Tampilkan postingan dengan label Manajemen Strategi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Strategi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2019

MANAJEMEN STRATEGIS

SILABUS
PERTEMUAN 1 MANAJEMEN STRATEGIS
PERTEMUAN 2 MISI PERUSAHAAN
PERTEMUAN 6 ANALISIS INTERNAL
PERTEMUAN 8 UTS
PERTEMUAN 9 STRATEGI BISNIS
PERTEMUAN 10 STRATEGI MULTI BISNIS
PERTEMUAN 11 IMPLEMENTASI BISNIS
PERTEMUAN 15 SEKURITAS DILUTIF
PERTEMUAN 16 UAS

Dilutive Securities (Sekuritas Dilutif)

BAB 4 Dilutive Securities (Sekuritas Dilutif)
Penghitungan laba per saham tidak hanya berdasarkan saham biasa beredar tapi juga berdasarkan jumlah lembar saham yang akan beredar jika sekuritas konvertibel tertentu ternyata dikonversi dan jika opsi atas saham tertentu ternyata digunakan. Laba per saham akan menurun jika saham biasa diterbitkan karena pengkonversian sekuritas dan penggunaan opsi. Akibat kejadian tersebut, laba per saham akan menurun dan disebut dengan laba per saham dilusian (Dilution Of Earnings). Namun demikian, dalam beberapa hal pengguanaan opsi atau konversi sekuritas dapat mengakibatkan kenaikan LPS. Akibat tersebut disebut sebagai laba antidilusian (Antidilution Of Earnings) sekuritas atau surat berharga yang akan mengakibatkan penurunan LPS disebut sekuritas dilutif (Dilutive Securities), dan yang akan mengakibatkan kenaikan LPS disebut sebagai sekuritas antidilutif (Antidilutive Securities).
Berdasarkan PSAK 50, PSAK 53, dan PSAK 55 berikut yang termasuk sekuritas dilutif dan kompensasi 1. Utang dan ekuitas 2. Utang yang dapat dikonversi Utang dapat dikonversikan menjadi saham pada periode yang telah ditetapkan setelah penerbitan. Perusahaan dapat melakukan pembiayaan dengan memberikan lebih sedikit proporsi kepemilikan jika utang dikonversi, di samping bunga yang dibayarkan lebih kecil untuk tipe utang serupa. Obligasi atau instrumen serupa dapat dikonversi oleh pemegangnya menjadi saham biasa dengan jumlah yang telah ditetapkan merupakan instrumen keuangan majemuk. Dari sudut pandang entitas, instrumen ini terdiri dari dua komponen: o liabilitas keuangan (perjanjian kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain); dan o instrumen ekuitas (opsi beli yang memberikan hak pada pemegangnya selama jangka waktu tertentu untuk mengkonversi instrumen tersebut menjadi saham biasa dengan jumlah yang telah ditetapkan).
Implementasi pendekatan with-and-without:
a. Menentukan jumlah nilai wajar utang yang dapat dikonversi menjadi komponen liabilitas dan ekuitas.
b. Menentukan komponen liabilitas dengan menghitung net present value atas arus kas masa depan pada tingkat suku bunga pasar.
c. Mengeluarkan komponen liabilitas dari nilai wajar utang yang dapat dikonversi untuk mendapatkan komponen ekuitas.
3. Saham yang dapat dikonversi Saham preferen yang dapat dikonversi adalah ekuitas, kecuali jika itu merupakan saham preferen yang dapat ditebus. Pengkonversian atau pembelian kembali di dasarkan pada nilai buku, tidak diakui kerugian atau laba. Jumlah lebih yang dibayarkan di atas nilai buku sering didebit dari laba ditahan..
 4. Waran saham Waran saham adalah pemberian hak kepada pemegangnya untuk membeli saham pada harga dan periode tertentu. Biasanya penggunaan waran dapat berdampak dilusi dengan mengurangi jumlah EPS. Situasi penerbitan waran: agar sekuritas lebih menarik; memberikan preemptive right kepada pemegan saham; dan kompensasi kepada karyawan.
 Situasi 1 : Waran saham yang diterbitkan dengan sekuritas lainnya Pada dasarnya waran ini merupakan opsi jangka panjang. Waran ini digunakan metode with-and-without untuk alokasi komponen pada waran yang diterbitkan dengan sekuritas lainnya. Jika investor tidak menggunakan waran sampai melewati masa periode, maka komponen ekuitas (akun agio saham – waran) didebit pada akun agio saham – waran kadaluarsa yang menjadi hak pemegang saham awal.
Situasi 2 : Hak membeli saham tambahan saat penerbitan saham baru secara proporsional Hak ini ada untuk mencegah dilusi atas hak voting. Waran yang seperti ini merupakan opsi jangka pendek. Perusahaan hanya membuat memorandum entry ketika menerbitkan waran kepada pemegang saham. Jika perusahaan menerima kas lebih besar dari nilai par saham, maka dikreditkan pada akun agio saham – biasa, dan sebaliknya.
 Situasi 3 : Hak membeli saham bagi eksekutif dan karyawan kunci Kompensasi jangka panjang bertujuan untuk meningkatkan loyalitas pada karyawan kunci. Metode pelaporan opsi saham:
• metode nilai intrinsik à perbedaan harga saham dengan harga penggunaan waran saat waran diberikan; dan
• metode nilai wajar à nilai di mana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction)
5. Akuntansi untuk kompensasi saham Terdapat dua cara akuntansi untuk kompensasi saham
 • Menentukan beban kompensasi: dengan metode nilai wajar
 • Mengalokasi beban kompensasi: selama periode karyawan bekerja Berdasarkan IFRS, perusahaan tidak melakukan penyesuaian atas beban kompensasi saat tanggal kadaluarsa. Perusahaan dapat melakukan penyesuaian jika terdapat kondisi kerja (service condition) pada rencana kompensasi. Karena kondisi pasar direfleksikan dari penentuan nilai wajar opsi saat tanggal pemberian, maka tidak diperbolehkan adanya penyesuaian jika penyebabnya adalah perubahan harga saham perusahaan. Saham Terikat (Restricted Shares) Perusahaan memberikan saham kepada karyawan dengan syarat saham tersebut tidak dapat dijual, dipindahtangankan, atau dijaminkan sampai kondisi tertentu terpenuhi.
Jika dilanggar, maka harus ditebus beserta dividen yang telah diterima. Kelebihan saham terikat dibandingkan opsi saham:
1.     Tidak akan menjadi percuma berapapun harga saham di pasar.
2.     Memberikan pengurangan ekuitas lebih sedikit kepada pemegang saham
3.     Menyelaraskan tujuan karyawan dengan tujuan perusahaan.
Rencana Pembelian Saham Karyawan (Employee Share-Purchase Plans) Perusahaan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk membeli saham dengan potongan harga selama periode waktu tertentu. Rencana ini merupakan program kompensasi dan harus dicatat sebagai beban selama masa kerja.
Pengungkapan Rencana Kompensasi Memastikan pengguna laporan keuangan memahami:
1. Sifat dan tingkat penetapan pembayaran berbasis saham yang terjadi selama periode tersebut
2. Cara penentuan nilai wajar untuk barang/jasa yang diterima atau instrumen ekuitas yang diberikan
3. Dampak transaksi pembayaran berbasis saham terhadap laba/kerugian pada posisi keuangan perusahaan.

PENGENDALIAN STRATEGIS SERTA INOVASI KEWIRAUSAHAAN

PENGENDALIAN  STRATEGIS  SERTA INOVASI  KEWIRAUSAHAAN



Pengertian Pengendalian Strategis.

Pengendalian strategis (strategic control) merupakan usaha manajemen untuk melacak suatu strategi saat dilaksanakan, mendeteksi masalah-masalah atau perubahan-perubahan dalam asumsi dasarnya, dan membuat penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan. 

Jenis-jenis Pengendalian Strategis .

Terdapat 4 (empat) jenis pengendalian strategis, yaitu :
a.       Pengendalian Premis (premise control), dirancang untuk memeriksa secara sistematis dan terus-menerus apakah prinsip yang mendasari strategi masih berlaku atau tidak.

b.      Pengamatan Strategis (stategic surveillance), dirancang untuk memantau secara luas berbagai peristiwa di dalam dan luar perusahaan yang mungkin sekali mempengaruhi jalan strateginya.

c.       Pengendalian berupa peringatan khusus (special alert control), adalah pemikiran kembali yang teliti, dan kebanyakan cepat dari strategi perusahaan karena sebuah peristiwa yang mendadak dan tidak diharapkan.

d.      Pengendalian atas implementasi (implementation control), dirancang untuk menilai apakah keseluruhan strategi harus diubah dengan mempertimbangkan hasil-hasil yang berkaitan dengan tindakan-tindakan tambahan dalam keseluruhan strategi. Dua jenis dasar pengendalian atas implementasi adalah :

Ø  Metode Balanced Scorecard
Kartu skor berimbang (balanced scorecard) merupakan suatu system manajemen (dan bukan sekadar sistem pengukuran) yang memungkinkan perusahaan memperjelas strategi mereka, menerjemahkan strategi menjadi tindakan, dan menghasilkan umpan balik yang bermanfaat, seperti apakah strategi tersebut menciptakan nilai, berpengaruh terhadap kompetensi inti, memuaskan pelanggan perusahaan, dan menghasilkan penghargaan keuangan untuk para pemegang saham.

Balanced scorecard mengusulkan agar kita melihat organisasi, mengembangkan standar pengukuran, serta mengumpulkan data dan menganalisisnya berdasarkan perspektif berikut :

a)      Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan : Seberapa bagus kita secara terus-menerus meningkatkan dan menciptakn nilai? Scorecard tersebut menekankan pada pengukuran yang berhubungan dengan inovasi dan pembelajaran organisasi untuk menghitung kinerja dalam dimensi ini—kepemimpinan teknologi, waktu siklus pengembangan produk, peningkatan proses operasi, dan seterusnya.

b)      Perspektif proses bisnis : Apakah kompetensi utama kita dan bidang-bidang dari kehebatan operasi? Proses bisnis internal dan pelaksanaannya yang efektif sebagaimana diukur dengan produktivitas, waktu siklus, pengukuran kualitas, periode dan tidak produktif, berbagai pengukuran biaya, dan lainnya, merupakan input scorecard untuk perspektif ini.

c)      Perspektif pelanggan: Seberapa puaskah para pelanggan? Perspektif kepuasan pelanggan secara khusus menambah pengukuran yang berhubungan dengan tingkat kerusakan, pengiriman tepat waktu, dukungan garansi, pengembangan produk, dan lainnya.

d)      Perspektif keuangan: Bagaimana kita melayani para pemegang saham? Perspektif keuangan secara khusus menggunakan pengukuran arus kas, pengembalian atas modal, penjualan, dan pertumbuhan penghasilan.

Ø  Inovasi dan Kewirausahaan
Inovasi (innovation) merupakan komersialisasi awal penemuan dengan menghasilkan dan menjual suatu produk, jasa, atau proses baru. Ada 2 jenis inovasi, yaitu :

a)      Inovasi inkremental (incremental innovation).
Inovasi inkremental diartikan sebagai perubahan atau penyesuaian sederhana dalam produk, jasa, atau proses yang ada. Dorongan utama dari inovasi inkremental dalam banyak perusahaan selama beberapa tahun terakhir berasal dari program-program yang ditujukan pada peningkatan terus-menerus, pengurangan biaya, dan pengelolaan kualitas.

Six sigma adalah pendekatan terus-menerus lainnya yang digunakan banyak perusahaan untuk memacu peningkatan inovasi dalam bisnis. Six sigma merupakan pendekatan yang tepat dan analitis terhadap kualitas dan peningkatan terus-menerus dengan tujuan meningkatan keuntungan melalui pengurangan barang cacat, menghasilkan peningkatan, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan kinerja terbaik di kelasnya.

b)      Inovasi terobosan (breakthrough innovation).
Inovasi terobosan merupakan inovasi dalam hal produk, proses, teknologi, atau biaya terkait hal ini yang menunjukkan lompatan kuantum ke arah perbaikan pada satu atau lebih cara-cara tersebut.

Pendekatan terobosan terhadap inovasi pada dasarnya lebih berisiko daripada pendekatan inovasi inkremental, karena perusahaan-perusahaan yang berkomitmen terhadap inovasi terobosan pertama-tama harus memiliki kemampuan untuk menjelaskan bagaimana pentingnya suatu proyek terobosan terhadap masa depan perusahaan secara jelas kepada semua karyawan di setiap tingkatan.

 Risiko-risiko Terkait Inovasi

a. Risiko Pasar
Berasal dari ketidakpastian terkait keberadaan suatu pasar, ukurannya, dan tingkat pertumbuhannya bagi produk atau jasa yang dimaksud.

b.      Risiko Teknologi
Berasal dari ketidakpastian mengenai bagaimana teknologi akan berkembang serta kerumitan yang muncul melalui standar teknis dan desain atau pendekatan dominan.

Kewirausahaan (entrepreneurship)

Kewirausahaan adalah proses menggabungkan ide serta tindakan kreatif dan inovatif dengan keahlian manajemen dan organisasi yang diperlukan untuk mengerahkan sumber daya manusia, uang, dan operasi yang tepat untuk mencapai suatu kebutuhan yang dikenali dan menciptakan kekayaan dalam prosesnya.

Tiga elemen penting dalam kewirausahaan, yaitu :

a.       Peluang.
b.      Tim kewirausahaan.

Pengusaha sukses dan tim kewirausahaan membawa beberapa kompetensi dan karakteristik pada perusahaan baru mereka, yaitu kompetensi teknis dan keahlian manajemen bisnis. Beberapa perilaku dan karakteristik psikologis yang biasanya dikaitkan dengan para pengusaha sukses :

§  Komitmen tiada akhir dan kebulatan tekad.
§  Keinginan kuat terhadap pencapaian.
§  Orientasi terhadap peluang dan tujuan.
§   Lokus pengendalian internal.
§  Toleransi terhadap ketidakjelasan dan stres.
§  Keahlian dalam mengambil banyak risiko.
§  Tidak terlalu membutuhkan status dan kekuasaan.
§  Penyelesai masalah.
§  Kebutuhan yang besar akan umpan balik.
§  Kemampuan menghadapi kegagalan.
§  Energi yang tak terbatas, kesehatan yang baik, dan kestabilan emosional.

Kewirausahaan dalam Perusahaan (intrapreneurship).

Intrapreneurship adalah proses dan upaya untuk mengidentifikasi, mendorong, memungkinkan, dan membantu terwujudnya kewirausahaan dalam suatu perusahaan besar, dalam rangka untuk menciptakan produk, proses, atau jasa baru yang menjadi aliran penghasilan baru utama dan sumber-sumber penghematan biaya bagi perusahaan.

KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA

KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA


A.           Pengertian Budaya Organisasi

Kebudayaan dalam bahasa inggris adalah “Culture” dalam bahasa Latin adalah “Colere” dan dalam bahasa Indonesia juga diistilahkan dengan peradaban atau budi yang dalam Bahasa Arab disebut dengan “Akhlaq”. Di Indonesia kebudayaan secara etimologi berasal dari kata Sansakerta yaitu “Buddhayah”, bentuk jamak dari kata “Buddhi” (akal) sehingga dikembangkan menjadi budi-daya, yaitu kemampuan akal budi seseorang atau sekelompok manusia.

Budaya adalah perilaku konvensional masyarakatnya, dan ia mempengaruhi semua tindakan. Budaya adalah kesatuan nilai dan asumsi yang dipegang oleh kesatuan sumber daya manusia. Budaya juga merupakan sebuah sistem progresif yang terus berkembang.  Budaya organisasi adalah satu wujud anggapan yang dimiliki, diterima secara implicit oleh kelompok tersebut rasakan, pikirkan, dan bereaksi terhadap lingkungannya yang beraneka ragam.

Budaya merupakan pola asumsi yang diciptakan, atau dikembangkan agar orang dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan organisasi. Budaya organisasi merupakan sebuah konsep yang sulit didiagnosis. Definisi ini menyoroti tiga karakteristik budaya organisasi yang penting.  Pertama, budaya organisasi diberikan kepada para karyawan baru melalui proses sosialisasi. Kedua, budaya organisasi mempengaruhi perilaku kita ditempat kerja. Ketiga, budaya organisasi berlaku pada dua tingkat yang berbeda. Masing-masing tingkat bervariasi dalam kaitannya dengan pandangan keluar dan kemampuan bertahan terhadap perubahan. 

Menurut Robbins, budaya organisasi adalah suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota suatu organisasi. Cara berpikir dan melakukan sesuatu yang mentradisi yang dianut bersama oleh semua anggota organisasi, dan para anggota baru harus mempelajari atau paling sedikit menerimanya sebagian agar mereka diterima sebagai bagian dari organisasi (Eliott Jaeques).
Menurut Wheelen dan Hunger budaya organisasi adalah himpunan dari kepercayaan, harapan dan nilai yang dianut bersama oleh anggota organisasi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Budaya organisasi adalah sistem makna dan keyakinan bersama yang dianut oleh para anggota organisasi yang menentukan, sebagian besar, cara mereka bertindak.

Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia, dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar. Disamping itu, Mohammad Hatta memberi definisi kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa. Sedangkan Zoetmulder memberi definisi kebudayaan adalah perkembangan terpimpin oleh manusia budayawan dari kemungkinan-kemungkinan dan tenaga-tenaga alam terutama alam manusia, sehingga ia merupakan sutau kesatuan yang harmonis.

Kebudayaan dekat kaitannya dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu ekstra maupun ilmu-ilmu sosial sebagaimana telah diuraikan dimuka terutama karena membicarakan tentang fenomena masyarakat. Budaya dapat meliputi antara lain :

a.      Sistem Mata Pencaharian.
b.      Sistem Pendidikan.
c.      Sistem Persembahan.
d.      Sistem Seni.
e.      Sistem Moral.
f.       Sistem Hukum.
g.      Sistem Olahraga.

Budaya merupakan sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh masyarakat, namun setiap unsur masyarakat berbeda pula budayanya, seperti antara masyarakat umum dengan para elitenya. Menurut Benedict R. O’G Anderson, kebudayaan Indonesia cenderung membagi secara tajam antara kelompok elite dengan kelompok massa.

Budaya organisasi  dapat diperkuat dengan mewariskan nilai inti dari satu generasi ke generasi berikutnya. Organisasi dapat mencapai efektivitas hanya ketika karyawan-karyawannya berbagi nilai. Nilai dari tenaga kerja yang semakin beragam dibentuk jauh sebelum seseorang memasuki organisasi. Oleh karena itu merekrut, memilih, dan mempertahankan karyawan yang nilainya paling cocok dengan nilai perusahaan merupakan hal yang penting.

Pada hakikatnya budaya adalah kesatuan nilai dan asumsi yang dipegang oleh kesatuan sumber daya manusia. Budaya juga merupakan sebuah sistem progresif yang terus berkembang. Berbeda dengan peraturan yang bersifat kognitif, budaya pada umumnya lebih mengakar dan lebih berpengaruh pada tingkah laku karyawan. Mengingat bahwa organisasi adalah kesatuan sebagai suborganisasi, maka selalu ada kemungkinan bahwa budaya yang dominan di bagian-bagian tertentu bisa berbeda dengan budaya yang dominan di bagian lainnya.

B.            Dimensi Budaya Organisasi

          Riset mengemukakan bahwa ada tujuh dimensi yang secara keseluruhan menangkap hakikat budaya organisasi (Robbins dan Coulter). Dimensi-dimensi itu digambarkan sebagai berikut :
1)             Inovasi dan pengambilan resiko.
Kadar seberapa jauh karyawan didorong untuk inovatif dan mengambil resiko.
2)             Perhatian ke hal yang rinci atau detail.
Kadar seberapa jauh karyawan diharapkan mampu menunjukkan ketepatan, analisis, dan perhatian yang rinci atau detail.
3)             Orientasi hasil.
Kadar seberapa jauh manejer berfokus pada hasil atau keluaran bukannya pada cara mencapai hasil itu.
4)             Orientasi orang.
Kadar seberapa jauh keputusan manajemen turut mempengaruhi orang-orang yang ada dalam organisasi.
5)             Orientasi tim.
Kadar seberapa jauh pekerjaan disusun berdasar tim bukannya perorangan.
6)             Keagresifan.
Kadar seberapa jauh karyawan agresif dan bersaing bukannya dari pada kerjasama.
7)             Kemantapan atau stabilitas.
Kadar seberapa jauh keputusan dan tindakan organisasi menekankan usaha untuk mempertahankan status quo.

C.            Nilai-nilai Organisasi

          Nilai-nilai dan dan keyakinan organisasi merupakan dasar budaya organisasi. Keduanya juga memainkan peranan penting dalam mempengaruhi etika berperilaku. Nilai memiliki lima komponen kunci :
                (1) konsep kepercayaan,
    (2) mengenai perilaku yang dihendaki,
    (3) keadaan yang amat penting,
                (4) pedoman menyeleksi atau mengevaluasi kejadian dan perilaku,
                (5) urut dari yang relative penting.

1.             Nilai Pendukung
          Menunjukkan nilai-nilai yang dinyatakan secara eksplisit yang dipilih oleh organisasi. Nilai-nilai pendukung tersebut merupakan aspirasi yang akan dikomunikasikan secara eksplisit  kepada para karyawan, para manejer seperti Levin berharap bahwa nilai-nilai pendukung tersebut akan mempengaruhi perilaku para karyawan secara langsung.

2.             Nilai-nilai yang diperankan     
          Merupakan nilai dan norma yang sebenarnya ditunjukkan atau dimasukkan kedalam perilaku karyawan. Sistem nilai organisasi menggambarkan pola yang bertentangan dan yang cocok diantara nilai-nilai, bukan diantara nilai yang relative penting. Definisi ini menekankan poin bahwa organisasi menggunakan sekumpulan nilai yang terdiri dari nilai-nilai yang cocok atau yang bertentangan.

3.             Tipologi Nilai-nilai organisasi.
          Norma penghargaan organisasi menunjukkan keyakinan fundamental perusahaan mengenai bagaimana penghargaan harus dialokasikan. Menurut norma penghargaan yang setara, penghargaan harus sebanding dengan kontribusi. Struktur kekuasaan organisasi mencerminkan keyakinan dasar perusahaan mengenai bagaimana kekuasaan dan wewenang harus dibagikan dan di distribusikan.

4.             Riset Aplikasi Praktis.
          Organisasi menganut konstelasi bukannya hanya satu nilai saja dan dapat ditampilkan berdasarkan nilai mereka. Hal ini pada gilirannya, akan membuat manejer mampu untuk menentukan apakah nilai-nilai organisasi konsisten dan mendukung inisiatif dari tujuan perusahaan.

D.           Nilai-nilai Lintas Budaya.
          Dalam membahas nilai-nilai di antara berbagai budaya, Robbins maupun Robbins dan Judge menggunakan referensi penelitian Hoftstede. Hoftstede mengemukakan adanya lima dimensi nilai-nilai dari budaya nasional, yang terdiri dari :

1)             Power Distance.
          Menjelaskan tingkatan keadaan dimana orang dalam suatu negara menerima kenyataan bahwa kekuasaan dalam institusi dan organisasi dibagikan secara tidak sama. High Power Distance berarti bahwa ketidaksamaan yang besar didalam kekuasaan dan kekayaan terjadi dan ditoleransi dalam budaya, seperti dalam sistem kelas atau kasta, hal tersebut tidak mendorong mobilitas keatas. Low Power Distance menunjukkan peringkat karakteristik masyarakat yang menekankan kesamaan dan peluang.

2)             Individualisme versus Collectivisme.
          Merupakan tingkatan keadaan dimana orang lebih suka bertindak sebagai individu daripada sebagai anggota kelompok dan mempunyai keyakinan atas hak individual di atas semuanya. Collectivisme menekankan kerangka kerja sosial yang ketat dimana orang mengharapkan orang lain dalam kelompok dimana mereka menjadi bagian untuk memelihara dan melindungi mereka.

3)             Masculinity versus femininity.
          Masculinity adalah suatu tingkatan dimana budaya menyukai peran tradisional maskulin seperti prestasi, kekuasaan, dan pengawasan dan menentang pandangan bahwa antara pria dan wanita adalah sama. High masculinity mengindikasikan budaya bahwa terdapat peran terpisah untuk pria dan wanita, dengan pria mendominasi masyarakat. High masculinity berarti budaya melihat sedikit perbedaan antara peran pria dan wanita dan memperlakukan wanita sama dengan pria dalam semua hal.

4)             Uncertainty Avoidance.
          Dalam budaya yang menilai tinggi pada uncertainty avoidance, orang mempunyai peningkatan tingkat kegelisahan tentang ketidakpastian dan ambiguitas dan menggunakan hukum dan control untuk menerima ketidakpastian. Budaya dengan low uncertainty avoidance lebih menerima ambiguitas, kurang orientasi pada aturan, mengambil lebih banyak resiko dan lebih siap menerima perubahan.

5)             Long-term versus Short-term Orientation.
          Merupakan tipologi Hoftstede terbaru mengukur kesetiaan masyarakat pada nilai-nilai tradisional. Orang dalam budaya dengan long-term orientation melihat kemasa depan dan penghematan nilai-nilai, ketekunan dan tradisi. Dalam short-term orientation, orang menghargai waktu sekarang, mereka lebih siap untuk menerima perubahan dan tidak melihat komitmen sebagai halangan terhadap perubahan.

E.            Menciptakan Budaya Organisasi Superleadership.

          Perubahan dari budaya nasional yang menjadi yang lainnya mengakibatkan banyak perubahan pada sikap seseorang dan gaya hidupnya. Organisasi budaya dapat disebut sebagai lingkungan psikologis mental atau harapan kognitif yang membimbing sikap.

                Kepemimpinannya dipandu dengan enam prinsip, yaitu:

a.             Jangan hanya memberi perintah, tapi komunikasikan.
b.             Pemimpin harus mendengar tanpa prasangka.
c.             Mempraktekkan disiplin tanpa formalitas.
d.             Kapten yang terbaik memberi tanggung jawab bukan perintah.
e.             Crew yang berhasil tampil dengan taat.
f.              Perubahan yang benar harus permanen.


F.             Fungsi Budaya Organisasi

          Sebuah organisasi memenuhi beberapa fungsi. Fungsi-fungsi tersebut ialah:

1)    Memberikan identitas organisasi kepada karyawannya. Dikenal sebagai inovatif yang memburu pengembangan produk baru.
2)    Memudahkan Komitmen Konflik. Untuk menjadi sebuah pemimpin dimana para karyawannya bangga menjadi bagian darinya.
3)    Mempromosikan Stabilitas sistem nasional. Mencerminkan taraf dimana lingkungan kerja dirasakan positif dan mendukung, dan konflik serta perubahan diatur dengan efektif.
4)  Membentuk perilaku dengan membantu manejer merasakan keberadaannya. Fungsi budaya ini membantu para karyawan memahami mengapa organisasi melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan bagaimana perusahaan bermaksud mencapai tujuan jangka panjangnya.


G.           Mempengaruhi Perubahan Budaya.

          Hanya ada sedikit penelitian mengenai perubahan budaya. Kesulitan dalam menciptakan budaya bahkan menjadi lebih kompleks ketika berusaha melakukan suatu perubahan budaya signifikan. Perubahan tersebut ialah:

1). Budaya begitu membingungkan dan tersembunyi sehingga budaya tidak dapat didiagnosis, dikelola, dan diubah secara cukup.

2). Karena diperlukan teknik yang sulit, keterampilan yang langka, dan waktu yang cukup untuk memahami budaya, serta bahkan lebih banyak waktu lagi untuk mengubahnya, usaha yang terencana dan terperinci dalam perubahan budaya bukan merupakan hal yang benar-benar praktis.

3). Budaya membantu orang bertahan menghadapi periode kesulitan dan berperan menghilangkan kecemasan. Salah satu cara budaya melakukan hal ini adalah dengan menyediakan kontinuitas dan stabilitas.

          Ketiga pandangan tersebut mengisyaratkan bahwa manejer yang tertarik untuk melakukan perubahan budaya berhadapan dengan tugas yang sulit. Akan tetapi, ada pemimpin berani, yang yakin bahwa mereka dapat turut campur dan melakukan perubahan dalam budaya.


H.           Tipologi Budaya Organisasi

1). Budaya dominan, mengungkap nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh suatu mayoritas anggota organisasi tersebut.
2). Sub budaya, budaya-budaya mini dari suatu organisasi, yang lazimnya ditentukan oleh rambu departemen dan geografis.
3). Niali inti, nilai primer atau dominan yang diterima di seluruh organisasi tersebut.
4). Budaya kuat, budaya dimana nilai-nilai dipegang secara intensif dan dianut bersama secara meluas.
5). Budaya nasional, mempunyai dampak yang lebih besar pada karyawan daripada budaya organisasi.

          Robert Kreitner da Angelo Kinicki mengatakan bahwa terdapat tiga tipe umum budaya organisasi yaitu sebagai berikut:

1). Budaya konstruktif yaitu budaya diaman para karyawan di dorong untuk berinteraksi dengan orang lain, dan mengerjakan tugas dan proyeknya dengan cara yang akan membantu mereka dalam memuaskan kebutuhannya dan untuk tumbuh berkembang.

2). Budaya pasif-defensif adalah budaya yang memungkinkan karyawan berinteraksi dengan karyawan lain dengan cara yang tidak mengancam keamanan kerjanya sendiri. Tipe ini mendorong keyakinan normative yang berhubungan dengan persetujuan, konvensional, ketergantungan, dan penghindaran.

3). Budaya agresif-defensif adalah budaya yang mendorong karyawannya untuk mengerjakan tugasnya dengan keras untuk melindungi keamanan dan status mereka.

          Tipe budaya ini lebih bercirikan keyakinan normative, yang mencerminkan oposisi, kekuasaan, kompetisi, dan perfeksionis. Para peneliti sudah berusaha mengidentifikasi dan mengukur berbagai tipe budaya organisasi dalam rangka mempelajari hubungan antara tipe efektivitas budaya dan organisasi. Pencarian ini di dorong oleh kemungkinan bahwa budaya tertentu lebih efektif dibandingkan dengan yang lain.

          Terdapat tiga tipe umum budaya organisasi, konstruksif, pasif-defensif, dan agresif-defensif. Dan setiap tipe hubungan dengan seperangkat keyakinan normative yang berbeda. Keyakinan normative mencerminkan pemikiran dan keyakinan individu mengenai bagaimana anggota dari sebuah kelompok atau organisasi tertentu diharapkan menjalankan tugasnya dan berinteraksi dengan orang lain.

          Budaya konstruktif adalah budaya dimana para karyawan di dorong untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengerjakan tugas dan proyeknya dengan cara yang akan membantu mereka dalam memuaskan kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang. Tipe budaya ini mendukung keyakinan normative yang berhubungan dengan pencapaian tujuan aktualisasi diri, penghargaan yang manusiawi, dan persatuan.

          Sebaliknya, budaya pasif-defensif bercirikan keyakinan yang memungkinkan bahwa karyawan berinteraksi dengan karyawan lain dengan cara yang tidak mengancam keamanan kerjanya sendiri. Budaya ini mendorong keyakinan normative yang berhubungan dengan persetujuan, konvensional, ketergantungan, dan penghindaran. Akhirnya, perusahaan dengan budaya agresif-defensif mendorong karyawannya untuk mengerjakan tugasnya dengan keras untuk melindungi keamanan kerja dan status mereka. Tipe budaya ini lebih bercirikan keyakinan normative yang mencerminkan oposisi, kekuasaan, kompetitif, dan perfeksionis.

I.              Wujud Budaya Organisasi

Lewis yang dikutip oleh Octa Melia Jalal mengelompokkan budaya organisasi ini menjadi empat, yaitu:
1).  Simbol-simbol, terdiri dari logo, slogan, upacara-upacara, cerita-cerita yang sering disampaikan orang dalam organisasi tersebut.
2)  Proses, merupakan metode organisasi untuk melaksanakan tugasnya, seperti jalur pertanggung jawaban, desain pekerjaan, strategi manajemen dalam pengambilan keputusan, jalur komunikasi resmi, dan peraturan-peraturan tentang pertemuan.
3)    Format, merupakan benda-benda yang bisa langsung observasi, seperti desain bangunan, tata letak ruang, furniture, dokumen-dokumen resmi, pidato-pidato.
4)  Perilaku, merupakan manifestasi symbol-simbol , proses dan format yang ada di organisasi.

          Ditingkat berikutnya, budaya organisasi terdiri dari kepercayaan, dan nilai-nilai. Ditingkatan yang paling dalam, budaya organisasi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan dalam organisasi. Asumsi dasar ini biasanya mendasari kepercayaan dan niali-nilai anggota organisasi.


J.              Menciptakan dan Memepertahankan Budaya.

          Robbins mengatakan bahwa budaya organisasi itu tidak muncul dari ruang yang hamppa atau dari langit. Jadi ada suatu kekuatan yang mempenagruhi terciptanya suatu budaya organisasi. Asal mula budaya organisasi di sini pendiri membangun nilai tertentu di organisasinya, kemudian dikembangkan dan dipakai sebagai rujukan oleh anggota organisasi.

          Robbins mencatat bahwa ada tiga kekuatan yang berperan dalam mempertahankan suatu budaya, sebagai berikut:

1). Praktik seleksi, dalam keputusan final, seperti siapa kandidat yang akan dipekerjakan sangat dipengaruhi oleh penilai, pengambil keputusan tentang seberapa baiknya kandidat akan cocok dengan organisasi akan sangat berpengaruh terhadap upaya pelestarian budaya organisasi.

2). Manajemen puncak, melalui keteladanannya dalam berperilaku dalam menegakkan norna-norma yang ada akan menentukan tetap tegaknya budaya yang telah disepakati.

3). Sosialisasi, yaitu proses yang mengadaptasikan para karyawan pada budaya organisasi itu. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan sejak tahap pra kedatangan, suatu kurun waktu pembelajaran yang dilakukan sebelum seseorang karyawan baru bergabung secara resmi dengan organisasi.

          Sosialisasi kemudian dilakukan pada tahap perjumpaan, tahap dalam mana pegawai baru menyaksikan seperti apa sebenarnya organisasi itu dan menghadapi kemungkinan bahwa harapan dan kenyataan dapat berbeda. Tahap sosialisasi selanjutnya adalah apa yang disebut dengan tahap metamorphosis, suatu tahap dalam proses sosialisasi dimana para pegawai baru menyesuaikan diri pada nilai dan norma kelompok kerjanya.

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Blog Archive

CB Blogger Lab

JASA SEO CB

jam ayam

CONTOH BLOG

JASA SEO CB

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *