Tampilkan postingan dengan label Semester 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semester 3. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2019

AGAMA

Simple Linier Regression

CHAPTER 14

SIMPLE LINEAR REGRESSION

Analisis Varians Satu-Arah (One-Way Analysis of Variance—ANOVA)

Prosedur analisis varians (Analysis of Variance—ANOVA) menggunakan variabel numerik
tunggal (single numerical variable) yang diukur dari sejumlah sampel untuk menguji
hipotesis nol dari populasi yang (diperkirakan) memiliki rata-rata hitung (mean) sama.
Variabel dimaksud harus berupa variabel kuantitatif. Variabel ini terkadang dinamakan
sebagai variabel terikat (dependent variable).

Hipotesis nol (H 0 ) dalam uji ANOVA adalah bahwa semua (minimal 3) populasi yang
sedang dikaji memiliki rata-rata hitung (mean) sama. Ringkasnya, hipotesis nol (H 0 ) dan
hipotesis alternatif (H 1 ) dalam ANOVA adalah:

H 0 : 1 = 2 = 3 = … = n
H 1 : Tidak semua populasi memiliki rata-rata hitung (mean) sama.

Analisis varians (Analysis of Variance—ANOVA) adalah prosedur statistika untuk
mengkaji (mendeterminasi) apakah rata-rata hitung (mean) dari 3 (tiga) populasi atau
lebih, sama atau tidak.

Dalam uji ANOVA, bukti sampel diambil dari setiap populasi yang sedang dikaji.
Data-data yang diperoleh dari sampel tersebut digunakan untuk menghitung statistik
sampel. Distribusi sampling yang digunakan untuk mengambil keputusan statistik, yakni
menolak atau menerima hipotesis nol (H 0 ), adalah DISTRIBUSI F (F Distribution).

Dalam uji ini diasumsikan bahwa semua populasi yang sedang dikaji memiliki
keragaman atau varians (variance) sama tanpa mempertimbangkan apakah populasi-
populasi tersebut memiliki rata-rata hitung (mean) sama atau berbeda. Ada 2 (dua) cara
atau metode dalam mengestimasi nilai varians ini, yakni metode dalam kelompok (within
method) dan metode antar-kelompok (between method). Metode dalam kelompok
menghasilkan estimasi tentang varians yang sahih (valid) apakah hipotesis nol salah atau

benar. Sementara metode antar-kelompok menghasilkan estimasi tentang varians yang
sahih (valid) hanya jika hipotesis nol benar.
Metode dalam kelompok (within method) menghasilkan estimasi yang sahih (valid)
apakah hipotesis nol benar atau tidak. Metode antar-kelompok (between method)
menghasilkan estimate yang sahih (valid) jika hipotesis nol benar.
Langkah akhir dari uji ANOVA adalah menghitung rasio antara metode antar-
kelompok (between method) sebagai numerator (faktor yang dibagi) dan metode dalam
kelompok (within method) sebagai denominator (faktor pembagi). Jika hipotesis nol benar
(diterima), rasio di atas berisikan dua hasil estimasi yang terpisah dari populasi yang
memiliki varians sama dan, karenanya, berasal dari distribusi F. Namun demikian, jika
rata-rata hitung (mean) populasi yang dikaji tidak sama, hasil estimasi dalam numerator
akan mengembung sehingga rasionya akan menjadi sangat besar. Jelas bahwa rasio
demikian, dengan membandingkannya dengan distribusi F, tidak berasal dari distribusi F,
dan hipotesis nol akan ditolak. Uji hipotesis dalam ANOVA adalah uji hipotesis bersisi-
satu (one-tailed) di mana nilai statistik F yang besar akan mengarah ke ditolaknya hipotesis
nol, sementara nilai statistik F yang kecil akan mengarah ke penerimaan hipotesis nol.

Metode dalam Kelompok (Within Method)

Terlepas dari benar atau tidaknya hipotesis nol, metode dalam kelompok (within method)
akan menghasilkan estimasi yang sahih (valid). Hal ini disebabkan oleh variabilitas sampel
dideterminasi dengan jalan membandingkan setiap butir data dengan rata-rata hitung
masing-masing. Nilai sampel yang diambil dari populasi A dibandingkan dengan rata-rata
sampel A. Demikian pula dengan masing-masing populasi yang diobservasi. Persamaan
(1) berikut digunakan untuk mengestimasi keragaman atau varians (variance) dalam
metode dalam kelompok.

di mana:
S w 2 : varians yang diestimasi menggunakan metode dalam kelompok;
X ij : butir data ke-i dalam kelompok j;
X j : rata-rata (mean) kelompok j
c : jumlah kelompok
n : jumlah/ukuran sampel dalam setiap kelompok

c(n-1) : derajat bebas (degree of freedom).
Tanda penjumlahan ganda berarti bahwa ada 2 (dua) langkah penjumlahan. Pertama
menyelesaikan tanda jumlah sebelah kanan. Setelah itu, menyelesaikan tanda penjumlahan
sebelah kiri.

Metode Antar-kelompok (Between Method)

Metode penghitungan varians yang kedua adalah metode antar-kelompok (between
method). Metode menghasilkan estimasi varians yang sahih jika hipotesis nol benar.
Persamaan yang digunakan dalam meode ini adalah sebagai berikut:

Varians dalam metode ini bisa juga dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

Uji dan Tabel F Analisis Varians (Analysis of Variance—ANOVA F Test and Table)

Setelah menghitung nilai varians yang sebelumnya tidak diketahui dengan menggunakan
metode dalam kelompok (within method) dan metode antar-kelompok (between method),
selanjutnya kita membuat perbandingan atau rasio (ratio) antara kedua nilai varians
tersebut.

Jika hipotesis nol benar, numerator (pembilang) dan denumerator (penyebut) dalam
persamaan di atas akan merupakan estimasi yang sahih (valid) bagi varians dari populasi

yang sedang dikaji. Rasio tersebut, dengan demikian, akan sesuai (conform) dengan
distribusi F.

Hasil dari pengujian analisis varians biasanya disajikan dalam bentuk tabel yang
biasa dinamakan TABEL ANOVA (ANOVA TABLE). Tabel ini terdiri atas kolom-kolom
yang berisikan sumber keragaman atau sumber varians (source of variance), jumlah
kuadrat (sums of squares—SS), derajat bebas analisis (degree of freedom), nilai
keragaman atau varians yang diestimasi (estimates of the variance), dan nilai F untuk
prosedur analisis keragaman/varians (F value for the analysis of variance procedure),
sebagaimana tampak pada tabel berikut.

Analisis Varians Dua-Arah (Two-Way Analysis of Variance—ANOVA)

Dalam analisis varians satu-arah, hanya ada 1 (satu) sumber keragaman (source of
variability) dalam variabel terikat (dependent variable), yakni: kelompok dalam populasi
yang sedang dikaji. Terkadang kita juga perlu untuk mengetahui atau mengidentifikasi
adanya 2 (dua) faktor yang mungkin menyebabkan perbedaan dalam variabel terikat
(dependent variable). Untuk tujuan tersebut dilakukan analisis varians dua-arah (Two-way
ANOVA). Dalam analisis varians dua-arah, kita harus mengukur setiap kombinasi dua
faktor dari variabel terikat (dependent variable) yang sedang dikaji.

Anova Dua Faktor atau Dua Arah

Banyak variabel respons atau variabel terikat dipengaruhi oleh lebih dari satu
faktor atau variabel bebas. Oleh karena itu, kita sering dituntut untuk melakukan pelbagai
eksperimen di mana kita mempelajari efek atau pengaruh dari sejumlah variabel bebas
(faktor) terhadap sebuah variabel terikat. Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari
pengaruh dari dua (2) faktor (variabel bebas) terhadap sebuah variabel terikat. Kita
asumsikan bahwa faktor pertama (kita sebut faktor 1) memiliki a tingkat atau level (level

1, 2, ……, a) dan faktor kedua (kita sebut faktor 2) memiliki b tingkat atau level (level 1,
2, ……, b). Yang merupakan perlakuan (treatment) di sini adalah kombinasi antara
sebuah level faktor 1 dan sebuah level dari faktor 2. Dengan demikian, kita bisa
mempelajari sebanyak ab perlakuan.

Tujuan dari analisis dua-faktor adalah untuk mengestimasi dan membandingkan
pengaruh dari pelbagai perlakuan yang berbeda-beda terhadap variabel bebas atau variabel
respon. Bergantung pada situasi tertentu, kita dapat melakukan pengujian untuk melihat
apakah terdapat perbedaan nyata atau signifikan (significant differences) pengaruh:
1. antar-level dari faktor 1;
2. antar-level dari faktor 2; dan
3. antar-kombinasi faktor 1 dan 2.

Apabila terdapat perbedaan nyata, kita akan mengestimasi seberapa tinggi tingkat
perbedaan tersebut dalam kerangka untuk mengetahui apakah ada keuntungan praktik dari
perbedaan tersebut. Selanjutnya, kita bisa mengestimasi pengaruh dari perlakuan tertentu
terhadap rata-rata (mean) respons (variabel bebas), dan kita bisa memprediksikan nilai
individu dari variabel respons atau variabel bebas.
Metode yang kita terapkan untuk tujuan tersebut adalah analisis keragaman dua-arah
atau analisis keragaman dua-faktor (two-way analysis of variance or two-factor analysis of
variance). Sebelum lebih lanjut membicarakan analisis tersebut, kita terlebih dahulu lihat
dua definisi berikut.
 Eksperimen faktorial lengkap (complete factorial experiment) bisa dilakukan jika kita
memilih sebuah sampel yang berkaitan dengan masing-masing dan setiap perlakuan
(yakni kombinasi antar-level dari masing-masing faktor).
 Apabila ukuran sampel yang diterapkan untuk semua perlakuan adalah sama, maka
eksperimen demikian dikategorikan sebagai eksperimen faktorial lengkap
seimbang (balanced complete factorial experiment).

Anova dua-arah atau dua-faktor harus memenuhi asumsi-asumsi berikut.
a. Kita melakukan suatu eksperimen faktorial lengkap seimbang (balanced complete
factorial experiment).
b. Kita menerapkan rancangan eksperimen acak lengkap (complete randomized
experimental design). Yakni, sampel acak bebas dari unit eksperimen dikaitkan
pada perlakuan (treatment).

c. Populasi dari semua nilai yang memungkinkan dari variabel respons berkaitan
dengan semua perlakuan terdistribusi secara normal.
d. Semua populasi tersebut memiliki varians yang sama.

Comparing Multiple Proportions Test Of Independence And Goodness Of Fit

CHAPTER 12

Comparing Multiple Proportions Test Of Independence And Goodness Of

Fit

Metode Uji Chi Square
Chi-Square disebut juga dengan Kai Kuadrat. Chi Square adalah salah satu jenis uji
komparatif non parametris yang dilakukan pada dua variabel, di mana skala data kedua
variabel adalah nominal. (Apabila dari 2 variabel, ada 1 variabel dengan skala nominal maka
dilakukan uji chi square dengan merujuk bahwa harus digunakan uji pada derajat yang
terendah).

Uji chi-square merupakan uji non parametris yang paling banyak digunakan. Namun perlu
diketahui syarat-syarat uji ini adalah: frekuensi responden atau sampel yang digunakan besar,
sebab ada beberapa syarat di mana chi square dapat digunakan yaitu:
1. Tidak ada cell dengan nilai frekuensi kenyataan atau disebut juga Actual Count (F0)
sebesar 0 (Nol).
2. Apabila bentuk tabel kontingensi 2 X 2, maka tidak boleh ada 1 cell saja yang memiliki
frekuensi harapan atau disebut juga expected count (“Fh”) kurang dari 5.
3. Apabila bentuk tabel lebih dari 2 x 2, misak 2 x 3, maka jumlah cell dengan frekuensi
harapan yang kurang dari 5 tidak boleh lebih dari 20%.
Rumus chi-square sebenarnya tidak hanya ada satu. Apabila tabel kontingensi bentuk 2 x 2,
maka rumus yang digunakan adalah “koreksi yates”.

Apabila tabel kontingensi 2 x 2 seperti di atas, tetapi tidak memenuhi syarat seperti di atas,
yaitu ada cell dengan frekuensi harapan kurang dari 5, maka rumus harus diganti dengan
rumus “Fisher Exact Test”.

Pada artikel ini, akan fokus pada rumus untuk tabel kontingensi lebih dari 2 x 2, yaitu rumus
yang digunakan adalah “Pearson Chi-Square”.

Rumus Tersebut adalah:

Uji kai kuadrat (dilambangkan dengan “χ 2 ” dari huruf Yunani “Chi” dilafalkan “Kai”)
digunakan untuk menguji dua kelompok data baik variabel independen maupun dependennya
berbentuk kategorik atau dapat juga dikatakan sebagai uji proporsi untuk dua peristiwa atau
lebih, sehingga datanya bersifat diskrit. Misalnya ingin mengetahui hubungan antara status
gizi ibu (baik atau kurang) dengan kejadian BBLR (ya atau tidak).
Dasar uji kai kuadrat itu sendiri adalah membandingkan perbedaan frekuensi hasil observasi
(O) dengan frekuensi yang diharapkan (E). Perbedaan tersebut meyakinkan jika harga dari
Kai Kuadrat sama atau lebih besar dari suatu harga yang ditetapkan pada taraf signifikan
tertentu (dari tabel χ 2 ).
Uji Kai Kuadrat dapat digunakan untuk menguji :

1. Uji χ 2  untuk ada tidaknya hubungan antara dua variabel (Independency test).
2. Uji χ 2  untuk homogenitas antar- sub kelompok (Homogenity test).
3. Uji χ 2  untuk Bentuk Distribusi (Goodness of Fit)
Sebagai rumus dasar dari uji Kai Kuadrat adalah :

Keterangan :

O = frekuensi hasil observasi

E = frekuensi yang diharapkan.

Nilai E = (Jumlah sebaris x Jumlah Sekolom) / Jumlah data

df = (b-1) (k-1)

Dalam melakukan uji kai kuadrat, harus memenuhi syarat:

1. Sampel dipilih secara acak
2. Semua pengamatan dilakukan  dengan independen
3. Setiap sel paling sedikit berisi frekuensi harapan sebesar 1 (satu). Sel-sel dengdan
frekuensi harapan kurang dari 5 tidak melebihi 20% dari total sel
4. Besar sampel sebaiknya > 40 (Cochran, 1954)

Keterbatasan penggunaan uji Kai Kuadrat adalah tehnik uji kai kuadarat memakai data yang
diskrit dengan pendekatan distribusi kontinu.Dekatnya pendekatan yang dihasilkan
tergantung pada ukuran pada berbagai sel dari tabel kontingensi. Untuk menjamin pendekatan
yang memadai digunakan aturan dasar “frekuensi harapan tidak boleh terlalu kecil” secara
umum dengan ketentuan:

1. Tidak boleh ada sel yang mempunyai nilai harapan lebih kecil dari 1 (satu)
2. Tidak lebih dari 20% sel mempunyai nilai harapan lebih kecil dari 5 (lima)
Bila hal ini ditemukan dalam suatu tabel kontingensi, cara untuk menanggulanginyanya
adalah dengan menggabungkan nilai dari sel yang kecil ke se lainnya (mengcollaps), artinya
kategori dari variabel dikurangi sehingga kategori yang nilai harapannya kecil dapat
digabung ke kategori lain. Khusus untuk tabel 2×2 hal ini tidak dapat dilakukan, maka
solusinya adalah melakukan uji

“Fisher Exact atau Koreksi Yates”

Analisis Chi Square
Contoh kasus
Perusahaan penyalur alat elektronik AC ingin mengetahui apakah ada hubungan antara
gender dengan sikap mereka terhadap kualitas produk AC. Untuk itu mereka meminta 25
responden mengisi identitas mereka dan sikap atau persepsi mereka terhadap produknya.

Permasalahan : Apakah ada hubungan antara gender dengan sikap terhadap kualitas AC?

Hipotesis :
 H0 = Tidak ada hubungan antara gender dengan sikap terhadap kualitas AC
 H1 = Ada hubungan antara gender dengan sikap terhadap kualitas AC
Tolak hipotesis nol (H0) apabila nilai signifikansi chi-square < 0.05 atau nilai chi-square
hitung lebih besar (>) dari nilai chi-square tabel.

1. Menguji Independensi antara 2 faktor (independensi)

Independensi (keterkaitan) antara 2 faktor dapat diuji dengan uji chi square.  Masalah
independensi ini banyak mendapat perhatian hampir di semua bidang, baik eksakta maupun

sosial ekonomi.  Kita ambil contoh di bidang ekonomi dan pendidikan.  Kita bisa menduga
bahwa keadaan ekonomi seseorang tidak ada kaitannya dengan tingkat pendidikannya, atau
justru sebaliknya bahwa keadaan ekonomi seseorang  terkait erat dengan tingkat
pendidikannya.  Untuk menjawab dugaan-dugaan ini, kita bisa menggunakan uji chi square.
Langkah-langkahnya sebagai berikut.

1. Buatlah hipotesis
H0: tidak ada kaitan antara keadaan ekonomi seseorang dengan pendidikannya
HA: ada kaitan antara keadaan ekonomi seseorang dengan pendidikannya
2. Lakukan penelitian dan kumpulkan data
Hasil penelitian adalah sebagai berikut (tentatif).

Kategori

Di bawah garis
kemiskinan Di atas garis kemiskinan Total
Tidak tamat SD 8 4 12
SD 20 17 37
SMP 15 16 31
SMA 3 23 26
Perguruan Tinggi 2 22 24
Total 48 82 130
3. Lakukan analisis
Kategori Di bawah garis kemiskinan Di atas garis kemiskinan Total
Tidak tamat SD
O

E

8

4,43

4

7,57 12

SD
O

20 17 37

E

13,66 23,34

SMP
O

E

15

11,45

16

19,55 31

SMA
O

E

3

9,60

23

16,40 26

Perguruan Tinggi
O

E

2

8,86

22

15,14 24

Total 48 82 130
Nilai O (Observasi) adalah nilai pengamatan di lapangan
Nilai E (expected) adalah nilai yang diharapkan, dihitung sbb:
1. Nilai E untuk kategori tidak tamat SD di bawah garis kemiskinan= (12 x 48)/130 = 4,43
2. Nilai E untuk kategori tidak tamat SD di atas garis kemiskinan = (12 x 82)/130 = 7,57
3. Nilai E untuk kategori SD di bawah garis kemiskinan = (37 x 48)/130 = 13,66
4. Nilai E untuk kategori SD di atas garis kemiskinan = (37 x 82)/130 = 23,34
5. Nilai E untuk kategori SMP di bawah garis kemiskinan = (31 x 48)/130 = 11,45
6. Nilai E untuk kategori SMP di atas garis kemiskinan = (31 x 82)/130 = 19,55
7. Nilai E untuk kategori SMA di bawah garis kemiskinan = (26 x 48)/130 = 9,60
8. Nilai E untuk kategori SMA di atas garis kemiskinan = (26 x 82)/130 = 16,40
9. Nilai E untuk kategori Perguruan Tinggi di bawah garis kemiskinan = (24 x 48)/130 = 8,86
10. Nilai E untuk kategori Perguruan Tinggi di atas garis kemiskinan = (24 x 82)/130 = 15,14

Hitung nilai Chi square (x^2)

TABEL CHI-SQUARE

4. Kriteria Pengambilan Kesimpulan

Kesimpulan
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai x^2 hitung = 26,586, yaitu lebih besar darinilai
x^2 tabel yaitu  9,488, sehingga kita harus menerima HA. Dengan demikian, kita
simpulkan bahwa ada kaitan yang signifikan antara keadaan ekonomi seseorang dengan
tingkat pendidikannya (lihat lagi hipotesis di atas, khususnya bunyi hipotesis HA).
Catatan: kata signifikan berasal dari α = 0,05.
2. Menguji proporsi
Contoh kasus (1):

Menurut teori genetika (Hukum Mendel I)  persilangan antara kacang kapri berbunga merah
dengan yang berbunga putih akan menghasilkan tanaman dengan proporsi sebagai berikut:
25% berbunga merah, 50% berbunga merah jambu, dan 25% berbunga putih.  Kemudian,
dari suatu penelitian dengan kondisi yang sama,  seorang peneliti memperoleh hasil sebagai
berikut, 30 batang berbunga merah, 78 batang berbunga merah jambu, dan 40 batang
berbunga putih.  Pertanyaannya adalah apakah hasil penelitian si peneliti tersebut sesuai
dengan Hukum Mendel atau tidak?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa menggunakan uji chi-square, sebagai berikut:

1. Buatlah hipotesis
H0: rasio penelitian adalah 1:2:1 atau 25%:50%:25%
HA: rasio penelitian  adalah rasio lainnya
2. Lakukan analisis
Kategori Merah Merah Jambu Putih Jumlah
Pengamatan (O) 30 78 40 148

Diharapkan (E) 37 74 37 148
Proporsi diharapkan (E) dicari berdasarkan rasio 1:2:1, sebagai berikut:
Merah             = 1/4 x 148 = 37
Merah Jambu  = 2/4 x 148 = 74

Putih               = 1/4 x 148 = 37

Df = (kolom -1)(baris -1) = (3-1)(2-1) = 2

Kriteria Pengambilan Kesimpulan
Terima H0 jika  x^2 hitung< x^2 tabel
Tolak H0 jik  x^2 hitung≥ x^2 tabel
Kesimpulan
Dari hasil analisis data, diperoleh x^2 hitung< x^2 tabel, maka H0 diterima.
Artinya, rasio hasil penelitian si peneliti tersebut sesuai dengan  rasio menurut Hukum
Mendel (lihat bunyi hipotesis pada H0).
Contoh Kasus (2):
Suatu survey ingin mengetahui apakah ada hubungan Asupan Lauk dengan kejadian Anemia
pada penduduk desa X. Kemudian diambil sampel sebanyak 120 orang yang terdiri dari  50
orang asupan lauknya baik dan 70 orang asupan lauknya kurang. Setelah dilakukan
pengukuran kadar Hb ternyata dari 50 orang yang asupan lauknya baik, ada 10 orang yang
dinyatakan anemia. Sedangkan dari 70 orang yang asupan lauknya kurang ada 20 orang yang
anemia.Ujilah apakah ada perbedaan proporsi anemia pada kedua kelompok tersebut.
Jawab :
HIPOTESIS :
Ho : P1 = P2 (Tidak ada perbedaan proporsi anemia pada kedua kelompok tersebut)
Ho : P1 ≠ P2 (Ada perbedaan proporsi anemia pada kedua kelompok tersebut)
PERHITUNGAN :
Untuk membantu dalam perhitungannya kita membuat tabel silangnya seperti ini :

Kemudian tentukan nilai observasi (O) dan nilai ekspektasi (E) :

Selanjutnya masukan dalam rumus :

sekarang kita menentukan nilai tabel pada taraf nyata/alfa = 0.05. Sebelumnya kita harus
menentukan nilai df-nya. Karena tabel kita 2×2, maka nilai df = (2-1)*(2-1)=1.

Dari tabeli kai kudrat di atas pada df=1 dan alfa=0.05 diperoleh nilai tabel = 3.841.
KEPUTUSAN STATISTIK
Bila nilai hitung lebih kecil dari nilai tabel, maka Ho gagal ditolak, sebaliknya bila nilai
hitung lebih besar atau sama dengan nilai tabel, maka Ho ditolak.
Dari perhitungan di atas menunjukan bahwa χ 2  hitung <  χ 2  tabel, sehingga Ho gagal
ditolak.
KESIMPULAN
Tidak ada perbedaan yang bermakna proporsi antara kedua kelompok tersebut. Atau dengan
kata lain tidak ada hubungan antara asupan lauk dengan kejadian anemia.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan

Chi-Square disebut juga dengan Kai Kuadrat. Chi Square adalah salah satu jenis uji
komparatif non parametris yang dilakukan pada dua variabel, di mana skala data kedua
variabel adalah nominal.

Rumusnya adalah:

Fungsi uji chi square adalah untuk melihat apakah suatu pernyataan dapat dinyatakan benar
atau tidak berdasarkan hasil perhitungannya




DAFTAR PUSTAKA


http://juangkriting.blogspot.com/2013/12/chi-square-metode.html
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:YVMKEspJ4lwJ:elisa.ugm.ac.id/use
r/archive/download/131817/2958b83e691ec145b8215ecaa9cb25d3+&cd=3&hl=id&ct=clnk
&gl=id
http://www.statistikian.com/2012/11/rumus-chi-square.html

Varian dan Standar Deviasi

CHAPTER 11

Varian Dan Standar Deviasi (Simpangan Baku)

Varian dan standar deviasi (simpangan baku) adalah ukuran-ukuran keragaman
(variasi) data statistik yang paling sering digunakan. Standar deviasi (simpangan baku)
merupakan akarkuadrat dari varian.

Jadi jika salah satu nilai dari kedua ukuran tersebut diketahui maka akan diketahui juga nilai
ukuran yang lain.

Penghitungan

Dasar penghitungan varian dan standar deviasi adalah keinginan untuk mengetahui
keragaman suatu kelompok data. Salah satu cara untuk mengetahui keragaman suatu
kelompok data adalah dengan mengurangi setiap nilai data dengan rata-rata kelompok data
tersebut, kemudian semua hasilnya dijumlahkan.

Namun cara seperti itu tidak bisa digunakan karena hasilnya akan selalu menjadi 0.

Oleh karena itu, solusi agar nilainya tidak menjadi 0 adalah dengan mengkuadratkan setiap
pengurangan nilai data dan rata-rata kelompok data tersebut, kemudian dilakukan
penjumlahan. Hasil penjumlahan kuadrat (sum of squares) tersebut akan selalu bernilai
positif.

Nilai varian diperoleh dari pembagian hasil penjumlahan kuadrat (sum of squares) dengan
ukuran data (n).

Namun begitu, dalam penerapannya, nilai varian tersebut bias untuk menduga varian
populasi. Dengan menggunakan rumus tersebut, nilai varian populasi lebih besar dari varian
sampel.

Oleh karena itu, agar tidak bias dalam menduga varian populasi, maka n sebagai pembagi
penjumlahan kuadrat (sum of squares) diganti dengan n-1 (derajat bebas) agar nilainya
menjadi lebih besar dan mendekati varian populasi. Oleh karena itu rumus varian menjadi :

Nilai varian yang dihasilkan merupakan nilai yang berbentuk kuadrat. Jika satuan nilai rata-
rata adalah gram, maka nilai varian adalah gram kuadrat. Untuk menyeragamkan nilai
satuannya maka varian diakarkuadratkan sehingga hasilnya adalah standar deviasi
(simpangan baku).

Untuk mempermudah penghitungan, rumus varian dan standar deviasi (simpangan baku)
tersebut bisa diturunkan :

Rumus varian :

Rumus standar deviasi (simpangan baku) :

Contoh Penghitungan

Misalkan dalam suatu kelas, tinggi badan beberapa orang siswa yang dijadikan sampel adalah
sebagai berikut.

172, 167, 180,170, 169, 160, 175, 165, 173, 170

Dari data tersebut dapat dihitung varian dengan menggunakan rumus varian di atas.

Dari penghitungan, diperoleh nilai varian sama dengan 30,22.

Dari nilai tersebut bisa langsung diperoleh nilai standar deviasi (simpangan baku) dengan
cara mengakarkuadratkan nilai varian.

Keterangan:
s 2  = varian
s = standar deviasi (simpangan baku)
xi = nilai x ke-i
= rata-rata
n = ukuran sampel

Dispersi (Ukuran Penyebaran Data)
      Dispersi / Ukuran penyebaran Data adalah suatu ukuran baik parameter atau statistika
untuk mengetahui seberapa besar penyimpangan data. Melalui ukuran penyebaran dapat
diketahui seberapa jauh data-data menyebar dari titik pemusatannya/ suatu kelompok data
terhadap pusat data.Ukuran ini kadang – kadang dinamakan pula ukuran variasi yang
mnggambarkan berpencarnya data kuantitatif. Beberapa ukuran dispersi yang terkenal dan
akan diuraikan disini ialah : Rentang, Rentang natar kuartil, simpangan kuartil/deviasi kuartil,
rata-rata simpangan/rata-rata deviasi, simpangan baku atau standar deviasi, variansi dan
koefisien variansi, jangkauan kuartil, dan jangkauan persentil.

Rentang (range)
Rentang (Range) dinotasikan sebagai R, menyatakan ukuran yang menunjukkan
selisih nilai antara maksimum dan minimum atau selisih bilangan terbesar dengan bilangan
terkecil.

 Rentang merupakan  ukuran penyebaran yang sangat kasar, sebab hanya
bersangkutan dengan bilangan terbesar dan terkecil.Semakin kecil nilai R maka kualitas data
akan semakin baik, sebaliknya semakin besar nilai R, maka kualitasnya semakin tidak baik.
Rentang cukup baik digunakan untuk mengukur penyebaran data yang simetrik dan
nilai datanya menyebar merata. Ukuran ini menjadi tidak relevan jika nilai data maksimum
dan minimumnya merupakan nilai ekstrim.

Rentang = Xmax – Xmin,
Xmax adalah data terbesar dan Xmin adalah data terkecil.

Deviasi Rata-rata : penyebaran Berdasarkan harga mutlak simpangan bilangan-
bilangan terhadap rata-ratanya. Makin besar simpangan, makin besar nilai deviasi rata-rata.

Varians : penyebaran berdasarkan jumlah kuadrat simpangan bilangan-bilangan
terhadap rata-ratanya ; melihat ketidaksamaan sekelompok data

Deviasi Standar : penyebaran berdasarkan akar dari varians dan menunjukkan
keragaman kelompok data

Pengolahan Data Secara Manual
Mengolah data dengan perhitungan manual. Berikut ini akan kami berikan satu contoh
data mentah atau data belum dikelompokkan agar bisa kita pahami bersama. Data sekunder
ini kami dapatkan dari Buku Statistika  yang berjudul Analisis Statistika karya Purbayu Budi
Santosa. Dalam  bukunya Diketahui data mentahnya sebagai berikut:
Contoh berikut adalah data penjualan komputer  per- 10 bulan pada tahun 2010 di
toko komputer KOMPISHOP
Tabel II.1 Penjualan Komputer per- 10 bulan

63 68 71 74 76 78 81 84 85 89
66 70 73 75 76 79 82 84 85 90
67 71 73 75 76 79 82 85 86 92
68 71 74 75 77 79 84 85 86 94

Simpangan rata- rata
1) Simpangan rata-rata data tunggal
Simpangan rata-rata data tunggal dirumuskan sebagai berikut.

X = 78,2
SR = 1 /40 ∑|63-78,2| + |66 – 78,2| + |67-78,2| +2 |68 – 78,2| + |70 – 78,2 | + 3 |71 -78,2|
          + 2 | 73 -78,2 | + 2 |74 – 78,2| + 3 |75 -78,2| + 3 |76- 78,2| + |77 – 78,2 | + |78-78,2|
          + 3 |79 – 78,2| + |81 – 78,2| + 2 |82 – 78,2| + 3 84-78,2| + 4 |85- 78,2| + 2 |86-78,2|
          + |89-78,2| + |90-78,2| + |92-78,2| + |94-78,2|

SR = 1/40∑ |-15,2| + |-12,2|  + |-11,2| + 2 |-10,2| + |-8,2| + 3 | -7,2| + 2 |-5,2|+ 2|-4,2| + 3 |
                       -3,2| +3 |-2,2| + |-1,2| + |-0,2| + 3 |0,8| +|2,8| + 2 |3,8| + 3 |5,8| + 4 |6,8| + 2 |
                        7,8| + |10,8| + |11,8| + | 13,8| + |15,8|

SR =1/40  ∑ 15,2 +12,2  + 11,2 + 2 (10,2) + 8,2 + 3 (7,2) + 2 (5,2)+ 2(4,2) + 3(3,2) +
                 3 (2,2) + 1,2 + 0,2 + 3 (0,8) +2,8 + 2 (3,8) + 3 (5,8) + 4 (6,8) + 2(7,8) + 10,8
                 + 11,8 + 13,8 + 15,

SR = 1/40 ∑ 15,2 +12,2  + 11,2 + 20,4 + 8,2 + 21,6 + 10,4+ 8,4 + 9,6 +6,6 + 1,2 + 0,2 +
   2,4+2,8 + 7,6 + 17,4 + 27,2 + 15,6 + 10,8 + 11,8 + 13,8 + 15,8
SR = 1/40 x 250,4
SR = 6,26

VARIANS

Keterangan:                                                                                   
Keterangan :
:  data ke-I, : rata-rata,  s²: ragam n : ukuran sampel

sampel                                                       

 = 1/40-1 ∑ (-15,2)  +(-12,2)   +  (-11,2 ) + 2 (-10,2)  +(- 8,2 ) + 3 (-7,2)  + 2 (-
5,2) + 2(-4,2)  + 3(-3,2)  + 3 (-2,2)  + (-1,2)  + (-0,2)  + 3 (0,8)  +(2,8)  + 2 (3,8)
 + 3 (5,8)  + 4 (6,8)  + 2(7,8)  + (10,8)  + (11,8)  + (13,8)  +( 15,8)

s = 1/39 X 231,04 + 148,84 + 125,44 + 2(104,04) + 67,24 + 3(51,84) + 2(27,04) + 2(17,64)
+ 3(10,24) + 3(4,84) + 1,44 + 0,04 + 3(0,64) + 7,84 + 2(14,44) + 3(33,64) + 4(46,24) +
2(60,84) + 116,64 + 139,24 + 190,44 + 249,64

S= 1/39 X 231,04 + 148,84 + 125,44 + 208,08 + 67,24 + 155,52 + 54,08 + 35,28 + 30,72 +
14,52 + 1,44 + 0,04 + 1,92 + 7,84 + 28,88 + 100,92 + 184,96 + 121,68 + 116,64 + 139,24 +
190,44 + 249,64

S = 1/39 (2214,4)
S = 56,7794

SIMPANGAN BAKU
S = = 7,53

Jangkauan kuartil
Disebut juga Simpangan kuartil / rentang semi antar kuartil / deviasi kuartil yaitu setengah
dari selisih antara kuartil atas (Q 3 ) dengan kuartil bawah (Q 1 ).
Dengan Rumus :
  JK = ½ (Q 3 – Q 1 )
Keterangan :
Q 1 = Kuartil pertama
Q 3 = Kuartil ketiga

Q i     = i ( n + 1 ) /4
Q 1    = 1 ( 40 + 1 ) /4
        = 1 ( 41) /4
        = 41 / 4
        = 10,25                                                                                                             

X10 + 0,25 ( X11 – X10 )
73 + 0,25  ( 73 – 73 )
73 + 0,25 ( 0 ) = 73

Q3  = 3 (40 + 1) /4
        =  3(41) / 4
        = 30,,75
X30+0,75 (X31-X30)
84 + 0,75 ( 85 – 84 )
84 + 0,75 (1)
84,75
     
        Jk = ½ ( 84,75 – 73 )
             = ½ (11,75)
             = 5,875

Hyphotesis Testing

CHAPTER 09
Hyphotesis Testing

Hipotesis merupakan sebuah pernyataan dugaan terhadap suatu parameter populasi.
Penyataan ini bersifat dugaan sehingga diperlukan data-data untuk membuktikan
kebenarannya. Sebagai contoh dalam proses persidangan, seorang tersangka didakwa
bersalah, namun dibebaskan dari tuntutan hukum. Kesimpulannya, sidang tidak membuktikan
bahwa individu tersebut bersalah, hanya saja tidak ada cukup bukti untuk membuktikan
tersangka tidak bersalah. Begitu juga hipotesis tidak mungkin dibuktikan dengan mengamati
seluruh data populasi. Alternatifnya adalah dengan mengambil sampel dari populasi.
.
Pengujian hipotesis (Hypothesis Testing)
Merupakan prosedur untuk menetapkan kebenaran dugaan berdasarkan sample dan teori
probabilitas. Proses pengujian hipotesis terdiri atas 5 tahap:
1. Menyatakan Hipotesis Kosong (Null Hypothesis) dan Hipotesis Alternatif (Alternate
Hypothesis)
Hipotesis Kosong (H 0 ) merupakan pernyataan dugaan mengenai parameter populasi yang
akan diuji kebenarannya. H 0  diuji lewat data sampel yang membuktikan bila pernyataan
tersebut salah atau tidak.  Jika salah maka, H 0  dianggap ditolak, jika tidak salah,
maka H 0  dianggap gagal ditolak.
H 0  berupa dugaan dan tidak menunjukkan nilai yang sesungguhnya. Sehingga, jika H 0  gagal
ditolak, bukan berarti H 0  tersebut benar. Untuk membuktikan jika H 0  benar, harus dilakukan
survei dan tes terhadap seluruh objek populasi, di mana hal ini tidak feasibel. Proses ini bisa
dianalogikan seperti proses persidangan di atas.
Hipotesa Alternatif (H 1 ) merupakan pernyataan yang diterima dan dianggap benar,
jika H 0  terbukti bersalah / ditolak.
2. Menentukan tingkat signifikansi (Level of Significance)

Tingkat signifikansi dilambangkan dengan α, yaitu tingkat probabilitas H 0  ditolak di saat
pernyataan tersebut benar. α dapat bernilai 0.01, 0.05, 0.1, dan seterusnya antar 0 dan 1.
Penggunaannya serupa pada konsep rentang interval, semakin besar α, maka semakin ketat
dan akurat kendali terhadap statisik sampel.
Dikarenakan tidak mungkin mengamati tiap objek dalam populasi, maka ada kemungkinan
pengambilan sampel yang salah, yang tidak mewakili populasi yang sesungguhnya. Sehingga
terjadi kesalahan dalam penentuan hipotesis. Kesalahan Pengujian Tipe I (Type I Error),
dilambangkan dengan α. Kesalahan Tipe I ini sama dengan Tingkat Signifikansi, yaitu
tingkat kesalahan H 0  ditolak di saat H 0  seharusnya diterima. Sebaliknya, Kesalahan Pengujian
Tipe II (Type II Error), dilambangkan dengan β adalah tingkat kesalahan H 0  tidak ditolak di
saat H 0  tersebut salah.

3. Menentukan metode pengujian hipotesis.
Pengujian dilakukan dengan mencari nilai Z / t dari statistik sampel yang didapat. Untuk σ
diketahui, pengujian menggunakan distribusi Z. Untuk σ tidak diketahui, pengujian
menggunakan distirbusi t.
Persamaan yang digunakan adalah:

Pengujian hipotesis dapat dilakukan juga terhadap parameter populasi berupa proporsi,
dengan syarat asumsi distribusi binomial terpenuhi. Persamaan untuk pengujian berupa
proporsi adalah:

4. Merumuskan syarat pengambilan keputusan
5. Mengambil keputusan
.
Pengujian dengan ujung tunggal dan ujung ganda (One-Tailed and Two-Tailed Test of
Significance)
Pengujian dengan ujung tunggal digunakan, saat menguji hipotesis, dengan statistik sampel
yang akan diuji lebih besar atau lebih kecil dari nilai dugaan. Pengujian ini memiliki daerah
penolakan satu ujung, antara ujung kiri atau kanan. H 0  dituliskan dengan simbol ≤ atau ≥.
Sementara pengujian dengan ujung ganda digunakan, saat menguji hipotesis, dengan statistik
sampel yang akan diuji setara dengan satu titik / nilai dugaan. Pengujian ini memiliki derah
penolakan dua ujung, baik ujung kiri dan kanan. H 0 dituliskan dengan simbol =. Pada
pengujian ujung ganda, tingkat signifikansi terbagi dua, setengah untuk masing-masing
ujung.
.
Alternatif lain dalam pengujian hipotesis
Pendekatan pengujian hipotesis serupa dengan pendekatan rentang keyakinan. Pada
pengujian hipotesis, nilai statistik diubah menjadi nilai Z. Kemudian nilai tersebut
dibandingkan dengan nilai kritis (menurut tingkat signifikansi yang digunakan). Sementara
pada pendekatan rentang keyakinan, rentang nilai ditentukan terlebih dahulu untuk tiap nilai
kritis. Setelah itu ditentukan apakah nilai statistik tercakup dalam rentang nilai tersebut atau
tidak.

Pendekatan lain untuk menguji hipotesis adalah dengan menghitung p-value. p-
value merupakan probabilitas memperoleh nilai sampel lebih besar atau sama dengan nilai
diamati. Pengujian dilakukan dengan membandingkan p-value dengan tingkat signifikansi.
Jika p-valuelebih kecil, maka H 0  ditolak.
p-value memberikan gambaran seberapa kuat keputusan yang telah diambil. Semakin kecil p-
value mengindikasi kemungkinan H 0  untuk benar semakin kecil.

Kode Etik Profesi Akuntansi

BAB 7
KODE ETIK PROFESI AKUNTANSI
Kode Etik Profesi Akuntansi
APA ITU KODE ETIK PROFESI?

 Panduan dan aturan bagi seluruh anggota dalam menjalankan tugasnya sehingga dapat memenuhi tanggung jawabnya dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertingi, dengan orientasi pada kepentingan publik
Kode Etik Profesi Akuntansi
 Mengapa Kode Etik Diperlukan?
 Brown (1971) menyatakan bahwa:
  “Etika profesional melambangkan suatu bagian penting dari sistem disiplin yang komprehensif
dalam masyarakat yang beradab. Sistem disiplin ini perlu sekali agar kesejahteraan kelompok dapat
dilindungi dari tindakan-tindakan individu yang tidak bertanggung jawab. Tanggung jawab adalah
harga kelangsungan hidup suatu kelompok”

PRINSIP-PRINSIP ETIKA BAGI AKUNTAN
 Arens dan Loebbecke (1994) Prinsip yang berhubungan dengan perilaku etis:
 kejujuran (honesty)
 integritas (intregity)
 memegang janji (promise keeping)
 loyalitas (loyality)
 keadilan (fairness)
 kepedulian pada orang lain (caring for others)
 menghargai orang lain (respect for others)
 warga negara yang bertanggung jawab (responsible citizenship)
 mencapai yang terbaik (pursuit of excellence)
 akuntabilitas (accountability)


Anis CHARIRI
 APA YANG HARUS DILAKUKAN?
 Akuntan harus memiliki kode etik
KAP harus mengembangkan dan mengimplementasikan code of conduct
Harus ada kejelasan sanksi bagi akuntan yang nakal

RERANGKA KODE ETIK
 Pendahuluan & Tujuan
 Memberi pedoman dalam Fiduciary relationship
 Prinsip dan Standar Mendasar
 Reputasi, kepentingan public, nilai etika (integritas, dll)
 Aturan-Aturan Umum
 Aturan-Aturan Khusus
 Disiplin
 Sanksi
 Interpretasi Aturan 

SUMBER KODE ETIK
 CODE OF CONDUCT
 American Institute of Certified Public Accountant(AICPA)
 International Federation for Accountant (IFAC)
 IAI
 DLL
 LAW & JURISPRUDENCE 




KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
 Terdiri dari tiga bagian:
 Prinsip Etika
 Kerangka dasar bagi aturan etika
 Prinsip-prinsip etika profesi IAI yang ditetapkan dalam kongres ke VIII IAI di Jakarta tahun 1998
 Aturan Etika
 Aturan etika secara khusus digunakan untuk mengatur perilaku profesioanal yang menjadi anggota kompartemen akuntan publik.
 Interpretasi Etika

PRINSIP ETIKA IAI
1. Tanggung Jawab Profesi
 Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukan
2. Kepentingan Publik
 Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, dan menunjukkan komitmen atas profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya
3. Integritas
 Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
 Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji semua yang diambilnya.
4. Obyektifitas
 Setiap anggita harus menjaga obyektifitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.
 Prinsip obyektifitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak , jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain.
5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
 Setiap anggora harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik legislasi dan teknik
yang paling mutakhir.
 Mekanismenya melalui dua fase:
 Pencapaian Kompetensi Profesional (Pendidikan dasar)
 Pemeliharaan Kompetensi Profesional (Pendidikan berkelanjutan)

6.. Kerahasiaan
 Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan
 informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkan.
 Informasi rahasia dapat diungkapkan jika:
1. Apabila pengungkapan diijinkan
2. Pengungkapan diharuskan oleh hukum
3. Ketika ada kewajiban atau hak profesional untuk mengungkapkan

7. Perilaku Profesional
 Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
 Kewajiban untuk menjauhi tidakan yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

8. Standar Teknis
 Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan.
 Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerimaan jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektifitas.


PENEGAKAN KODE ETIK
1. Kantor Akuntan Publik
 Ketaatan terhadap kode etik menjadi tanggung jawab pimpinan KAP dimana anggota profesi itu bekerja.
 Managing partner serta para partner dan manajer KAP pada umumnya melakukan pengawasan terhadap ditaatinya aturan perilaku ini
1. Unit Peer Review Kompertemen Akuntan Publik IAI
 Pengawasan ini dilakukan oleh unit organisasi didalam tubuh IAI sendiri.
Pengawasan oleh unit ini khusus dibentuk untuk mengawasi sesama KAP selama ini
belum terdengar.
2. Badan Pengawas Profesi Kompartemen Akuntan IAI
 Merupakan unit organisasi yang melakukan peradilan pada tingkat pertama terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh anggota IAI, Kompertemen Akuntan Publik
3. Dewan Pertimbangan Profesi
 Dewan ini berfungsi sebagai peradilan tingkat banding untuk kasus-kasus yang telah diputus hukumannya berdasarkan keputusan pada tingkata dan pengawas profesi. Demikian pula dewan ini melakukan peradilan untuk kasus-kasus pelanggaran lainnya yang tidak berkaitan dengan akuntan publik.
4. Departemen Keuangan RI
 Unit organisasi ini adalah pemberi ijin praktik akuntan publik dan pengawasan pada umumnya dilakukan untuk menilai apakah KAP yang diberika ijin telah melaksanakan ketentuan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Nomor
43/KMK.017/1997 tanggal 27 Januari

Komunikasi Intrapersonal


Materi ini menguraikan, bagaimana orang menerima informasi, menyimpannya dan menghasilkan
kembali.
Proses pengolahan informasi, yang disebut sebagai komunikasi intrapersonal, meliputi sensasi,
persepsi, memori dan berpikir.

Sensasi adalah proses menangkap stimuli.
Persepsi ialah proses memberi makna pada sensasi, sehingga manusia memperoleh pengetahuan
baru. 
Untuk memahami bagaimana manusia menciptakan makna pada diri mereka, kita perlu memahami
antara persepsi dan komunikasi
Persepsi adalah proses aktif untuk menyeleksi, mengorganisasikan dan menginterpretasikan orang,
objek, peristiwa, situasi dan kegiatan. Persepsi memberi makna pada stimuli inderawi.
Persepisi adalah : suatu proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan
kesan-kesan indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka
Faktor yang mempengaruhi persepsi:
Pelaku persepsi: karakteristik pelaku (individu) yang mempengaruhi persepsi;
Sikap
Kebutuhan atau mitif yang tidak dipuaskan
Kepentingan atau minat kita
Pengalaman masa lalu
Pengharapan
Target atau Objek, karakteristik dari objek akan mempengaruhi persepsi
Situasi akan menarik perhatian kita untuk memperhatikan objek untuk memberikan persepsi

Sensasi : merupakan tahap paling awal dari penginderaan. Apa yang menyentuh alat indera, dari
dalam atau dari luar disebut stimuli.
Perbedaan sensasi dapat disebabkan oleh perbedaan pengalaman atau lingkungan budaya yang
berbeda
Teori atribusi : bila individu-individu mengamati perilaku, mereka mencoba menentukan apakah itu
disebabkan faktor internal atau eksternal
Faktor internal, perilaku yang diyakini berada dibawah kendali pribadi dari individu itu
Faktor eksternal, perilaku sebagai hasil dari sebab-sebab luar dimana orang terpaksa berperilaku
demikian oleh situasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi cara pandang terhadap penyebab perilaku apakah internal atau
eksternal yaitu:
Kekhususan, merujuk kepada apakah individu memperlihatkan perilaku yang berlainan dalam situasi
yang berlainan
Konsensus, jika semua orang menghadapi situasi yang serupa bereaksi dengan cara yang sama
Konsistensi, apakah individu memberi reaksi dengan cara yang sama dari waktu ke waktu

Persepsi Selektif, orang-orang secara selektif menafsirkan apa yang mereka saksikan berdasarkan
kepentingan, latar belakang, pengalaman dan sikap.
Efek halo, menarik suatu kesan umum mengenai seorang individu berdasarkan suatu karakteristik
tunggal


Efek kontras, evaluasi atas karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh pembandingan dengan
orang lain yang baru saja dijumpai yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah pada
karkateristik yang sama
Proyeksi, menghubungkan karakteristiknya sendiri ke orang lain
Berstereotipe, menilai seseorang atas dasar persepsi seseorang terhadap kelompok orang itu

Motivasi


Motivasi
MOTIVASI ???

Dalam Manajemen???
Mengapa kita perlu
MOTIVASI ???
Ubah MINDSET Anda! 

Semua memulai dari KEYAKINAN dalam Pikirannya 
DREAM
Lemah dan tangan di bawah
Frustasi
Pecundang
Pemalas yang rugi
Orang yang beruntung

Posisi “Kualitas SDM ”
Beberapa Definisi Motivasi
Definisi 1:
Motivasi adalah proses pengembangan dan pengarahan perilaku atau kelompok itu menghasilkan
keluaran (output) yang diharapkan, sesuai dengan sasaran atau tujuan yg ingin dicapai organisasi
(Ensiklopedi Manajemen, Ekonomi dan Bisnis, 1993 : 432-433).
Definisi 2:
Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau & rela untuk
mengerahkan kemampuan, dlm bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga & waktunya untuk
menyelanggarakan berbagai kegiatan yg menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan
kewajibannya, dlm rangka pencapaian tujuan & berbagai sasaran organisasi yg telah ditentukan
sebelumnya (Siagian, 1986 : 132)
Penegasan Diri
Ubah Cara Pandang
Keluar Dari Tempurung
Tentukan Kuota Ide
Ganti Kebiasaan
Beri Otak Makan
Catatan Ide
Bertindak
Be Innovative

Kiat-kiat Untuk Membuat Anda Jauh Lebih Inovativ
Motivasi Sebagai Pendorong Individu
Kebutuhan atau Kesenjangan Kebutuhan
Pencarian Jalan Keluar bagi memenuhi dan memuaskan kebutuhan
Pilihan Perilaku untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan
Penentuan kebutuhan di masa yang akan datang dan pencarian bagi cara pemenuhannya
Evaluasi atas Pemuasan Kebutuhan

KEBUTUHAN
Kebutuhan timbul dalam diri individu apabila si-individu merasa adanya kekurangan dalam dirinya
(ada ketidakseimbangan antara apa yang dimiliki dengan apa yang menurut persepsi  sii ndividu
harus dimiliki).

DORONGAN
Untuk mengatasi ketidakseimbangan tersebut, dalam diri si-individu akan timbul DORONGAN berupa
usaha pemenuhan kebutuhan secara terarah.
Maka, DORONGAN biasanya berorientasi pada tindakan tertentu yang secara sadar dilakukan oleh
seseorang/individu, dan inilah INTI dari MOTIVASI
TUJUAN
Komponen ketiga dari motivasi adalah TUJUAN. Pencapaian TUJUAN berarti mengembangkan
keseimbangan dalam diri seseorang/si-individu.

Ada Lima perspektif berkenaan dengan Motivasi Kerja PEGAWAI:  
Perspektif Pengharapan                                            
Perspektif Keseimbangan
Perspektif Penentuan-tujuan
Perspektif Kebutuhan
Perspektif Penguatan

I. PERSPEKTIF PENGHARAPAN
Orang akan termotivasi untuk bekerja dengan baik bila ada peluang untuk mendapatkan insentif.
Besar kecilnya motivasi kerja tergantung pada nilai insentif itu pada masing-masing individu.

II. PERSPEKTIF KESAMAAN ATAU KESEIMBANGAN
(Equity Theory)
Orang cenderung akan membandingkan insentif atau reward yang deperolehnya dengan insentif
yang diterima oleh orang lain yang mempunyai beban kerja yang serupa. Bila besarnya insentif
antara dua orang itu sama, maka akan muncul motivasi kerja. Bila lebih kecil maka akan timbul rasa
kecewa yang kemudian mengurangi motivasinya untuk bekerja dengan baik. Bila salah seorang
menerima lebih banyak, maka dia akan termotivasi lebih kuat.

III. PERSPEKTIF PENENTUAN-TUJUAN
Orang termotivasi untuk mencapai tujuan yang jelas; sebaliknya orang akan bermotivasi kerja
rendah bila tujuan dari pekerjaannya tidak jelas. 


Mengapa berbagai permainan (games) sangat memoti-vasi banyak orang untuk ikut melakukan
karena tujuan yang harus dicapai ada, jelas dan menarik. (Main sepakbola misalnya).
Orang yang tugasnya jelas tujuannya dan lebih “menantang” lebih menunjukkan motivasi kerja yang
lebih besar daripada orang yang tujuan tugasnya kabur atau terlalu mudah untuk mencapainya.
Perspektif Kebutuhan (Need Perspectives) Mengenai Motivasi
teori hirarki kebutuhan (Hierarchy of Needs) dari Abraham Maslow
teori ERG dari Clayton Alderfer
teori tiga kebutuhan dari  Atkinson dan McClelland
teori dua faktor (Two-Factor Theory) dari Frederich Herzberg
E = Existence (identik dengan hierarki pertama dan kedua teori maslow).
R = Relatedn
ess (senada dengan hierarki ketiga dan keempat konsep maslow).
G = Growth (mengandung makna yang sama dengan hierarki kelima maslow


Hierarchy of Needs  (maslow)
Kebutuhan Fisiologis | Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan
biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya 
Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan | Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari
rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya 
Kebutuhan Sosial | memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-
lain 
Kebutuhan Penghargaan | pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya 
Kebutuhan Aktualisasi Diri | Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai
dengan bakat dan minatnya



teori ERG dari Clayton Alderfer
Alderfer menyatakan bahwa ada tiga kelompok utama kebutuhan, existence, relatedness,
dan growth (ERG).

teori tiga kebutuhan dari  Atkinson dan McClelland
kebutuhan berprestasi: dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, berusaha keras untuk
berhasil.
kebutuhan berkuasa: kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa sehingga
mereka tidak akan berperilaku sebaliknya.
kebutuhan berafiliasi: keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan
akrab.

MOTIVASI DAN KEPUASAN KERJA
Kepuasan Kerja adalah perasaan senang/puas ka-rena pekerjaan yang dilakukannya.Kepuasan kerja 
ini berkaitan dengan motivasi kerja.
Bagaimana hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja ?
Perbaikan kondisi kerja yang menaikkan peluasan pekerja cenderung meningkatkan produktivitas
(kinerja). Tetapi hubungan itu tidak begitu kuat. (korelasinya rata-rata hanya 0,14)
Beberapa ahli berpendapat bahwa kinerja (yang tinggi) akan menghasilkan kepuasan, tidak
sebaliknya.

Emosi dan Suasana Hati


BAB 4
EMOSI DAN SUASANA HATI

PENGERTIAN EMOSI DAN SUASANA HATI
Menurut Stephen Robbins:
 Afek (affec  ) adalah sebuah istilah umum yang mencakup beragam perasaan yang dialami orang. Afek adalah sebuah konsep  yangmeliputi baik emosi maupun suasana  hati.
 Emosi (emotion) adalah perasaan-perasaan  intens yang ditujukan kepada sesorang atau  sesuatu.
 Suasana hati ( oo ) adalah perasaa -perasaan yang cenderung kurang intens dibandingkan emosi dan seringkali  (meskipun tidakselalu) tanpa ransangan  konstektual.

PENGERTIAN EMOSI DAN SUASANA HATI
 Menurut Fred Luthans (2005): Emosi merupakan reaksi terhadap sebuah objek.  Anda  menunjukkan emosi saat senang terhadap sesuatu,  marah pada seseorang, takut padasesuatu.
 Kebanyakan ahli yakin bahwa emosi lebih cepat  berlalu daripada suasana hati. Sebagai contoh bila
seseorang bersikap kasar terhadap Anda, Anda  akan merasamarah. Perasaan intens kemarahan  tersebut mungkin datang dan pergi dengan cukup  cepat, bahkan mungkin dalam hitungandetik. Tetapi ketika dalam suasana hati yang buruk, Anda  dapatmerasa tidak enak untuk beberapa jam.
 Sebaliknya suasana hati tidak diarahkan pada objek. Emosi dapat berubah menjadi suasana hati,  saatkehilangan fokus pada objek konstektual.

AFEK
Didefinisikan sebagai beragam perasaan yang dialami orang. Afek dapat dialami dalam bentuk emosi dan suasana hati.

EMOSI
1. Disebabkan oleh kejadian spesifik  2.Sangat cepat dalam durasi (detik atau menit).
3. Bersifat spesifik dan banyak  (banyak emosi-emosi spesifik  seperti kemarahan, rasa takit,  kesedihan, kebahagian rasa jijik,  rasa terkejut)
4. Biasanya disertai oleh ekspresi wajah  yang jelas.
5. Bersifat berorientasi tindakan.
SUASANA HATI
1. Penyebabnya seringkali umum  dan tidak jelas.
2. Berakhir lebih lama dari emosi  (jam atau hari)
3. Lebih umum (dua dimensi
utama afek positif dan afek negatif  yang terdiri dari berbagai emosi spesifik)
4. Biasanya tidak diindikasikan  oleh ekspresi yang jelas.
5. Bersifat kognitif

KUMPULAN DASAR EMOSIONAL
 Emosi mencakup rasa marah, jijik, antusias,  iri,takut, frustasi, kecewa, malu, bahagia, benci,  berharap, cemburu, gembira, cinta, bangga,  terkejut dan sedih.
 Dalam penelitiam kontemporer, psikolog telah mencoba mengidentifikasi emosi emosi dasar  dengan mempelajariberbagai ekspresi wajah.  Salah satu masalah dari pendekatanini adalah  beberapa emosi terlalu kompleks untuk secara  mudah diekspresikan melalui wajah. Contohnya  adalah cinta.Banyak orang menganggap cinta  sebagai hal paling universaldari semua emosi,  tetapi tidaklah mudah untukmengekspresikan  emosi cinta hanya melalui wajah.

KUMPULAN DASAR EMOSIONAL
Selain itu, setiap kultur memiliki norma  yang mengatur ekspresi emosi, sehingga  bagaimana
 kita mengalami sebuah emosi  tidak akan selalu sama dengan bagaimana  kita menunjukkannya.
 Saat ini banyak  perusahaan yang menawarkan program  manajemen kemarahan untuk melatih 
 orang manahan atau bahkan  menyembunyikan perasaan-perasaan  tersebunyi mereka.

BEBERAPA ASPEK EMOSI
a. Biologi Emosi
Orang-orang cederung merasa paling bahagia  (melaporkanlebih banyak emosi positif dibandingkan  emosi negatif) ketikasistem limbik mereka secara  relatif tidak aktif. Ketika sistem limbik memanas,  emosi negatif seperti rasa marah dan bersalah   mendominasi emosi-emosi yang positif seperti  kegembiraan dan dan kebahagian. Sistem limbik  setiap orangtidaklah sama.

b. Intensitas
c. Frekuensi dan Durasi,
d. Apakah Emosi Membuat Kita Irasional?
e. Fungsi Emosi

SUASANA HATI SEBAGAI AFEK POSITIFDAN NEGATIF
 Afek positif (positive affect) sebagai sebuah dimensi suasana hati yang terdiri  atas emosi-emosi positif seperti kesenangan, ketenangan diri dan kegembiraan pada ujung tinggi, dan  kebosanan, kemalasan dan kelelahan pada  ujung rendah.
 Afek negatif (negative affec ) adalah sebuah dimensi suasana hati yang terdiri atas kegugupan, stres dan kegelisahan pada  ujung tinggi, serta relaksasi, ketenangan  dan keseimbanganpada ujung rendah.
 Afek positif dan negatif adalah suasana hati.
Tegang
Gugup
Awass
enang

Afek Negatif
Tinggi
Afek Positif Tinggi
Tertekan
 Marah
Bahagia
Gembira
Sedih
Depresi
Tentram
Puas
Bosan

Capai
Tenang
Rileks

Afek Positif  Rendah
Afek Negatif
Rendah

SUMBER-SUMBER EMOSI  DAN SUASANA HATI
 Kepribadian
 Hari dalam seminggu dan waktu dalam seharí
 Cuaca
 Stres
 Aktivitas Sosial
 Tidur
 Olahraga
 Usia
 Gender

KERJA EMOSIONAL
 Adalah situasi dimana seorang karyawan mengekspresikanemosi-emosi yang  diinginkan secara
organisasional selama  transaksi antarpersonal di tempat kerja
 Konsep kerja emosional muncul dari penelitian-penelitian atas pekerjaan  terkait pelayanan.
 Misalnya, maskapai penerbangan  mengharapkan pramugari mereka, misalnya  untuk gembira; kitamengharapkan  pemimpin upacara pemakaman untuksedih;  dan dokter untuk secara emosi netral



KETIDAKSESUAIAN EMOSIONAL
 Inkonsistensi antara emosi yang kita  rasakandan emosi yang kita proyeksikan
 Sebagai contoh manajer mengharapkan  karyawan untuk selalu bersikap sopan,  tidak bersikap bermusuhan dalam  berinteraksi dengan rekan-rekan kerja.
 Tantangan sebenarnya adalah ketika  para karyawan harus menunjukkan satu  emosi sementara pada saat yang  bersamaan mengalami emosi yang lain.

EMOSI YANG DIRASAKAN VS EMOSI YANG DITAMPILKAN
 Emosi yang dirasakan (felt emotion) adalah emosi  sebenarnya dari seorang individu
 Sebaliknya, emosi yang ditampilkan  (displayedemotio ) adalah emosi yang  diharuskan organisasiuntuk ditampilkan  oleh pekerja dan dipandang sesuai dalam  pekerjaan tertentu. Emosi ini bukanlah  pembawaan, melainkan dipelajari.

BERPURA-PURA DIPERMUKAAN (SURFACE ACTING)
 Adalah menyembunyikan perasaan terdalam seseorang dan menghilangkan  ekspresi-ekspresi emosional sebagai  respon terhadap aturan-aturan  penampilan.
 Sebagai contoh, ketika seorang pekerja tersenyum kepada pelanggan meskipun  saat
ia tidak ingin melakukannya, ia  sedang berpura-pura di permukaan

Berpura-pura Secara Mendalam  (DEEPACTIN )
Adalah berusaha mengubah perasaan mendalam seseorang berdasarkan aturan-aturan  penampilan
Seorang penyedia layanan kesehatan yang berusaha untuk secara tulus merasakan
empati terhadap pasiennya merupakan contoh berpura-  pura secara mendalam
Penelitian menunjukkan bahwa perpura-pura  dipermukaan lebih menimbulkan stress
pada  karyawan karena mengharuskan seseorang untuk  memalsukan perasaan yang sebenarnya

TEORI PERISTIWA AFEKTIF
Bagaimana emosi dan suasana hati  memengaruhi kinerja dan kepuasan kerja  kita?
Sebuah model yang dinamakan teori

peristiwa afektif
ffective even
theory_AET) meningkatkan pemahaman  kita atashubungan tersebut. AET  menunjukkan bahwa
karyawan bereaksi  secara emosional pada hal-hal yang terjadi pada mereka di tempat kerja dan
bahwa  reaksi inimemengaruhi kinerja dan  kepuasan kerja mereka.

TEORI PERISTIWA AFEKTIF
Lingkungan Kerja
 Karekteristikkarakteristik  pekerjaan
 Tuntutantuntutan  pekerjaan
 Syaratsyarat untuk kerja  emosional

Kepuasan Kerja
Peristiwaperistiwa Kerja
 Percekcokan harian
 Kegembiraan harian

Reaksireaksi Emosional
 Positif
 Negatif

Kinerja pada Pekerjaa
Kecenderungan pribadi
 Kepribadian
 Suasana hati



TEORI PERISTIWA AFEKTIF
Kesimpulannya, AET menawarkan dua pesan  penting:
 Emosi-emosi menyediakan wawasan yang berharga untuk memahami perilaku  karyawan. Model tersebut mendemonstrasikan bagaimana  percekcokan dan kegembiraan di tempat  kerja memengaruhi kinerja dan kepuasan  karyawan.
 Karyawan dan manajer seharusnya tidak mengabaikan emosidan peristiwa yang  menyebabkannya, bahwa ketika hal tersebut tampaknya sepele, karena hal  tersebutberakumulasi.

Kecerdasan Emosional
 Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mendeteksi serta mengelola petunjuk-  petunjuk dan informasi emosional.
 Kecerdasan Emosional (emotional intelligence - EI),
terdiri atas lima dimensi :
 Kesadaran-diri – sadar atas apa yang dirasakan.
 Manajemen-diri – kemampuan mengelola emosi dan dorongan-dorongan diri sendiri.
 Motivasi diri – kemampuan bertahan dalam menghadapi kemunduran dan kegagalan.
 Empati - kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
 Keterampilan sosial – kemampuan menangani emosi-emosi orang lain.
 Beberapa penelitian menyatakan  bahwa EI memainkan peran penting  dalam kinerjapekerjaan
 Riset menyimpulkan bahwa dari para  insinyurLucent Technologies yang  dinilai
sebagai bintang, lebih baik  dalam berhubungan denganorang lain  yaitu EI dan bukan IQ
yang  mengkarakteristikkan kinerja tinggi.

Kasus Medukung EI
 Kecerdasan Emosional mempunyai pendukung dan penentangnya. Argumen-argumen yang mendukung, dan menentang keberadaan EI dalam PO.
 Daya Tarik Intuitif. Seseorang yangdapat mendeteksi emosi orang lain, mengendalikan emosi mereka, dan menangani interaksi sosial dengan baik akan mempunyai kaki yang kuat untukberdiri dalam dunia bisnis.


Pengambilan Keputusan
 Para peneliti PO masih terus memperdebatkan peran emosi dan suasana hati negatif dalam pengambilan  keputusan.
 Sebuah artikel menyatakan bahwa orang-orang yang tertekan (mereka yang secara kronis mengalami suasana hati buruk atau emosi-emosi negatif seperti
kesedihan) membuat penilaian-penilaian yang lebih  akurat dibandingkan orang-orang yang tidak  tertekan.
 Tetapi, bukti-bukti terkini menyatakan bahwa orang-orang tertekan membuat keputusan yang lebih  buruk dibandingkan orang-orang yang bahagia.
Emosi positif dapat atkan keterampilan pemecahan masalah serta memahami dan menganalisis informasi baru.
 Orang menggunakan hati mereka dan kepala mereka ketika mengambil keputusan.

Kreativitas
 Menurut sejumlah peneliti, orang-  orang yangberada dalam suasana hati  yang baik
lebih kreatif dibandingkan  orang-orang yang berada dalam  suasana hati yang buruk
 Mereka menghasilkan lebih banyak  ide, dan cenderung dapat  mengidentifikasi
lebihbanyak pilihan  kreatif terhadap masalah.

Sikap Kerja
 Beberapa penelitian menunjukkan  bahwaorang-orang yang mempunyai  hari baik
ditempat kerja cenderung  berada dalam suasana hati yang lebih  baik di rumah
pada malamnya.

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Blog Archive

CB Blogger Lab

JASA SEO CB

jam ayam

CONTOH BLOG

JASA SEO CB

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *