Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya menurut beberapa pakar: 1. Menurut Schaum Pengertian dari Akuntansi biaya: adalah suatu prosedur untuk mencatat dan melaporkan hasil pengukuran dari biaya pembuatan barang atau jasa. Fungsi utama dari Akuntansi Biaya: Melakukan akumulasi biaya untuk penilaian persediaan dan penentuan pendapatan. 1. Menurut Carter dan Usry Pengertian dari Akuntansi Biaya: Penghitungan biaya dengan tujuan untuk aktivitas perencanaan dan pengendalian, perbaikkan kualitas dan efisiensi, serta pembuatan keputusan yang bersifat rutin maupun strategis. • Pendekatan akuntansi biaya Ada tiga pendekatan yang biasa dilakukan untuk akuntansi biaya, yaitu biaya standar (standard costing), biaya berdasarkan kegiatan (activity-based costing), dan biaya berdasarkan hasil (throughput accounting). • Revolusi dalam akuntansi biaya Akuntansi biaya telah mengalami perubahan yang dramatis, dimana perkembangan sistem komputer hampir menghapuskan pembukuan secara manual. Akuntansi biaya kini telah menjadi kebutuhan nyata dalam semua organisasi termasuk bank, organisasi profesional, serta lembaga pemerintah. Dewasa ini telah banyak perusahaan yang memasang metode pabrikasi produk, perdagangan produk, atau pemberian jasa dengan bantuan komputer. Adanya teknologi ini telah sangat memberikan dampak terhadap akuntansi biaya. • Pengajaran dalam akuntansi biaya Banyak bahan pelajaran yang diajarkan dalam akuntansi biaya, dimana kesemuanya selalu berkaitan dengan biaya-biaya yang mungkin timbul dalam proses produksi. Pembelajaran yang dilakukan dalam akuntansi biaya antara lain mengenai penentuan harga pokok produk: bersama dan sampingan, harga pokok proses, pembiayaan: biaya variabel dan biaya tetap, biaya overhead pabrik, departementalasi biaya overhead, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja: langsung dan tidak langsung, pengendalian biaya, serta analisis biaya pemasaran. • Manfaat akuntansi biaya Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat bagi manajemen untuk memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis, serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya. Manfaat biaya adalah menyediakan salah satu informasi yang diperlukan oleh manajemen dalam mengelola perusahaannya, yaitu untuk perencanaan dan pengendalian laba; penentuan harga pokok produk dan jasa; serta bagi pengambilan keputusan oleh manajemen. • Keterbatasan dalam sistem akuntansi biaya Dalam akuntansi biaya juga terdapat beberapa kekurangan yang menyertainya, terutama dalam sistem akuntansi biaya yang telah ketinggalan zaman. Gejala-gejala dari sistem biaya yang ketinggalan zaman diantaranya ialah hasil dari penawaran sulit dijelaskan, harga pesaing nampak lebih rendah sehingga kelihatan tidak masuk akal, produk-produk yang sulit diproduksi menunjukkan laba yang tinggi, manajer operasional berkeinginan menghentikan produk-produk yang kelihatan menguntungkan, marjin laba sulit dijelaskan, pelanggan tidak mengeluh atas biaya naiknya harga, departemen akuntansi menghabiskan banyak waktu hanya untuk memberi data biaya bagi proyek khusus, dan biaya produk berubah karena adanya perubahan peratauran pelaporan. • KONSEP OBJEK BIAYA Sistem akuntansi manajemen dibuat untuk mengukur dan membebankan biaya kepada entitas yang disebut objek biaya Objek biaya : produk, pelanggan, departemen, proyek, aktivitasdan sebagainya, di mana biaya diukur dan dibebankan Aktivitas: unit dasar kerja yang dilakukan dalam sebuah organisasi • KLASIFIKASI BIAYA BERDASAR FUNGSI POKOK PERUSAHAAN Perusahaan Manufaktur: 1. BIAYA PRODUKSI • Bahan Langsung • Tenaga kerja langsung • Biaya Overhead Pabrik 2. BIAYA NON PRODUKSI: • Biaya Penjualan dan marketing • Biaya administrasi • KLASIFIKASI BIAYA Berdasarkan konsep Akuntansi Keuangan (Konsep Akrual) 1.BIAYA PRODUK Semua biaya yang terkait dengan pemerolehan atau pembuatan suatu produk Dalam perusahaan manufaktur maka biaya produk meliputi: Bahan Langsung, TKL, BOP Karena biaya produk ditentukan dalam persediaan, maka disebut juga Inventoriable Cost 2.BIAYA PERIODIK Semua biaya yang tidak termasuk dalam biaya produk. Biaya ini adalah beban dalam laporan laba rugi dalam periode dimana biaya tersebut terjadi. Yang termasuk biaya periodik dalam produk manufaktur meliputi: Beban penjualan dan biaya administrasi • Klasifikasi Biaya Secara Umum Akuntansi biaya menghasilkan biaya untuk memenuhi pencapaian tujuan antara lain penentuan harga pokok, perencanaan dan pengendalian biaya serta pengambilan keputusan, maka dari itu penyajian biaya diklasifikasikan dengan tepat sangat diperlukan agar data yang dihasilkan akurat sebab informasi tersebut diperlukan untuk tindak lanjut dalam melaksanakan kegitan perusahaan dalam mengevaluasi serta melakukan perbaikan dimasa yang akan datang. Pada akuntansi biaya, umumnya penggolongan biaya ditentukan atas dasar tujuan yang akan dicapai dengan penggolongan tersebut, karena pada akuntansi biaya dikenal konsep different costs for different purposes, yang artinya biaya yang berbeda digunakan untuk kepentingan yang berbeda pula. Pada dasarnya klasifikasi biaya adalah preses pengelompokan biaya atas keseluruhan elemen biaya secara sistematis ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih rinci yang bertujuan memberikan informasi biaya yang lebih lengkap bagi manajemen dalam mengelola perusahaan. • Peranan Akuntansi Biaya Akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkat akuntansi untuk kegiatan perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efisiensi, serta membuat baik keputusan rutin maupun keputusan strategik. Dalam hal ini, pengumpulan, penyajian, dan analisis informasi dalam kaitannya dengan biaya dan manfaat sangat membantu manajemen dalam melaksanakan tugas-tugas berikut : 1. Menyusun dan melaksanakan rencana serta anggaran operasi dalam kondisi yang ekonomis dan bersaing. 2. Menetapkan metode kalkulasi biaya yang menjamin adanya pengendalian, pengurangan biaya, dan perbaikan mutu. 3. Mengendalikan jumlah persediaan secara fisis, dan menentukan biaya dari masing-masing barang dan jasa yang diproduksi untuk tujuan penentuan harga dan mengevaluasi prestasi suatu produk, departemen atau divisi. 4. Menghitung biaya dan laba perusahaan untuk suatu periode akuntansi. • METODE HARGA POKOK PROSES KARAKTERISTIK METODE HARGA POKOK PROSES Karakter produksinya sbb: 1. Produk yg dihasilkan merupakan produk standar 2. Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama 3. Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu PERBEDAAN METODE HARGA POKOK PROSES DENGAN METODE HARGA POKOK PESANAN 1. pengumpulan biaya produksi Metode harga pokok pesanan mengumpulkan biaya produksi menurut pesanan, sedangkan metode harga pokok proses mengumpulka biaya produksi per departemen produksi per periode akuntansi 2. perhitungan harga pokok produksi per satuan metode harga pokok pesanan menghitung harga pokok produksi per satuan dengan cara membagi total biaya yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan. Perhitungan ini dilakukan pada saat pesanan telah selesai diproduksi. Metode harga pokok proses menghitung harga pokok produksi per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan. Perhitungan ini dilakukan setiap akhir periode akuntansi ( biasanya akhir bulan) 3. penggolongan biaya produksi dalam metode harga pokok pesanan, biaya produksi harus dipisahkan menjadi biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung. Biaya produksi langsung dibebankan kepada produk berdasar biaya sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya produksi tidak langsung dibebankan kepada produk berdasarkan tariff yang ditentukan dimuka. Didalam metode harga pokok proses, pembedaan biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung seringkali tidak diperlukan, terutama jika perusahaan hanya menghasilkan satu macam produk ( seperti perusahaan semen, pupuk, bumbu masak). Karena harga pokok persatuan produk dihitung setiap akhir bulan, maka umumnya biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar biaya yang sesungguhnya terjadi. 4. unsur biaya yang dikelompokkan dalam biaya overhead pabrik. Dalam metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung. Dalam metode ini biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tariff yang ditentukan dimuka. Di dalam metode harga pokok proses, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku dan bahan penolong dan biaya tenaga kerja ( baik yang langsung maupun yang tidak langsung). Dalam metode ini biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk sebesar biaya yang sesungguhnya terjadi selama periode akuntansi tertentu. Manfaat informasi harga pokok produksi 1. Menentukan harga jual produk 2. Memantau realisasi biaya produksi 3. Menghitung laba atau rugi periodic 4. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca METODE HARGA POKOK PROSES- TANPA MEMPERHITUNGKAN PERSEDIAAN PRODUK DALAM PROSES AWAL VARIASI CONTOH PENGGUNAAN METODE HARGA POKOK PROSES YANG DIURAIKAN DALAM BAB INI MENCAKUP: a. metode harga pokok proses yang diterapkan dalam perusahaan yang produknya dioleh hanya melalui satu departemen produksi b. metode harga pokok proses yang diterapkan dalam perusahaan yang produknya diolah melalui lebih dari satu departemen produksi c. pengaruh terjadinya produk yang hilang dalam proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan, dengan anggapan: • produk hilang pada awal proses • proiduk hilang pada akhir proses METODE HARGA POKOK PROSES – PRODUK DIOLAH MELALUI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI Contoh 1. PT Risa Rimendi mengolah produknya secara massa melalui satu departemen produksi. Jumlah biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari 19x1 disajikan dalam gambar 3.1 Biaya bahan baku Biaya bahan penolong Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Rp 5.000.000 Rp 7.500.000 Rp 11.250.000 Rp 16.125.000 Total biaya produksi Rp 39.875.000 Jumlah produk yang dihasilkan selama bulan tersebut adalah : Produk jadi Produk dalam proses pada akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut: Biaya bahan baku : 100 %;biaya bahan penolong 100 %, biaya tenaga kerja 50 %; biaya overhead pabrik 30 %. 2.000 kg 500 kg Data produksi PT Risa Rimendi Bulan Januari 19x1 Masuk ke dalam proses: 2.500 kg Produk jadi : 2000 kg Produk dalam proses akhir 500 kg Perhitungan harga pokok produksi per satuan Unsure biaya produksi Total biaya Unit ekuivalensi Biaya produksi per satuan (1) (2) (3) (2);(3) Bahan baku Bahan penolong Tenaga kerja Overhead pabrik Rp 5.000.000 Rp 7.500.000 Rp 11.250.000 Rp 16.125.000 39.875.000 2.500 2.500 2.250 2.150 Rp 2.000 3.000 5.000 7.500 17.500 Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses Harga pokok produk jadi : 2.000 x Rp 17.500 Rp 35.000.000 Harga pokok persediaan produk dalam proses Biaya bahan baku : 100 % x 500 x Rp 2.000 = Rp 1.000.000 Biaya bahan penolong 100 % x 500 x Rp 3.000= Rp 1.500.000 Biaya tenaga kerja 50 % x 500 x Rp 5.000= Rp 1.250.000 Biaya overhead pabrik 30 % x 500 x rp 7.500= Rp 1.125.000 Rp 4.875.000 Jumlah biaya produksi bulan januari 19x1 Rp 39.875.000 Jurnal pencatatan biaya produksi jurnal untuk mencatat biaya bahan baku ; Barang dalam proses- biaya bahan baku Rp 5.000.000 Persediaan bahan baku Rp 5.000.000 Jurnal untuk mencatat biaya bahan penolong Barang dalam proses- biaya bahan penolong Rp 7.500.000 Persediaan bahan penolong Rp 7.500.000 Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja Barang dalam proses- biaya tenaga kerja Rp 11.250.000 Gaji dan upah Rp 11.250.000 JurnaL untuk mencatat biaya overhead pabrik Barang dalam proses- biaya overhead pabrik Rp 16.125.000 Berbagai rekening yang dikredit Rp 16.125.000 Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang Persediaan produk jadi Rp 35.000.000 Barang dalam proses- biaya bahan baku Rp 4.000.000 Barang dalam proses- biaya bahan penolong Rp 6.000.000 Barang dalam proses-biaya tenaga kerja Rp 10.000.000 Barang dalam proses- biaya overhead pabrik Rp 15.000.000 Jurnal mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai dioleh pada akhir bulan januari 19 x1 Persediaan produk dalam proses Rp 4.875.000 Barang dalam proses – biaya bahan baku Rp 1.000.000 Barang dalam proses – biaya bahan penolong Rp 1.500.000 Barang dalam proses- Biaya tenaga kerja Rp 1.250.000 Barang dalam proses – biaya overhead pabrik Rp 1.125.000 METODE HARGA POKOK PROSES –PRODUK DIOLAH MELALUI LEBIH DARI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI Perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama adalah merupakan perhitungan yang bersifat kumulatif. Karena produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama telah merupakan produk jadi dari departemen sebelumnya, yang membawa biaya produksi dari departemen produksi sebelumnyua tersebut, maka harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama terdiri dari: a. biaya produksi yang dibawa dari departemen sebelumnya b. biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen setelah departemen pertama Contoh2: PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar berikut : Data produksi Bulan Januari 19x1 Departemen A Departemen B Produk yang dimasukkan dalam proses 35.000 kg Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B 30.000 kg Produk selesai yang ditransfer ke gudang 24.000 kg Produk dalam proses akhir bulan 5.000 kg 6.000 kg Biaya yang dikeluarkan bulan Januari 19x1 Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Rp 70.000 Rp 155.000 Rp 248.000 Rp 0 Rp 270.000 Rp 405.000 Tingkat penyelesaian produk dalam produk proses akhir Biaya bahan baku Biaya konversi 100% 20% 50% Perhitungan harga pokok produksi per satuan departemen A Unsur biaya produksi Total biaya Unit ekuivalensi Biaya produksi per kg Bahan baku Tenaga kerja Overbead pabrik Rp 70.000 155.000 248.000 35.000 31.000 31.000 Rp 2 5 8 Total Rp 173.000 Rp 15 Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses dep A Harga pokok produk jadi : 30.000 x Rp 15 Rp 450.000 Harga pokok persediaan produk dalam proses Biaya bahan baku : 100 % x 5.000 x Rp 2 = Rp 10.000 Biaya tenaga kerja 20 % x 5.000 x Rp 5 = Rp5.000 Biaya overhead pabrik 20 % x 5.000 x Rp 8= Rp 8.000 Rp 23.000 Jumlah biaya produksi Departemen A bulan januari 19x1 Rp 473.000 Jurnal pencatatan biaya produksi departemen A Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku : Barang dalam proses-biaya bahan baku departemen A Rp 70.000 Persediaan bahan baku Rp 70.000 Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja : Barang dalam proses- biaya tenaga kerja departemen A Rp 155.000 Gaji dan upah Rp 155.000 Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik departemen A Barang dalam proses- biaya overhead pabrik departemen A Rp 248.000 Berbagai rekening yang di kredit Rp 248.000 Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh departemen A ke departemen B: Barang dalam proses – biaya bahan baku departemen B Rp 450.000 Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A Rp 60.000 Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A Rp 150.000 Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A Rp 240.000 Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai diolah dalam department A pada akhir bulan januari 19x1 Persediaan produk dalam proses-departemen A Rp 23.000 Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A Rp 10.000 Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A Rp 5.000 Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A Rp 8.000 Perhitungan harga pokok produksi per satuan departemen B Unsur biaya produksi Total biaya Unit ekuivalensi Biaya produksi per kg Tenaga kerja Overbead pabrik 270.000 405.000 27.000 27.000 10 15 Total Rp 675.000 Rp 25 Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses dep B Harga pokok produk selesai yang di transfer departemen B ke gudang Harga pokok dari departemen A : 24.000 x Rp 15 Biaya yang ditambahkan oleh departemen B : 24.000x Rp 25 Rp 360.000 600.000 Total harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang 24.000 x Rp 40 960.000 Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir Harga pokok dari departemen A : 6.000 x Rp 15 Biaya yang ditambahkan oleh departemen B: Biaya tenaga kerja 50 % x 6.000 x Rp 10 = Rp30.000 Biaya overhead pabrik 50 % x 6.000 x Rp 15= Rp 45.000 90.000 Rp 75.000 Total harga pokok persediaan produk dalam proses departemen B 165.000 Jumlah biaya produksi kumulatif Departemen B bulan januari 19x1 Rp 1.125.000 jurnal pencatatan biaya produksi departemen B Jurnal untuk mencatat penerimaan produk dari departemen A: : Barang dalam proses – biaya bahan baku departemen B Rp 450.000 Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A Rp 60.000 Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A Rp 150.000 Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A Rp 240.000 Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja : Barang dalam proses- biaya tenaga kerja departemen B Rp 270.000 Gaji dan upah Rp 270.000 Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik departemen B Barang dalam proses- biaya overhead pabrik departemen B Rp 405.000 Berbagai rekening yang di kredit Rp 405.000 Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh departemen B ke gudang Persediaan produk jadi Rp 960.000 Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen B Rp 360.000 Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B Rp 240.000 Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen B Rp 360.000 Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai diolah dalam department A pada akhir bulan januari 19x1 Persediaan produk dalam proses-departemen B Rp 165.000 Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen B Rp 90.000 Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B Rp 30.000 Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen B Rp 45.000 PENGARUH TERJADINYA PRODUK YANG HILANG DALAM PROSES TERHADAP PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUK PER SATUAN Pengaruh terjadinya produk yang hilang pada awal proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan Contoh3: PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar berikut : Data produksi Bulan Januari 19x1 Departemen A Departemen B Produk yang dimasukkan dalam proses 1.000 kg Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B 700 kg Produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut : Biaya bahan baku & penolong 100 % biaya konversi 40 % Biaya bahan penolong 60 %, biaya konversi 50 % 200 kg 100 kg Produk yang hilang pada awal proses 100 kg 200 kg Biaya produksi Bulan Januari 19 x1 Departemen A Departemen B Biaya bahan baku Rp 22.500 Rp - Biaya bahan penolong 26.100 16.100 Biaya tenaga kerja 35.100 22.500 Biaya overhead pabrik 45.800 24.750 Perhitungan biaya produksi per unit departemen A bulan januari 19 x1 Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemn A ( unit ekuivalensi) Biaya produksi Departemen A Biaya per kg produk yang dihasilkan oleh departemen A Biaya bahan baku 700 kg + 100 % x 200 kg = 900 kg Rp 22.500 Rp 25 Biaya bahan penolong 700 kg + 100 % x 200 kg = 900 kg 26.100 29 Biaya tenaga kerja 700 + 40%x200kg=780kg 35.100 45 Biaya overhead pabrik 700 + 40%x200kg=780kg 46.800 60 Rp 130.500 Rp 159 Perhitungan biaya produksi Departemen A bulan Januari 19x1 Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 700 x Rp 159 Rp 111.300 Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 200 Kg) Biaya bahan baku 200 kg x 100 % x Rp 25 = 5.000 Biaya bahan penolong 200 kg x 100 % x Rp 29 = 5.800 Biaya tenaga kerja 200 kg x 40 %x Rp 45= 3.600 Biaya overhead pabrik 200 kg x 40 %x Rp 60= 4.800 Rp 19.200 Jumlah biaya produksi Departemen A Rp 130.500 Produk yang hilang pada awal proses di Departemen setelah departemen pertama Perhitungan penyesuaian harga pokok per unit dari departemen A Harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari departemen A Rp 111.300 : 700 Rp 159,00 Harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari departemen A setelah adanya produk yang hilang dalam proses di Departemen B sebanyak 200 kg adalah Rp 111.300 : ( 700 kg-200 kg) Rp 222.60 Penyesuaian harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari Departemen A Rp 63.60 Perhitungan biaya produksi per unit Departemen B bulan januari 19 x1 Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen B ( unit ekuivalensi) Jumlah biaya produksi yang ditambahkan di departemen B Biaya per kg yang ditambahkan Departemen B Biaya bahan penolong 400 kg + 60 % x 100 kg = 460 kg Rp 16.100 Rp 35 Biaya tenaga kerja 400 kg + 50 %x 100 kg = 450 kg Rp 22.500 Rp 50 Biaya overhead pabrik 400 kg + 50 %x 100 kg = 450 kg Rp 24.750 Rp 55 Rp 63.350 Rp 140 Perhitungan biaya produksi departemen B bulan Januari 19x1 Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg @ Rp 362.60 Rp 145.040 Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 100 kg): Harga pokok dari departemen A : 100 kg x Rp 222.6= Rp 22.260 Biaya bahan penolong : 100 kg x 60 % x Rp 35 = 2.100 Biaya tenaga kerja : 100 kg x 50 % x Rp 50 = 2.500 Biaya overhead pabrik : 100 kg x 50 %x Rp 55 =2.750 Rp 29.610 Jumlah kumulatif dalam departemen B Rp 174.650 Pengaruh terjadinya produk yang hilang pada akhir proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan Contoh: PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar berikut : Data produksi Bulan Januari 19x1 Departemen A Departemen B Produk yang dimasukkan dalam proses 1.000 kg Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B 700 kg Produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut : Biaya bahan baku & penolong 100 % biaya konversi 40 % Biaya bahan penolong 60 %, biaya konversi 50 % 200 kg 100 kg Produk yang hilang pada akhir proses 100 kg 200 kg Biaya produksi Bulan Januari 19 x1 Departemen A Departemen B Biaya bahan baku Rp 22.500 Rp - Biaya bahan penolong 26.100 16.100 Biaya tenaga kerja 35.100 22.500 Biaya overhead pabrik 45.800 24.750 Perhitungan biaya produksi per unit departemen A bulan januari 19 x1 Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemn A ( unit ekuivalensi) Biaya produksi Departemen A Biaya per kg produk yang dihasilkan oleh departemen A Biaya bahan baku 700 kg + 100 % x 200 kg + 100 kg= 1000 kg Rp 22.500 Rp 22.5 Biaya bahan penolong 700 kg + 100 % x 200 kg+ 100 kg = 1000 kg 26.100 26.10 Biaya tenaga kerja 700 + 40%x200kg + 100 kg = 880kg 35.100 39.89 Biaya overhead pabrik 700 + 40%x200kg+ 100 kg = 880kg 46.800 53.18 Rp 130.500 Rp141.67 Perhitungan biaya produksi Departemen A bulan Januari 19x1 Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 700 x Rp 141.67 Rp 99.169 Penyesuaian harga pokok produk selesai karena adanya produk yang hilang pada akhir proses 100 xRp 141,67 14.167,00 Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen B setelah disesuaikan : 700 x Rp 161,91 113.334,40 Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 200 Kg) Biaya bahan baku 200 kg x 100 % x Rp 22.5 = 4.500 Biaya bahan penolong 200 kg x 100 % x Rp 26.1 = 5.220 Biaya tenaga kerja 200 kg x 40 %x Rp 39.89= 3.191,2 Biaya overhead pabrik 200 kg x 40 %x Rp 53.18= 4.254,4 Rp 17.165.60 Jumlah biaya produksi Departemen A Rp 130.500,00 Produk yang hilang pada akhir proses di departemen produksi setelah departemen produksi pertama Perhitungan biaya produksi per unit Departemen B bulan januari 19 x1 Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen B ( unit ekuivalensi) Jumlah biaya produksi yang ditambahkan di departemen B Biaya per kg yang ditambahkan di Departemen B Biaya bahan penolong 400 kg + 60 % x 100 kg + 200 kg = 660 kg Rp 16.100 Rp 24.39 Biaya tenaga kerja 400 kg + 50 % x 100 kg + 200 kg = 650 kg Rp 22.500 Rp 34.62 Biaya overhead pabrik 400 kg + 50 % x 100 kg + 200 kg = 650 kg Rp 24.750 Rp 38.08 Rp 63.350 Rp 97.09 Perhitungan biaya produksi Departemen B bulan Januari 19x1 Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 400 x Rp 161.91 Rp 64.764,00 Biaya yang ditambahkan departemen B 400 x Rp 97.09 38.836,00 Harga pokok produk yang hilang pada akhir proses : 200 kg ( Rp 161.91+Rp 97.09 51.800,00 Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen B setelah disesuaikan : 400 x Rp 388.5 155.400,00 Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 100 Kg) Harga pokok dari departemen A : 100 kg x Rp 161.91 = Rp 16.191,00 Biaya bahan penolong 100 kg x 60 % x Rp 24.39 = 1.463.3 Biaya tenaga kerja 100 kg x 50 %x Rp 34.62= 1.731 Biaya overhead pabrik 100 kg x 50 %x Rp 38.08= 1.904 Rp 21.289.40 Jumlah biaya produksi Departemen B Rp 176.689.40

Activity Based Costing

BAB 7 ACTIVITY BASED COSTING A.Pengetian ABC Activity Based Costing merupakan metode yang menerapkan konsep-konsep akuntansi aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang lebih akurat. Namun dari perspektif manajerial, sistem ABC menawarkan lebih dari sekedar informasi biaya produk yang akurat akan tetapi juga menyediakan informasi tentang biaya dan kinerja dari aktivitas dan sumber daya serta dapat menelusuri biaya-biaya secara akurat ke objek biaya selain produk, misalnya pelanggan dan saluran distribusi. Sistem ABC timbul sebagai akibat dari kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi yang mampu mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk secara akurat. Hal ini didorong oleh: 1. Persaingan global yang tajam yang memaksa perusahaan untukcost effective 2. Advanced manufacturing technology yang menyebabkan proporsi biaya overhead pabrik dalam product cost menjadi lebih tinggi dariprimary cost. 3. Adanya strategi perusahaan yang menerapkan market driven strategy B.Kelemahan ABC Kelemahan sistem akuntansi biaya tradisional: a. Akuntansi biaya tradisional dirancang hanya menyajikan informasi biaya pada tahap produksi. b. Alokasi biaya overhead pabrik hanya didasarkan pada jam tenaga kerja langsung atau hanya dengan volume produksi. c. Ada diversitas produk, dimana masing-masing produk mengkonsumsi biaya overhead yang berbeda beda. C.Keunggulan ABCBeberapa keunggulan dari sistem biaya Activity Based Costing dalam penentuan biaya produksi adalah sebagai berikut : a. Biaya produk yang lebih realistik, khususnya pada industri manufaktur teknologi tinggi dimana biaya overhead adalah merupakan proporsi yang signifikan dari total biaya. b. Semakin banyak overhead dapat ditelusuri ke produk. Dalam pabrik yang modem, terdapat sejumlah akrivitas non lantai pabrik yang berkembang. Analisis sistem biaya Activity Based Costing itu sendiri memberi perhatian pada semua aktivitas sehingga biaya aktivitas yang non lantai pabrik dapat ditelusuri. c. Sistem biaya Activity Based Costing mengakui bahwa aktivitaslah yang menyebabkan biaya (activities cause cost) bukanlah produk, dan produklah yang mengkonsumsi aktivitas. d. Sistem biaya Activity Based Costing memfokuskan perhatian pada sifat riil dari perilaku biaya dan membantu dalam mengurangi biaya dan mengidentifikasi aktivitas yang tidak menambah nilai terhadap produk. e. Sistem biaya Activity Based Costing mengakui kompleksitas dari diversitas produksi yang modern dengan menggunakan banyak pemacu biaya (multiple cost drivers), banyak dari pemacu biaya tersebut adalah berbasis transaksi (transaction-based) dari pada berbasis volume produk. f. Sistem biaya Activity Based Costing memberikan suatu indikasi yang dapat diandalkan dari biaya produk variabel jangka panjang (long run variabel product cost) yang relevan terhadap pengambilan keputusan yang strategik. g. Sistem biaya Activity Based Costing cukup fleksibel untuk menelusu ri biaya ke proses, pelanggan, area tanggung jawab manajerial, dan juga biaya produk. Penerapan ABC sistem akan relevan bila biaya overhead pabrik merupakan biaya yang paling dominan dan multiproduk. Dalam merancang ABC sistem, aktivitas untuk membuat dan menjual produk digolonhkan dalam 4 kelompok, yaitu: a. Facility sustaining activity cost --- biaya yang berkaitan dengan aktivitas mempertahankan kapasitas yang dimiliki perusahaan. Misal biaya depresiasi, biaya asuransi, biaya gaji pegawai kunci b. Product sustaining activity cost ----- biaya yang berkaitan dengan aktivitas penelitian dan pengembangan produk dan biaya untuk mempertahankan produk untuk tetap dapat dipasarkan. Misal biaya pengujian produk, biaya desain produk c. Bacth activity cost ----- biaya yang berkaitan dengan jumlah bacth produk yang diproduksi. Misal biaya setup mesin. d. Unit level activity cost ---- biaya yang berkaitan dengan besar kecilnya jumlah unit produk yang dihasilkan. Misal biaya bahan baku, biaya tenaga kerja D. Pembebanan dua tahap dalam ABC Pembebanan Biaya Overhead pada Activity-Based Costing Pada Activity-Based Costing meskipun pembebanan biaya-biaya overhad pabrik dan produk juga menggunakan dua tahap seperti pada akuntansi biaya tradisional, tetapi pusat biaya yang dipakai untuk pengumpulan biaya-biaya pada tahap pertama dan dasar pembebanan dari pusat biaya kepada produk pada tahap kedua sangat berbeda dengan akuntansi biaya tradisional (cooper, 1991:269-270). Activity-Based costing menggunakan lebih banyak cost driver bila dibandingkan dengan sistem pembebanan biaya pada akuntansi biaya tradisional. Sebelum sampai pada prosedure pembebanan dua tahap dalam Activity-Based Costing perlu dipahami hal-hal sebagai berikut: 1. Cost Driver adalah suatu kejadian yang menimbulkan biaya.Cost Driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biaya-biaya overhead. Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama tingkat aktivitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktivitas-aktivitas selanjutnya. 2. Rasio Konsumsi adalah proporsi masing-masing aktivitas yang dikonsumsi oleh setiap produk, dihitung dengan cara membagi jumlah aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk dengan jumlah keseluruhan aktivitas tersebut dari semua jenis produk. 3. Homogeneous Cost Pool merupakan kumpulan biaya darioverhead yang variasi biayanya dapat dikaitkan dengan satu pemicu biaya saja. Atau untuk dapat disebut suatu kelompok biaya yang homogen, aktivitas-aktivitas overhead secara logis harus berhubungan dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk. Prosedure Pembebanan Biaya Overhead dengan Sistem ABC Menurut Mulyadi (1993: 94), prosedure pembebanan biayaoverhead dengan sisitem ABC melalui dua tahap kegiatan: a. Tahap Pertama Pengumpulan biaya dalam cost pool yang memiliki aktifitas yang sejenis atau homogen, terdiri dari 4 langkah : 1. Mengidentifikasi dan menggolongkan biaya kedalam berbagai aktifitas 2. Mengklasifikasikan aktifitas biaya kedalam berbagai aktifitas, pada langkah ini biaya digolongkan kedalam aktivitas yang terdiri dari 4 kategori yaitu: Unit level activity costing, Batch related activity costing, product sustaining activity costing, facility sustaining activity costing. Level tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Aktivitas Berlevel Unit (Unit Level Activities) Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unit bersifat proporsional dengan jumlah unit produksi. Sebagai contoh, menyediakan tenaga untuk menjalankan peralatan, karena tenaga tersebut cenderung dikonsumsi secara proporsional dengan jumlah unit yang diproduksi. b. Aktivitas Berlevel Batch (Batch Level Activities) Aktivitas dilakukan setiap batch diproses, tanpa memperhatikan berapa unit yang ada pada batch tersebut. Misalnya, pekerjaan seperti membuat order produksi dan pengaturan pengiriman konsumen adalah aktivitas berlevel batch. c. Aktivitas Berlevel Produk (Produk Level Activities) Aktivitas berlevel produk berkaitan dengan produk spesifik dan biasanya dikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau unit yang diproduksi atau dijual. Sebagai contoh merancang produk atau mengiklankan produk. d. Aktivitas Berlevel Fasilitas (Fasility level activities) Aktivitas berlevel fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses operasi perusahaan namun banyak sedikitnya aktivitas ini tidak berhubungan dengan volume. Aktivitas ini dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produk yang berbeda. Kategori ini termasuk aktivitas seperti kebersihan kantor, penyediaan jaringan komputer dan sebagainya. 3. Mengidentifikasikan Cost Driver Dimaksudkan untuk memudahkan dalam penentuan tarif/unit cost driver. 4. Menentukan tarif/unit Cost Driver Adalah biaya per unit Cost Driver yang dihitung untuk suatu aktivitas. Tarif/unit cost driver dapat dihitung dengan rumus sbb: Tarif per unit Cost Driver = CostDriverfitasJumlahAkti b. Tahap Kedua Penelusuran dan pembebanan biaya aktivitas kemasing-masing produk yang menggunakan cost driver. Pembebanan biaya overhead dari setiap aktivitas dihitung dengan rumus sbb: BOP yang dibebankan = Tarif/unit Cost Driver X Cost Driver yang dipilih Pengenalan Pembiayaan Berdasarkan Aktifitas (Activity Based Costing System – ABC System) Sebagaimana aktifitas manufaktur makin terus diotomasi dan tekanan persaingan internasional makin tinggi, banyak perusahaan manufaktur memperkenalkan sistem pembiayaan produk yang lebih lengkap. Walaupun overhead departmental yang telah dibagi-bagi per departemen memberikan biaya produk yang lebih akurat daripada overhead yang secara keseluruhan, masih dimungkinkan untuk mencapai akurasi yang lebih tinggi dengan memfokuskan kepada banyak aktivitas yang mempengaruhi proses produksi. Dalam sistem pembiayaan berdasarkan aktifitas (ABC system), dua tahap alokasi proses tetap digunakan. Tapi bukannya memasukkan overhead hanya pada department pada tahap 1, overhead tersebut diberikan pada lebih banyak pos yang melambangkan aktifitas dalam proses produksi. Aktifitas ini berbeda-beda dalam tiap perusahaan, tapi dapat dijabarkan sebagai contoh seperti berikut ini: dukungan engineering, penanganan bahan baku, set up mesin, penjadwalan produksi, inspeksi, penerimaan, pengiriman dan pembelian. Setelah memasukkan biaya pada pos aktifitas di tahap 1, driver biaya dididentifikasikan sesuai pos tersebut. Kemudian pada tahap 2 biaya overhead dialokasikan dari setiap aktifitas secara proprosional sesuai aktifitas yang dilakukan untuk setiap pekerjaan. Misalnya berapa jumlah inspeksi bisa menjadi angka yang menentukan jumlah overhead dari aktifitas inspeksi pada berbagai pekerjaan produksi. Jika pekerjaan A memerlukan 2 kali inspeksi lebih banyak daripada daripada pekerjaan B maka jumlah biaya overhead dari inspeksi pun akan menjadi 2 kali lebih banyak. Gambar 3-13 menunjukkan alokasi proses 2 tahap dalam ABC system. Peningkatan akurasi pembiayaan dalam sistemini datand dari tahap 1 yaitu menidentifikasi sejumlah pos aktifitas dan 2 penentuan angka driver untuk setiap aktifitas. Tren saat ini yang menggunakan lingkungan produksi yang sangat otomatis adalah menggunakan angka driver yang tinggi untuk penentuan overhead. ABC system makin banyak digunakan sebagaimana para manajer melihat kepentingan strategis untuk mendapatkan informasi biaya yang akurat. ABC system relatif baru dan sangat penting dalam pembahasan manajemen akuntansi. D. ABC pada perusahaan jasa Activity Based Costing untuk Perusahaan Jasa. Sistem kerja Activity Based Costing banyak diterapkan pada perusahaan manufaktur, tetapi juga dapat diterapkan pada perusahaan jasa. Penerapan metode Activity Based Costingpada perusahaan jasa memiliki beberapa ketentuan khusus, hal ini disebabkan oleh karakteristik yang dimiliki perusahaan jasa. Menurut Brinker (1992), karakteristik yang dimiliki perusahaan jasa, yaitu: 1) Output seringkali sulit didefinisi 2) Pengendalian aktivitas pada permintaan jasa kurang dapat didefinisi 3) Cost mewakili proporsi yang lebih tinggi dari total cost pada seluruh kapasitas yang ada dan sulit untuk menghubungkan antara output dengan aktivitasnya. Output pada perusahaan jasa adalah manfaat dari jasa itu sendiri yang kebanyakan tidak terwujud, contoh: kecepatan suatu jasa, kualitas suatu informasi, pemuasan konsumen. Output pada perusahaan jasa tidak berwujud membuat perhitungan menjadi sulit. Sekalipun sulit, dewasa ini bisnis jasa menggunakan metode Activity Based Costing pada bisnisnya. Untuk menjawab permasalahan diatas, Activity Based Costing benar-benar dapat digunakan pada perusahaan jasa, setidak-tidaknya pada beberapa perusahaan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan Activy Based Costing pada perusahaan jasa adalah: 1) Identifying and Costing Activities Mengidentifikasi dan menghargai aktivitas dapat membuka beberapa kesempatan untk pengoperasian yang efisien. 2) Spesial Challenger Perbedaan antara perusahaan jasa dan perusahaan manufaktur akan memiliki permasalahan-permasalahan yang serupa. Permasalahan itu seperti sulitnya mengalokasikan biaya ke aktivitas. Selain itu jasa tidak dapat menjadi suatu persediaan, karena kapasitas yang ada namun tidak dapat digunakan menimbulkan biaya yang tidak dapat dihindari. 3) Output Diversity Perusahaan jasa juga memiliki kesulitan-kesulitan dalam mengidentifikasi output yang ada. Pada perusahaan jasa, diversity yang menggambarkan aktivitas-aktivitas pendukung pada hal-hal yang berbeda mungkin sulit untuk dijelaskan atau ditentukan

Akuntansi Biaya Produk Pesanan

BAB 6 AKUNTANSI BIAYA PRODUKSI PESANAN A. Proses Akuntansi Biaya Produksi Pesanan Dalam metode pengumpulan biaya produksi berdasarkan pesanan mengalami suatu proses sebagai berikut. 1. Biaya produksi digolongkan menjadi dua kelompok yaitu Biaya Langsung (Direct Cost) dan Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) 2. Biaya Langsung adalah biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan langsung (direct materials) dan Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor) 3. Biaya Tidak Langsung adalah biaya selain bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung; yang dikenal dengan nama Biaya Pabrik Tidak Langsung (BPTL) atau Biaya Overhead Pabrik (Factory Overhead Cost) yang terdiri antara lain : a. Bahan tidak langsung (indirect materials) atau perlengkapan pabrik (factory supplies). b. Biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labor) c. Biaya penyusutan aktiva tetap pabrik d. Biaya asuransi pabrik e. Pajak bumi dan bangunan pabrik f. Biaya overhead lainnya 4. Biaya Langsung dibebankan kepada produk berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi 5. Biaya Tidak Langsung dibebankan pada produk berdasarkan tarif ditentukan di muka (predeterminet); yang diperhitungkan atas dasar yang telah ditetapkan pada saat menentukan tarif. 6. Harga Pokok Produksi Persatuan dihitung pada saat proses produksi telah selesai dengan membagi total biaya produksi suatu pesanan dengan produk yang dihasilkan dari proses produksi pesanan yang bersangkutan. 7. Semua jenis biaya akan dicatat dalam sebuah kartu yang dinamakan “job order cost sheet” atau “cost sheet” (kartu biaya untuk setiap pemesan) B. Akuntansi Untuk Bahan Baku Dan Bahan Pembantu Akuntansi untuk bahan baku dan bahan pembantu/penolong/suplai pabrik dapat dilakukan dengan dua cara, yang disesuaikan dengan proses produksinya, yaitu : 1. Bahan baku dan penolong dibeli untuk memenuhi persediaan di gudang, maka perlu dilakukan pencatatan perolehan bahan dalam suatu akun persediaan bahan (material) 2. Bahan untuk membuat produk pesanan tertentu. Di sini bahan baku yang di beli langsung diproses, dan tidak ada persediaan; maka tidak perlu adanya akun persediaan bahan, namun dapat langsung pada akun bahan dan dalam proses (materials and in process). C. Akuntansi Biaya Tenaga Kerja Akuntansi biaya tenaga kerja dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu : 1. Perhitungan upah dan gaji, serta pembayarannya. Pada tahap ini diperhitungkan total upah dan gaji serta pajak penghasilan yang dipotong 2. Distribusi upah dan gaji, yaitu pembebanan biaya upah dan gaji pada bagian-bagian yang menikmatinya. Bagian tersebut antara lain : a. Bagian produksi, yang terdiri dari Upah Langsung dan Upah Tidak Langsung. Upah Langsung dicatat pada akun barang dalam proses, sedangkan Upah Tidak Langsung dicatat dalam akun “Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya”. b. Bagian penjualan, yang berupa gaji bagian penjualan,dan dicatat dalam akun “Beban Penjualan”. c. Bagian Administrasi dan Umum, yang berupa gaji bagian administrasi dan umum, dan dicatat dalam akun “Beban Adminidtrasi Umum”. D. Akuntansi Biaya Overhead Pabrik Biaya Overhead Pabrik (Factory Overhead Cost) merupakan biaya pabrik tidak langsung, yang terdiri dari baya selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya Overhead pabrik dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu: a. Biaya Overhead Pabrik yang terjadi akibat adanya pesanan; dan b. Biaya Overhead Pabrik yang terjadi baik ada atau tidak ada pesanan. Pembebanan Biaya Overhead Pabrik dapat dilakukan atas dasar: © Biaya bahan baku © Biaya tenaga kerja langsung © Jam tenaga kerja langsung © Jam mesin, atau lainnya Tarif Biaya Overhead Pabrik atas dasar biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung disajikan dalam presentasi; dan atas dasar jam disajikan per jam mesin atau jam tenaga kerja langsung. Biaya Overhead Pabrik akan dicatat sebagai berikut. 1. Saat terjadinya dicatat dalam akun “Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya (Factory Overhead Control)” sebelah debit, dan akun “Sumber Biaya” di sebelahkredit. Dr. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp. xxx Kr. Akun-akun dikredit Rp. xxx 2. Saat pembebanan Biaya Overhead Pabrik dicatat dalam akun “Barang Dalam Proses” di sebelah debit dan akun “Biaya Overhead Pabrik Dibebankan (Applied Factory Oerhead)” di sebelah kredit. Dr. Barang Dalam Proses Rp. xxx Kr. Biaya Overhead Pabrik Dibebankan Rp. xxx 3. Saat periode akuntansi, Biaya Overhead Pabrik Dibebankan ditutup ke akun Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya. Dr. Biaya Overhead Pabrik Pabrik Dibebankan Rp. xxx Dr. Selisih Rp. xxx Kr biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp. xxx 4. Selisih dapat dibebankan (over-applied) atau selisih kurang dibebankan (under-applied) dapat ditutup ke akun Harga Pokok Penjualan atau akun-akun yang terkait, misalnya WIP Inventory, Finished Goods Inventory+Jurnalnya. 5. Selisih lebih: Dr. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp. xxx Kr. Harga Pokok Penjualan Rp. xxx atau Dr. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp. xxx Kr. Persediaan Barang Dalam Proses Rp. xxx Kr. Persediaan Barang Jadi Rp. xxx Kr. Harga Pokok Penjualan Rp. Xxx E. Akuntansi Biaya Produk Jadi dan Barang Dalam Proses Akhir Barang yang selesai diproduksi dan dimasukkan di gudang dicatat dengan mendebit akun “Persediaan Barang Jadi (Finished Goods)”, dan mengkredit akun “Barang Dalam Proses (Work in Process)”. Dr. Persediaan Barang Jadi Rp. xxx Kr. Barang Dalam Proses Rp. xxx Jika barang jadi tersebut diserahkan ke pemesan, maka dicatat dengan mendebit akun “Harga Pokok Penjualan” dan mengkredit akun “Persediaan Barang Jadi”. Dr. Harga Pokok Penjualan Rp. xxx Lr. Persediaan Barang Jadi Rp. xxx F. Tahapan Kalkulasi Biaya Produksi Pesanan Ada tujuh tahap dalam melakukan kalkulasi biaya berdasarkan pesanan (job costing), yaitu: Tahap I : mengidentifikasi objek-objek biaya (cost objects) Tahap II : mengidentifikasi biaya langsung dari pesanan Tahap III : memilih dasar alokasi biaya tidak langsung (indirect cost) Tahap IV : mengidentifikasi biaya-biaya tidak langsung yang dihubungkan dengan setiap dasar pembebanan biaya Tahap V : menghitung tarif biaya overhead pabrik dengan dasar pembebanan yang telah ditetapkan pada tahap IV Tahap VI : menghitung biaya tidak langsung yang dibebankan ke suatu pesanan * Tahap VII : menghitung biaya yang dibebankan kepada produk termasuk biaya langsung

Harga Pokok Pesanan

AKUNTANSI BIAYA (COST ACCOUNTING) POKOK BAHASAN 5: SISTEM HARGA POKOK PESANAN SUBPOKOK BAHASAN: 1.1. Penentuan harga pokok pesanan. 1.2. Akuntansi sistem harga pokok pesanan. 1.3. Produk rusak dan akuntansi produk rusak. 1.4. Produk cacat dan akuntansi produk cacat. 1.5. Sisa bahan dan akuntansi sisa bahan. 1.6. Limbah bahan dan akuntansi limbah bahan. MATERI PERKULIHAN 1.1. Penentuan Harga Pokok Pesanan Penentuan harga pokok produk pada perusahaan yang memproduksi barang berdasarkan pesanan pelanggan, seperti perusahaan percetakan, perusahaan konstruksi, perusahaan pembuat kapal, dan perusahaan pembuat pesawat terbang, sangat cocok menggunakan sistem harga pokok pesanan. Dalam sistem harga pokok pesanan, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap pesanan dengan menggunakan buku pembantu yang disebut kartu harga pokok pesanan (job order cost sheet). Kartu harga pokok pesanan dibuat untuk setiap pesanan. Kartu harga pokok pesanan mencatat informasi tentang pembebanan biaya produksi untuk setiap pesanan yang meliputi pemakaian bahan baku, alokasi biaya tenaga kerja langsung, dan pembebanan biaya overhead pabrik atas dasar tarif tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya. Contoh job order cost sheet dapat dilihat pada Polimeni Ch. 5 hal 208. Harga pokok setiap pesanan ditentukan pada saat pesanan selesai diproses. 1.2. Akuntansi Sistem Harga Pokok Pesanan Akuntansi dalam sistem harga pokok pesanan terdiri atas akuntansi untuk biaya bahan, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik, penyelesaian pesanan, dan penyerahan pesanan (penjualan). Akuntansi untuk biaya bahan dapat dibedakan menjadi akuntansi pembelian bahan dan pemakaian bahan. Akuntansi untuk biaya tenaga kerja dapat dibedakan menjadi akuntansi timbulnya biaya tenaga kerja dan alokasi biaya tenaga kerja. Akuntansi biaya overhead pabrik dapat dibedakan menjadi akuntansi untuk mencatat biaya overhead pabrik sesungguhnya dan pembebanan biaya overhead pabrik. Contoh PT Mojosongo Furniture memproduksi berbagai macam mebel serta peralatan rumah tangga dan kantor. Pada tanggal 25 Juni 2000, PT Mojosongo Furniture mendapat pesanan seperangkat meja dan kursi kantor dari PT Makmur. Harga jual pesanan tersebut ditetapkan sebesar Rp12.000.000,00 dan PT Makmur menginginkan pesanan tersebut diterima pada atau sebelum tanggal 10 Juli 2000. Pesanan PT Makmur merupakan pesanan no. 85. Berikut ini adalah informasi yang berhubungan dengan pesanan no. 85. 1. Pembelian bahan: Pada tanggal 2 Juli 2000, diterima bahan senilai Rp11.000.000,00 dari pembelian secara kredit dengan perincian sebagai berikut: § 20 lembar kayu mahoni (Rp500.000,00 per lembar).......................Rp10.000.000,00 § 100 liter cat melamin (Rp5.000 per liter)..................................................500.000,00 § 15 kaleng lem (Rp20.000,00 per kaleng)..................................................300.000,00 § 5 kotak paku (Rp40.000,00 per kotak).....................................................200.000,00 2. Pemakaian bahan: Pada tanggal 3 Juli 2000, departemen produksi meminta bahan dan mulai mengerjakan pesanan no. 85. Perincian bahan yang diminta adalah sebagai berikut. § 5 lembar kayu mahoni....................................................................Rp2.500.000,00 § Bahan penolong (tidak semua digunakan untuk pesanan no. 85): § 10 liter cat melamin......................................................................... 50.000,00 § 1 kaleng cat...................................................................................... 20.000,00 § 1 kotak paku.................................................................................... 40.000,00 3. Biaya tenaga kerja: Biaya tenaga kerja yang diakui minggu pertama Juli 2000 (tanggal 1 – 7 Juli 2000): § Upah langsung untuk pesanan no.73............................................. Rp 300.000,00 § Upah langsung untuk pesanan no. 85.................................................3.500.000,00 § Upah tidak langsung...........................................................................1.000.000,00 4. Biaya overhead pabrik dibebankan: § Biaya overhead pabrik dibebankan kepada pesanan no. 85 atas dasar tarif sebesar 75% dari upah langsung. 5. Biaya overhead pabrik sesungguhnya: Biaya overhead pabrik sesungguhnya selain bahan penolong dan upah tidak langsung adalah sebagai berikut. § Depresiasi mesin............................................................................. Rp 220.000,00 § Depresiasi gedung pabrik.................................................................... 290.000,00 § Macam-macam biaya overhead pabrik lain.........................................1.490.000,00 6. Penyelesaian pesanan: Pada tanggal 7 Juli 2000, pesanan no. 85 selesai diproses dan dikirim ke gudang barang jadi. 7. Penyerahan pesanan: Pesanan no. 85 dikirimkan kepada PT Makmur pada tanggal 10 Juli 2000 dan akan dibayar oleh PT Makmur 20 hari kemudian. Pertanyaan: 1. Buatlah jurnal untuk mencatat pembelian bahan baku dan bahan penolong pada tanggal 2 Juli 2000. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku dan bahan penolong pada tanggal 3 Juli 2000. 3. Buatlah jurnal untuk mencatat pengakuan biaya tenaga kerja pada tanggal 7 Juli 2000. 4. Buatlah jurnal untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik untuk pesanan no. 85 pada tanggal 7 Juli 2000. 5. Buatlah jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik sesungguhnya selain bahan penolong dan upah tidak langsung. 6. Buatlah jurnal untuk mencatat penyelesaian pesanan no. 85 yang dikirim ke gudang barang jadi pada tanggal 7 Juli 2000. 7. Buatlah jurnal untuk mencatat pengiriman pesanan no. 85 kepada PT Makmur pada tanggal 10 Juli 2000. Latihan Berikut ini transaksi yang terjadi pada PT Gunung Sari selama bulan Juli 2000: 1. Pada tanggal 5 Juli 2000, Departemen Pembelian membeli bahan secara kredit. a. 50.000 lembar aluminium seharga Rp15.000,00 per lembar. b. 500 liter cleaning fluid seharga Rp100.000,00 per liter. 2. Pada tgl. 7 Juli 2000, PT Gunung Sari menerima dua buah pesanan, yaitu pesanan 101 dan pesanan 102. Pesanan 101 diharapkan selesai tanggal 20 Juli 2000, sedang pesanan 102 diharapkan selesai tanggal 24 Juli 2000. Semua produk akan diproses melalui dua departemen produksi, yaitu Departemen Pembentukan dan Departemen Penyelesaian. Untuk memproses pesanan tersebut, pada tgl. 7 Juli 2000 masing-masing departemen produksi meminta bahan sebagai berikut. Pesanan Kuantitas Jenis Bahan Departemen Pembentukan 101 2.500 lembar Aluminium 102 300 lembar Aluminium Departemen Penyelesaian --- 10 liter Cleaning fluid 3. Biaya tenaga kerja yang dibayar pada akhir minggu kedua adalah: Tanggal Pembayaran Dep. Pembentukan Dep. Penyelesaian 15 Juli 2000: Upah langsung - pes 101 Rp31.000.000,00 Rp7.000.000,00 Upah langsung - pes 102 15.000.000,00 2.000.000,00 Upah tidak langsung 11.000.000,00 4. Biaya overhead pabrik dibebankan ke departemen produksi atas dasar upah langsung: a. Dep. Pembentukan: 100% dari upah langsung b. Dep. Penyelesaian: 50% dari upah langsung 5. Biaya overhead lain yang terjadi di Departemen Pembentukan: a. Biaya asuransi Rp24.000.000,00 b. Biaya penyusutan 3.000.000,00 c. PPh karyawan 4.000.000,00 6. Pada tanggal 19 Juli 2000, pesanan 101 selesai diproses dan langsung disimpan di gudang. 7. Pesanan 101 diserahkan kepada pemesan pada tanggal 20 Juli 2000 dan dibayar tunai seharga Rp143.000.000,00. 8. Biaya tenaga kerja yang dibayar pada akhir minggu ketiga adalah: Tanggal Pembayaran Dep. Pembentukan Dep. Penyelesaian 22 Juli 2000: Upah langsung - pes 102 4.000.000,00 Upah tidak langsung 1.500.000,00 9. Pesanan 102 selesai diproses pada tanggal 22 Juli 2000 dan segera disimpan di gudang. 10. Pada tanggal 24 Juli 2000 pesanan 102 diserahkan kepada pemesan dan dibayar tunai seharga Rp57.000.000,00. Pertanyaan: 1. Buatlah jurnal untuk mencatat pembelian bahan baku dan bahan penolong pada tanggal 5 Juli 2000. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku dan bahan penolong pada tanggal 7 Juli 2000. 3. Buatlah jurnal untuk mencatat pengakuan biaya tenaga kerja pada tanggal 15 Juli 2000. 4. Buatlah jurnal untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik untuk pesanan no. 101 dan 102 pada tanggal 15 Juli 2000. 5. Buatlah jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik sesungguhnya selain bahan penolong dan upah tidak langsung. 6. Buatlah jurnal untuk mencatat penyelesaian pesanan no. 101 yang dikirim ke gudang barang jadi pada tanggal 19 Juli 2000. 7. Buatlah jurnal untuk mencatat pengiriman pesanan no. 101 kepada pemesan pada tanggal 20 Juli 2000. 8. Buatlah jurnal untuk mencatat pengakuan biaya tenaga kerja pada tanggal 22 Juli 2000. 9. Buatlah jurnal untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik untuk pesanan no. 102 pada tanggal 22 Juli 2000. 10. Buatlah jurnal untuk mencatat penyelesaian pesanan no. 102 yang dikirim ke gudang barang jadi pada tanggal 22 Juli 2000. 11. Buatlah jurnal untuk mencatat pengiriman pesanan no. 102 kepada pemesan pada tanggal 24 Juli 2000. 1.3. Produk Rusak dan Akuntansi Produk Rusak Produk rusak (spoiled unit) adalah produk yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan dan tidak dapat diperbaiki. Produk rusak kemungkinannya dapat dijual atau harus dibuang. Perlakuan akuntansi terhadap produk rusak tergantung penyebab yang mengakibatkan terjadinya produk rusak. Penyebab terjadinya produk rusak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) normal dan (2) abnormal. Produk rusak normal adalah produk rusak yang terjadinya tidak dapat dihindari. Produk rusak abnormal adalah produk rusak yang terjadi karena kesalahan karyawan. Contoh 1 (Produk rusak normal) Setelah pesanan no. 110 selesai diproses diketahui bahwa 40 unit dari seluruh pesanan tersebut merupakan produk rusak. Harga pokok produk tersebut adalah Rp50.000,00 per unit dan produk rusak tersebut diperkirakan akan laku terjual Rp10.000,00 per unit. Pertanyaan: 1. Buatlah jurnal untuk mencatat terjadinya produk rusak jika produk rusak dialokasikan ke seluruh pesanan. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat terjadinya produk rusak jika produk rusak dialokasikan ke pesanan 110. Contoh 2 (Produk rusak abnormal) Dalam pesanan no. 116 sebanyak 5.000 unit dengan total harga pokok produksi Rp20.000.000,00, terdapat 20 unit produk rusak yang terjadi karena kecerobohan karyawan. Produk rusak tersebut diperkirakan akan laku dijual Rp500,00 per unit. Pertanyaan: Buatlah jurnal untuk mencatat produk rusak tersebut. Contoh 3 (Produk rusak normal dan abnormal) Pada bulan Agustus 2000, perusahaan menerima pesanan produksi sebanyak 10.000 unit yang diperkirakan 0,5%-nya akan rusak (produk rusak normal). Pada akhir Agustus 2000, dapat diselesaikan 9.910 unit produk sesuai dengan pesanan tetapi yang 90 unit merupakan produk rusak yang diperkirakan akan laku dijual Rp500,00 per unit. Total biaya produksi untuk memproses pesanan tersebut adalah Rp30.000.000,00. Pertanyaan: 1. Hitunglah jumlah produk yang rusak normal dan abnormal. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat terjadinya produk rusak normal jika rugi produk rusak: a. dialokasikan ke seluruh pesanan. b. dialokasikan ke pesanan tertentu. 3. Buatlah jurnal untuk mencatat terjadinya produk rusak abnormal. 4. Hitunglah harga pokok produk per unit yang baru jika rugi produk rusak: a. dialokasikan ke seluruh pesanan. b. dialokasikan ke pesanan tertentu. 1.4. Produk Cacat dan Akuntansi Produk Cacat Produk cacat (defective unit) adalah produk yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan dan dapat diperbaiki. Untuk itu diperlukan biaya perbaikan. Perlakuan akuntansi terhadap biaya perbaikan ini tergantung penyebab yang mengakibatkan terjadinya produk cacat. Seperti halnya pada produk rusak, penyebab terjadinya produk cacat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) normal dan (2) abnormal. Contoh Dari 40.000 unit produk yang diproses, 1.000 unit diantaranya merupakan produk cacat dan diperkirakan 1% dari produk yang diproses merupakan produk cacat normal. Total biaya perbaikan untuk memproses ulang 1.000 unit produk cacat tersebut menjadi produk baik adalah: - Bahan baku Rp 500.000,00 - Tenaga kerja langsung terutang 1.000.000,00 - BOP dibebankan 500.000,00 Pertanyaan: 1. Hitunglah jumlah unit produk cacat normal dan abnormal. 2. Hitunglah biaya perbaikan setiap jenis biaya perbaikan per unit. 3. Buatlah jurnal untuk mencatat terjadinya biaya perbaikan produk cacat normal jika: a. dialokasikan ke seluruh pesanan. b. dialokasikan ke pesanan tertentu. 4. Buatlah jurnal untuk mencatat terjadinya produk cacat abnormal. 1.5. Sisa Bahan dan Akuntansi Sisa Bahan Sisa bahan (scrap material) terjadi akibat dalam pemakaian bahan tidak semua bahan dimanfaatkan, artinya ada sebagian bahan yang tersisa. Sisa bahan ini tidak dapat dimanfaatkan untuk proses produksi, tetapi biasanya laku dijual. Perlakuan akuntansi terhadap hasil penjualan sisa bahan dapat dibedakan menjadi (1) dialokasikan ke seluruh pesanan atau (2) dialokasikan ke pesanan tertentu. Contoh Dalam memproses pesanan no. 120, terdapat sisa bahan yang laku dijual secara tunai seharga Rp100.000,00. Pertanyaan: Buatlah jurnal untuk mencatat penjualan sisa bahan tersebut jika sisa bahan: 1. dialokasikan ke seluruh pesanan, 2. dialokasikan ke pesanan tertentu. 1.6. Limbah Bahan dan Akuntansi Limbah Bahan Limbah bahan (waste material) adalah sisa bahan yang tidak laku dijual. Untuk itu diperlukan biaya untuk membuang atau memusnahkan limbah bahan tersebut. Perlakuan akuntansi terhadap biaya pembuangan atau pemusnahan limbah bahan dapat dibedakan menjadi (1) dialokasikan ke seluruh pesanan atau (2) dialokasikan ke pesanan tertentu. Contoh Dalam memproses pesanan no. 125, terdapat limbah bahan yang harus dibuang (dimusnahkan). Untuk itu dibayar biaya pembuangan sebesar Rp100.000,00. Pertanyaan: Buatlah jurnal untuk biaya pembuangan sisa bahan tersebut jika limbah bahan: 1. dialokasikan ke seluruh pesanan, 2. dialokasikan ke pesanan tertentu.

Job Costing

POKOK BAHASAN 3: PENENTUAN DAN PENGENDALIAN BIAYA BAHAN BAKU DAN BIAYA TENAGA KERJA SUBPOKOK BAHASAN: 1.1. Biaya bahan baku. 1.2. Akuntansi bahan baku. 1.3. Prosedur pengendalian bahan baku. 1.4. Biaya tenaga kerja. 1.5. Akuntansi biaya tenaga kerja. 1.6. Masalah khusus yang berhubungan dengan biaya tenaga kerja. MATERI KULIAH: 1.1. Biaya Bahan Baku Biaya bahan dapat dibedakan menjadi biaya bahan baku dan biaya bahan penolong. Biaya bahan baku adalah bahan yang identitasnya dapat dilacak pada produk jadi dan yang diproses menjadi produk jadi dengan menggunakan tenaga kerja dan overhead pabrik. Biaya bahan baku merupakan salah satu elemen biaya utama. Bahan penolong adalah bahan yang indentitasnya tidak dapat dilacak pada produk jadi dan nilai relatif tidak material. Biaya bahan penolong merupakan elemen biaya overhead pabrik. 1.2. Akuntansi Bahan Baku Akuntansi terhadap bahan baku dibedakan menjadi akuntansi pembelian bahan baku dan akuntansi pemakaian bahan baku. Prosedur pembelian bahan terdiri atas (1) permintaan pembelian, (2) pesanan pembelian, dan (3) penerimaan bahan. Oleh karena itu, terdapat 3 dokumen pembelian bahan, yaitu (1) Surat Permintaan Pembelian (lihatFigure 3-1 pada Polimeni-Ch.3-hal 92), (2) Surat Pesanan Pembelian (lihat Figure 3-2pada Polimeni-Ch.3-hal 92), dan (3) Laporan Penerimaan Barang (lihat Figure 3-3pada Polimeni-Ch.3-hal 93). Atas dasar 3 dokumen inilah pembelian bahan dicatat. Pencatatan persediaan bahan dapat menggunakan metode phisik maupun metode perpetual. Metode perpetual lebih baik untuk tujuan pengendalian dan lebih informatif dari pada metode phisik. Oleh karena itu, perusahaan menengah dan besar umumnya menggunakan metode perpetual. Contoh PT Sejahtera membeli secara kredit 100 unit bahan baku seharga Rp5.000,00 per unit dan 20 unit bahan penolong seharga Rp1.000,00 per unit. Dari bahan yang dibeli tersebut, bahan baku yang dipakai adalah 30 unit dan bahan penolong yang dipakai adalah 10 unit. Metode pencatatan persediaan yang digunakan adalah metode perpetual. Pertanyaan: 1. Buatlah jurnal untuk mencatat pembelian bahan baku dan bahan penolong tersebut. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku dan bahan penolong. 1.3. Prosedur Pengendalian Bahan Baku Pengendalian bahan baku dimaksudkan agar proses produksi dapat berjalan lancar, dalam arti bahan baku tersedia saat dibutuhkan, dan pengadaan bahan baku dilakukan secara efisien. Prosedur pengendalian bahan baku dapat menggunakan lima metode, yaitu (1) order cycling, (2) the min-max method, (3) the two-bin method, (4) the automatic order system, (5) the ABC plan. Metode order cycling adalah metode pengendalian bahan baku yang me-reviewbahan baku secara periodik, misal setiap 30 hari. Jangka waktu me-review dipengaruhi oleh jenis bahan bakunya. Bahan baku yang esensial membutuhkan jangka waktureview yang lebih pendek dibanding bahan baku yang kurang penting. Pada saat dilakukan review, pemesanan bahan baku dibuat sehingga pada saat dibutuhkan bahan baku akan tersedia. Metode the min-max adalah metode pengendalian bahan baku yang didasarkan atas asumsi bahwa persediaan bahan baku berada pada dua tingkat, yaitu tingkat maksimum dan tingkat minimum. Jika tingkat maksimum dan tingkat minimum sudah ditetapkan, maka pada saat persediaan menuju ke tingkat minimum pemesanan bahan baku harus dilakukan untuk menempatkan persediaan pada tingkat maksimum. Metode the two-bin method adalah metode pengendalian bahan baku yang dipakai jika bahan bakunya relatif tidak mahal. Dalam metode ini, bahan baku dipisahkan menjadi dua bagian yang disimpan dalam ruangan yang terpisah. Bagian pertama adalah bahan baku yang akan digunakan selama periode saat bahan baku diterima dan saat pemesanan dilakukan. Bagian kedua adalah bahan baku yang akan digunakan dalam periode saat pemesanan dan saat pengiriman. Pemesanan bahan dilakukan pada saat bahan bagian pertama sudah digunakan. Metode pemesanan otomatis (the automatic order system) adalah metode pengendalian bahan baku yang secara otomatis akan melakukan pemesanan bahan baku jika persediaan mencapai jumlah tingkat pemesanan kembali. Metode ini akan optimal jika digunakan komputer untuk mengadministrasikan persediaan bahan baku. Metode ABC (the ABC plan) digunakan jika perusahaan mempunyai persediaan bahan baku dalam jumlah besar dengan nilai yang berbeda-beda. Pengendalian bahan baku yang nilainya tinggi berbeda dengan persediaan yang nilainya rendah. Dalam metode ABC, persediaan bahan baku digolongkan menjadi tiga kelompok atas dasar nilainya, yaitu (1) kelompok A yang nilainya tertinggi, (2) kelompok B yang nilainya sedang, dan (3) kelompok C yang nilainya terendah. Kelompok A mempunyai karakteristik pengendalian sebagai berikut: (1) jumlah persediaan minimal kecil, (2) tingkat review tinggi, (3) tingkat pemesanan tinggi, (4) membutuhkan pencatatan rinci, dan (5) tingkat pengawasan tinggi. Kelompok C mempunyai karakteristik pengendalian sebagai berikut: (1) jumlah persediaan minimal besar, (2) tingkat review rendah, (3) tingkat pemesanan rendah, (4) tidak membutuhkan pencatatan perpetual, dan (5) tingkat pengawasan rendah. Contoh Berikut ini adalah informasi tentang pemakaian bahan baku selama tahun 1999 dan harga pokok bahan baku per unit. Jenis Bahan Baku Pemakaian Bahan per Tahun Harga Pokok per Unit 1 2 3 4 5 6 7 8 9 800 unit 1.600 unit 2.600 unit 4.500 unit 4.500 unit 5.000 unit 5.000 unit 12.000 unit 14.000 unit Rp20.000,00 7.500,00 10.000,00 1.000,00 2.000,00 50,00 1.050,00 50,00 100,00 Pertanyaan: Buatlah pengelompokkan bahan baku menurut metode ABC. 1.4. Biaya Tenaga Kerja Biaya tenaga kerja merupakan biaya yang digunakan untuk memproses bahan menjadi barang jadi. Biaya tenaga kerja dibedakan menjadi biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung. Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja yang langsung menangani proses pengubahan bahan menjadi barang jadi. Biaya tenaga kerja langsung merupakan salah satu elemen biaya utama. Biaya tenaga kerja tidak langsung menjadi elemen biaya overhead pabrik. 1.5. Akuntansi Biaya Tenaga Kerja Akuntansi biaya tenaga kerja dibedakan ke dalam tiga kegiatan, yaitu (1) penghitungan biaya tenaga kerja per karyawan, (3) perhitungan total biaya tenaga kerja, dan (3) alokasi biaya tenaga kerja. Untuk melakukan kegiatan tersebut diperlukan dokumen kartu jam hadir (time card/clock card) dan kartu jam kerja (labor job ticket). Kartu jam hadir mencatat jam kerja karyawan setiap harinya, sedang kartu jam kerja mencatat jam kerja yang dilakukannya untuk mengerjakan produk tertentu. Contoh kartu jam hadir: Nama karyawan: No. Induk: Minggu yang berakhir: Bagus Santoso 101115 8 Juli 2000 Minggu 2/7/2000 Senin 3/7/2000 Selasa 4/7/2000 Rabu 5/7/2000 Kamis 6/7/2000 Jum'at 7/7/2000 Sabtu 8/7/2000 - 08.00 08.00 08.00 08.00 08.00 - - 12.00 12.00 12.00 12.00 12.00 - - 16.00 16.00 16.00 16.00 16.00 - Jumlah jam kerja normal: Lembur: Total jam kerja 35 jam 0 jam 35 jam Istirahat: jam 12.00 - 13.00 Contoh kartu jam kerja: KARTU JAM KERJA Produk No.: Tanggal: Mulai: Istirahat: Berakhir: Total: 100 8/7/2000 08.00 1 jam 16.00 7 jam Departemen: Karyawan: Tarif upah: Total upah: Pemotongan Bagus Santoso Rp2.000,00 Rp14.000,00 Biaya tenaga kerja (upah) untuk setiap karyawan dihitung atas dasar "kartu jam hadir", sedang biaya tenaga kerja secara total dihitung dengan menjumlah biaya tenaga kerja per karyawan. Selanjutnya total biaya tenaga kerja ini harus dialokasikan/dibebankan kepada pesanan tertentu, departemen tertentu atau produk tertentu yang menikmati biaya tersebut. Pembebanan ini didasarkan atas jumlah jam kerja yang terdapat dalam "kartu jam kerja". Contoh PT Makmur membayar gaji dan upah karyawannya setiap tanggal 25 per bulannya. Gaji dan upah yang dibayar tanggal 25 Juli 2000 adalah: Biaya tenaga kerja langsung (produksi) Rp10.000.000,00 Biaya tenaga kerja tidak langsung (produksi) 2.000.000,00 Biaya tenaga kerja Bagian Administrasi 5.000.000,00 Biaya tenaga kerja Bagian Pemasaran 3.000.000,00 Total gaji dan upah Rp20.000.000,00 Potongan-potongan: Pajak penghasilan karyawan (1.500.000,00) Iuran pensiun (400.000,00) Iuran koperasi (100.000,00) Gaji dan upah yang dibayar Rp18.000.000,00 Iuran pensiun dan iuran koperasi diserahkan oleh perusahaan setiap akhir bulan, sedang PPh karyawan disetor ke kas negara melalui bank persepsi setiap tanggal 10 bulan berikutnya. Pertanyaan: 1. Buatlah jurnal untuk mencatat pembayaran gaji dan upah pada tanggal 25 Juli 2000. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat penyerahan iuran pensiun dan iuran koperasi pada tanggal 31 Juli 2000. 3. Buatlah jurnal untuk mencatat setoran PPh karyawan pada tanggal 10 Agustus 2000. 1.6. Masalah Khusus yang Berhubungan dengan Biaya Tenaga Kerja Masalah-masalah yang berhubungan dengan biaya tenaga kerja, termasuk akuntansinya, terdiri atas (1) pajak, (2) shift premium, (3) overtime premium, (4) idle time, (5) minimum guaranteed wage and incentive plans. Pajak Penghasilan Karyawan Pajak penghasilan karyawan adalah pajak yang dikenakan terhadap karyawan atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Contoh Berikut ini adalah upah yang diterima oleh dua karyawan UD Aneka pada bulan Juli 2000: Nama Hari Kerja Tarif Upah/Hari Status Riyanto 24 Rp25.000,00 Kawin, tanpa anak Novianto 25 Rp20.000,00 Kawin, 2 anak Upah tersebut dibayar setiap akhir bulan, sedang PPh karyawan disetor ke kas negara setiap tanggal 10 bulan berikutnya. Pertanyaan: 1. Hitunglah PPh kedua karyawan tersebut untuk bulan Juli 2000. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat pembayaran gaji dan upah pada tanggal 31 Juli 2000. 3. Buatlah jurnal untuk mencatat setoran PPh karyawan pada tanggal 10 Agustus 2000. 1. Perhitungan PPh Karyawan: a. Riyanto: Upah Juli 2000 = 24 x Rp25.0000,00 = Rp600.000,00 Upah setahun = 12 x Rp600.000,00 = Rp7.200.000,00 PTKP setahun: Untuk wajib pajak = Rp2.880.000,00 Untuk wajib pajak kawin = 1.440.000,00 4.320.000,00 Penghasilan kena pajak Rp2.880.000,00 PPh setahun = 10% x Rp2.880.000,00 = Rp288.000,00 PPh sebulan (Juli 2000) = Rp288.000,00/12 = Rp24.000,00 b. Novianto: Upah Juli 2000 = 25 x Rp20.0000,00 = Rp500.000,00 Upah setahun = 12 x Rp500.000,00 = Rp6.000.000,00 PTKP setahun: Untuk wajib pajak = Rp2.880.000,00 Untuk wajib pajak kawin = 1.440.000,00 Tambahan 2 anak = 2.880.000,00 7.200.000,00 Penghasilan kena pajak Rp0,00 PPh setahun = nihil PPh sebulan = nihil Biaya Gaji dan Upah = 1.100.000 dan PPh Karyawan 24.000 PBDP 1.100.000 Utang PPh Karyawan Rp24.000 Kas 1.076.000 Utang PPh Karyawan Rp24.000 Kas Rp24.000 Jika disesuaikan perhitungan PPH 21 nya dengan aturan sekarang!!!!!! 2. Perhitungan PPh Karyawan: a. Riyanto: Upah Juli 2008 = 24 x Rp25.0000,00 = Rp600.000,00 Upah setahun = 12 x Rp600.000,00 = Rp7.200.000,00 PTKP setahun: Untuk wajib pajak = Rp13.200.000,00 Untuk wajib pajak kawin = 1.200.000,00 14.400.000,00 Penghasilan kena pajak Rp00,00 PPh setahun = Rp00,00 PPh sebulan (Juli 2008) = Rp0 b. Novianto: Upah Juli 2008 = 25 x Rp20.0000,00 = Rp500.000,00 Upah setahun = 12 x Rp500.000,00 = Rp6.000.000,00 PTKP setahun: Untuk wajib pajak = Rp13.200.000,00 Untuk wajib pajak kawin = 1.200.000,00 Tambahan 2 anak = 2.400.000,00 16.800.000,00 Penghasilan kena pajak Rp0,00 PPh setahun = nihil PPh sebulan = nihil Shift Premium Shift premium adalah perbedaan tarif upah yang disebabkan karena perbedaan shift kerja. Shift premium ini diperlakukan sebagai biaya overhead pabrik. Contoh PT Sentosa berproduksi dalam tiga shift setiap harinya, yaitu shift pertama: jam 07.00 s.d. 15.00, shift kedua: jam 15.00 s.d. 23.00, dan shift ketiga: jam 23.00 s.d. 07.00. Tarif upah untuk shift pertama adalah Rp1.500,00, shift kedua Rp2.000,00, dan shift ketiga Rp2.500,00. Dalam bulan Juli 2000, total jam kerja untuk setiap shift adalah: shift pertama 50 jam, shift kedua 40 jam, dan shift ketiga 40 jam. Pertanyaan: 1. Hitunglah total biaya tenaga kerja normal. 2. Hitunglah shift premium. 3. Buatlah jurnal untuk mencatat pengakuan biaya tenaga kerja tersebut pada akhir Juli 2000 (asumsinya gaji dan upah dibayar tanggal 1 bulan berikutnya). Overtime Premium Overtime premium (lembur) adalah selisih jam kerja di atas jam kerja normal dikalikan dengan selisih tarif upah. Tarif lembur ditetapkan lebih tinggi dari pada tarif upah normal, biasanya tarif upah lembur 1,5 kali tarif upah normal. Perlakuan akuntansi terhadap overtime premium dipengaruhi oleh penyebab terjadi lembur. Ada tiga perlakuan akuntansi terhadap overtime premium: (1) overtime premium diakui sebagai biaya tenaga kerja tidak langsung (biaya overhead pabrik), (2) overtime premium diakui sebagai biaya tenaga kerja langsung (persediaan barang dalam proses), dan (3) overtime premium diakui sebagai elemen rugi-laba (rugi kelebihan jam kerja). Overtime premium (lembur) diakui sebagai biaya overhead pabrik jika terjadinya lembur sudah direncanakan sebelumnya. Overtime premium diakui sebagai persediaan barang dalam proses jika terjadinya lembur karena kebutuhan tambahan waktu untuk segera menyelesaikan pesanan atau produk tertentu sesuai permintaan. Overtime premium diakui sebagai rugi kelebihan jam kerja jika terjadinya karena kesalahan karyawan atau kemampuan karyawan yang rendah. Contoh Dalam bulan Juli 2000, jam kerja karyawan adalah 180 jam. Dari 180 jam kerja tersebut, 144 jam adalah jam kerja normal. Tarif jam kerja normal adalah Rp6.000,00, sedang tarif jam lembur adalah Rp9.000,00. Upah bulan Juli 2000 akan dibayar pada awal Agustus 2000. Pertanyaan: 1. Hitunglah biaya tenaga kerja normal dan overtime premium selama bulan Juli 2000. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat pengakuan biaya tenaga kerja pada akhir Juli 2000 jika overtime premium diakui sebagai biaya tenaga kerja tidak langsung. 3. Buatlah jurnal untuk mencatat pengakuan biaya tenaga kerja pada akhir Juli 2000 jika overtime premium diakui sebagai biaya tenaga kerja langsung. 4. Buatlah jurnal untuk mencatat pengakuan biaya tenaga kerja pada akhir Juli 2000 jika overtime premium diakui sebagai elemen rugi-laba. Idle Time Idle time adalah biaya tenaga kerja yang tetap dibayar walaupun karyawan tidak mengerjakan proses produksi. Penyebab idle time dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) sifat proses produksi menyebabkan karyawan tertentu harus menunggu terlebih dahulu pada saat tertentu (2) karyawan mengganggur akibat kesalahan yang dilakukannya. Idle time yang diakibatkan sebab pertama diperlakukan sebagai biaya overhead pabrik, sedang yang diakibatkan sebab kedua diperlakukan sebagai rugi idle time. Contoh Dalam bulan Juli 2000, Hartono bekerja selama 160 jam. Dari 160 jam kerja tersebut, 16 jam adalah idle time. Tarif upah per jam Rp8.000,00. Upah bulan Juli 2000 akan dibayar pada awal Agustus 2000. Pertanyaan: 1. Hitunglah biaya tenaga kerja normal dan idle time untuk Hartono. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat pengakuan upah Hartono pada akhir Juli 2000 jika idle time diakui sebagai biaya overhead pabrik. 3. Buatlah jurnal untuk mencatat pengakuan upah Hartono pada akhir Juli 2000 jika idle time diakui sebagai rugi idle time. Minimum Guaranteed Wage And Incentive Plans Upah langsung biasanya dibayar atas dasar unit yang diproduksi atau jam kerja yang dilakukan dikalikan dengan tarif upahnya. Untuk meningkatkan produktifitas karyawan, banyak perusahaan yang menetapkan upah dengan sistem insentif. Sistem upah ini akan menguntungkan baik bagi karyawan lama maupun karyawan baru. Karyawan lama dengan tingkat kemahiran (skill) yang sudah tinggi mempunyai produktifitas di atas normal sehingga selain mendapat upah normal juga akan mendapat insentif. Karyawan baru karena belum mempunyai keahlian produktifitasnya di bawah normal tetapi karyawan tersebut tetap mendapat upah normal. Sistem insentif semacam ini disebut the Gant Task System yang contoh perhitungannya dapat dilihat dalam Contoh 1. Kekurangan produktifitas karyawan baru diakui sebagai biaya overhead pabrik sesungguhnya. Selain the Gant Task System tersebut di atas, sistem insentif dapat menggunakanBonus Plan and the Taylor Differential Piece-Rate System. Dalam sistem ini, karyawan yang telah memenuhi atau melampaui standar tertentu akan mendapat bonus. Standar tersebut bisa berupa masa kerja atau unit produk. Bonus yang diterima karyawan akan diakui sebagai biaya overhead pabrik sesungguhnya. Bonus ini umumnya akan diterima karyawan pada akhir tahun. Perhitungan bonus dengan sistem ini dapat dilihat contohnya dalam Contoh 2. Selain sistem tersebut di atas, peningkatan produktifitas karyawan dapat dilakukan dengan memberikan uang cuti. Uang cuti yang diterima karyawan didasarkan atas standar yang ditetapkan, misal masa kerja. Uang cuti ini diambil pada saat karyawan mengambil cuti tahunan. Uang cuti akan diakui sebagai biaya overhead pabrik sesungguhnya. Perhitungan uang cuti ini dapat dilihat contohnya dalam Contoh 3. Contoh 1 PT Tinomas pada tahun 2000 menetapkan upah dengan sistem insentif. Karyawan langsung pabrik dibayar dengan tarif upah Rp3.000,00 per unit dengan upah minimum Rp800.000,00 per bulan. Berikut ini adalah data unit produk yang dihasilkan oleh setiap karyawan yang semuanya bekerja penuh dalam bulan Juli 2000. Nama Unit Produk Andi Hermanto Bagyo Purwanto Edi Santoso Feri Setiawan Gani Handoko Handi Nugroho 240 unit 275 unit 250 unit 285 unit 270 unit 265 unit Pertanyaan: 1. Hitunglah upah setiap karyawan atas dasar produktifitasnya, upah yang diterima setiap karyawan, dan selisih kurang upah karyawan. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja bulan Juli 2000 tersebut jika upah dibayar setiap tanggal 1 bulan berikutnya. Contoh 2 PT Candi Indah setiap akhir tahun memberi penghargaan berupa bonus sebesar dua bulan upah kepada karyawan yang telah bekerja lebih dari satu tahun. Berikut ini adalah data masa kerja dan upah per bulan karyawan PT Candi Indah pada bulan Juli 2000. Nama Masa Kerja Upah Bulanan Agung Susetyo Bagus Indrawan Candra Darusman Dedi Hartawan Endro Gunawan Hary Ramelan 3 tahun 10 tahun ½ tahun 4 tahun 5 tahun 6 tahun Rp420.000,00 570.000,00 396.000,00 360.000,00 468.000,00 510.000,00 Pertanyaan: 1. Hitunglah bonus yang terutang untuk setiap karyawan per bulan. 2. Buatlah jurnal untuk mencatat pengakuan biaya tenaga kerja pada tanggal 31 Juli 2000. Contoh 3 PT Harapan mempunyai kebijakan untuk memberikan uang cuti tahunan jika telah bekerja selama 1 tahun. Pemberian uang cuti diatur dengan ketentuan sebagai berikut. Masa kerja 1 .s.d. 5,99 tahun mendapat uang cuti 1 minggu upah. Masa kerja 6 .s.d. 10 tahun mendapat uang cuti 2 minggu upah. Masa kerja lebih dari 10 tahun mendapat uang cuti 3 minggu upah. Berikut ini adalah data tentang masa kerja dan upah bulanan pada Juli 2000. Nama Masa Kerja Upah Mingguan Abu Asmoko Cecep Lesmana Lambang Ashari Landu Ismanto Nanang Hadi Sardi Haryanto Tatang Yunus Bondan Himawan Toro Hermawan Tino Sunarto 6 tahun 1½ tahun 7 tahun 5¾ tahun 12 tahun 8 tahun ½ tahun 1 tahun 9 tahun 15 tahun Rp210.000,00 180.000,00 300.000,00 270.000,00 392.000,00 288.000,00 150.000,00 150.000,00 300.000,00 440.000,00

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Blog Archive

CB Blogger Lab

JASA SEO CB

jam ayam

CONTOH BLOG

JASA SEO CB

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *